← Beranda

Asghar Saleh Buka Suara! Protes di Laga Kontra Persib Bandung, Asisten Manajer Malut United Diskors 3 Bulan

Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 20 Februari 2026 | 04.41 WIB
DPP Panser Biru bersama Ashgar Saleh, assitant manager Malut United. (Istimewa)

JawaPos.com — Asghar Saleh buka suara usai dijatuhi sanksi larangan beraktivitas selama tiga bulan oleh Komisi Disiplin PSSI. Asisten Manajer Malut United FC itu dihukum setelah melontarkan protes keras dalam laga kontra Persib Bandung.

Sanksi tersebut dijatuhkan setelah Asghar menjalani sidang Komdis PSSI terkait unggahannya di media sosial. Ia dinilai bersalah karena dianggap menghina dan mendiskreditkan perangkat pertandingan serta melanggar prinsip fair play.

Unggahan itu dibuat seusai pertandingan Persib Bandung melawan Malut United. Isinya berisi kritik terhadap keputusan wasit yang dinilai kontroversial, termasuk soal penalti, penggunaan VAR, hingga jalannya pertandingan.

Komdis menilai kritik tersebut melanggar kode disiplin karena dianggap merugikan integritas kompetisi. Putusan itu pun memantik perdebatan publik soal batas kritik dalam sepak bola Indonesia.

Asghar tidak tinggal diam atas hukuman tersebut. Ia menilai proses sidang hanya formalitas sebelum sanksi dijatuhkan.

Dalam unggahan panjangnya di Facebook pribadinya, ia menulis, “Kritik Dibungkam - Para Mafia Menang. Kamis tengah malam waktu Ternate saya menjalani sidang Komisi Disiplin PSSI. Isi surat mereka terkait pertandingan Persib vs Malut United.”

“Sidang kurang lebih 20 menit dan saya sudah tahu arah sidang itu karena selama ini - Komdis hanya pura pura bersidang agar punya dasar menjatuhkan hukuman yang sudah disiapkan. Apapun pembelaan anda di sidang itu tidak akan didengar.”

Ia mengaku baru pertama kali menjalani sidang Komdis sejak berkecimpung di sepak bola pada 2003. Pengalaman itu disebutnya sulit dipahami karena banyak hal yang menurutnya tidak berjalan adil.

Asghar kemudian menyinggung kasus lain yang masih segar dalam ingatannya, yakni sanksi kepada Yakob Sayuri. Ia menilai keputusan tersebut dijatuhkan secara sepihak tanpa ruang klarifikasi memadai bagi klub.

“Yang paling saya ingat karena masih segar adalah Komdis secara arogan dan sepihak menjatuhkan hukuman larangan 3 pertandingan tanpa banding kepada Yakob Sayuri.”

“Entah apa dasarnya karena Malut United tidak pernah dimintai penjelasan tentang apa yang terjadi di lorong pemain saat ricuh di stadion Indomilk Arena,” tulisnya.

Ia mengaku berada di lokasi saat insiden tersebut terjadi. Menurutnya, Yakob justru menjadi korban rasis oleh oknum yang menggunakan rompi media.

Asghar menilai area lorong pemain seharusnya steril dari media. Namun dalam kasus itu, hanya Malut United yang menerima hukuman, sementara kasus rasis yang sempat viral tidak mendapat respons tegas.

Kembali ke sidang terbarunya, Asghar mempertanyakan tudingan penghinaan yang dialamatkan kepadanya. Ia menegaskan tidak pernah menyebut jabatan resmi klub saat menulis unggahan tersebut.

“Balik lagi ke kerja Komdis - saya dinyatakan bersalah karena ‘menghina’. Siapa yang saya hina? Para mafia yang saya sebut dalam postingan di akun ini yang kemudian dibagikan oleh banyak media lengkap dengan jabatan saya sebagai Wakil Manager.”

“Saya tegaskan dan boleh dibaca ulang bahwa saya menulis itu tanpa menyebut jabatan saya. Saya menulis sebagai refleksi personal terhadap keburukan wasit dalam pertandingan itu yang disaksikan jutaan orang di televisi,” tegasnya.

Ia juga mempertanyakan dasar tudingan pelanggaran fair play. Menurutnya, ia bukan pemain, pelatih, atau pihak yang terlibat langsung dalam pertandingan.

“Atau saya dituding melanggar FairPlay? Saya bukan pemain atau pelatih atau siapapun yang terlibat secara langsung saat pertandingan berlangsung. Tak ada prinsip FairPlay yang saya langgar selama pertandingan itu.”

“Saya menulis kritik saya secara personal tanpa menyebut posisi sebagai Wakil Manager Malut United. Jadi mengapa harus baper terhadap kritik yang disampaikan?” tulisnya lagi.

Asghar menilai kritik di ruang publik merupakan hal lumrah dalam demokrasi. Ia mencontohkan tokoh negara yang kerap menerima kritik tanpa menyikapinya secara represif.

Ia juga menyinggung adanya nyanyian bernada penghinaan terhadap Malut United sepanjang pertandingan. Hal tersebut menurutnya luput dari perhatian Komdis.

“Kalo secara teknis mungkin tidak paham - tapi dengarkan makian ‘Malut Anjing’ atau ‘Gustafo Anjing’ yang dinyanyikan sepanjang laga. Apa sikap Komdis? Saya menduga anda akan menjawab ‘tidak ada laporan’,” tulisnya.

Asghar mengaku makin yakin ada ketidakadilan dalam proses yang dijalaninya. Ia bahkan menyinggung isu diskriminasi terhadap Indonesia Timur yang menurutnya masih kerap terjadi.

Secara resmi, ia menyatakan pamit sementara dari aktivitas sepak bola yang dikelola federasi selama masa hukuman tiga bulan. Namun dukungannya terhadap Malut United disebut tidak akan pernah berhenti.

“Saya juga akan terus mengkritik segala sesuatu yang tidak benar dalam sepakbola Indonesia karena tujuan saya adalah untuk perbaikan. Kalo kritik dibungkam dengan hukuman dan denda - maka saya akan terus melawan dengan akal sehat,” pungkasnya.

Kasus Asghar Saleh kini menjadi perhatian publik sepak bola nasional. Di tengah sanksi tiga bulan yang dijatuhkan, polemik soal konsistensi penegakan disiplin dan ruang kritik dalam kompetisi kembali mencuat ke permukaan.

EDITOR: Edi Yulianto