JawaPos.com–Setiap tim sepak bola termasuk di Indonesia Super League tentu harus turut mengorbitkan pemain-pemain muda sebagai fondasi klub agar regenerasi bisa berjalan dengan baik. Tak terkecuali dengan Persebaya Surabaya.
Persebaya kerap melahirkan wonderkid atau talenta muda terbaik Tanah Air, seperti Rizky Ridho dan juga Marselino Ferdinan serta Toni Firmansyah. Kini, pada era kepelatihan Bernardo Tavares, prinsip tersebut tetap dipertahankan. Bernardo Tavares dengan terang-terangan menyatakan lebih suka memainkan pemain-pemain muda dari level junior.
”Sebagai pelatih, saya jujur saja lebih suka mengandalkan pemain muda untuk bersinergi dengan pemain senior,” ujar Bernardo Tavares seperti dikutip dari akun YouTube Persebaya.
Seperti dalam beberapa pertandingan terakhir, Bernardo Tavares selalu menyertakan pemain muda di dalam skuadnya. Dia memberi kesempatan bermain bagi mereka meski lebih sering hanya 10-15 menit.
Dia bahkan mau tidak mau harus lebih memforsir para pemain mudanya dalam dua laga terakhir di Super League. Yakni lawan Bali United dan terkini Bhayangkara Presisi FC, karena banyak pemain yang cedera.
”Kita tidak punya banyak opsi pemain di bangku cadangan karena beberapa pemain inti kami cedera, jadi kita terpaksa memainkan mereka di situasi yang berat,” terang Bernardo Tavares.
Persebaya harus melewati jalan terjal saat menghadapi Bhayangkara Presisi, karena tertinggal dua gol di babak pertama dengan kondisi sejumlah pemainnya cedera dan belum fit. Dengan minimnya opsi pemain andalan yang fit, Tavares terpaksa memainkan para pemain muda seperti Dimas Wicaksono dan Alfan Suaib untuk masuk pada menit 81 menggantikan Mihailo Perovic dan Toni Firmansyah.
Laga yang berlangsung sulit itu, membuat Dimas dan Alfan kesulitan untuk memberi kontribusi maksimal dalam membantu Green Force mengejar ketertinggalan gol dari Bhayangkara Presisi. Mengutip Sofascore, keduanya hanya mendapat rating di kisaran angka enam. Alfan Suaib diganjar nilai 6,3 dan Dimas Wicaksono mendapat rating 6,5 tanpa catatan shoot on goal maupun assist.
Tavares mengakui para pemain muda ini cukup kesulitan dengan tekanan mengejar ketertinggalan gol, sehingga ia sangat mengapresiasi penampilan mereka.
”Dengan memainkan banyak pemain muda dalam kondisi tertinggal dua gol tentunya cukup sulit bagi kami. Meski begitu, apresiasi juga saya berikan pada mereka yang telah berkorban dan menguatkan mental bertanding mereka dalam pertarungan yang berat di lapangan,” terang Tavares.
Meski begitu, pemilihan pemain muda untuk diturunkan juga tidak dilakukan secara sembarangan, karena pelatih asal Portugal ini juga mempertimbangkan sejumlah hal.
”Dalam sebuah pertandingan apalagi laga yang berat dengan kondisi tertinggal, saya memainkan para pemain muda dengan penuh pertimbangan juga, antara lain melihat performa mereka di latihan tim,” kata mantan juru taktik PSM Makassar tersebut.
Ketika memutuskan siapa pemain muda yang dipilih untuk bertanding, Dia akan menuntut pemain untuk menampilkan performa terbaik sebagai bagian dari profesionalisme.
”Pemain muda Persebaya yang saya mainkan ini terikat kontrak secara profesional, jadi ketika mereka diplot untuk bermain, mereka harus menampilkan performa terbaik mereka,” tegas Tavares.
Dia meminta para pemain muda dan pemain akademi Persebaya untuk terus berjuang dan bekerja keras. Dengan begitu jalan untuk bermain di tim utama akan lebih terbuka.
”Jadi buat para pemain muda, percayalah pada impianmu. Berjuanglah, dan ketika kamu dapat kesempatan bermain, bekerja keraslah di lapangan,” ujar Tavares.