JawaPos.com — Alasan Riyan Ardiansyah tak jadi debut bersama Persebaya Surabaya usai dibajak dari Malut United akhirnya terkuak. Winger berusia 29 tahun itu ternyata belum berada dalam kondisi fisik ideal sehingga harus menunda penampilan perdananya bersama Green Force.
Persebaya Surabaya memang menutup bursa transfer paruh musim Super League 2025/2026 dengan menambah dua amunisi lokal.
Mereka adalah Riyan Ardiansyah dan Ahmad Mujtaba Akbar yang diproyeksikan memperkuat kedalaman skuad.
Nama Riyan bukan sosok asing di kompetisi kasta tertinggi sepak bola nasional. Ia pernah memperkuat PSIS Semarang dan terakhir berseragam Malut United FC sebelum akhirnya merapat ke Kota Pahlawan.
Kedatangannya sempat memunculkan ekspektasi tinggi dari Bonek. Apalagi Persebaya Surabaya membutuhkan tambahan tenaga di sektor sayap untuk meningkatkan daya dobrak lini serang.
Namun realitas di lapangan berkata lain. Riyan Ardiansyah belum juga menjalani debut bersama Persebaya Surabaya meski sudah resmi diperkenalkan sebagai rekrutan anyar.
Jawabannya terletak pada kondisi kebugaran sang pemain. Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, secara terbuka membeberkan alasan utama di balik belum dimainkannya Riyan.
"Kami juga mendatangkan pemain yang memiliki lebih banyak pengalaman. Namun Rian baru saja melewati masa musim tidak aktif dan tidak bermain untuk Malut, jadi kondisinya stamina belum terlalu baik,” ujar Bernardo Tavares.
“Kami akan berusaha melatihnya. Dan karena kami memiliki banyak pemain muda, sangat baik bahwa kami mendatangkan pemain dengan beberapa pengalaman yang bisa bermain di lebih dari satu posisi.”
Pernyataan itu memperjelas situasi sebenarnya. Riyan baru saja melewati periode tidak aktif sehingga stamina dan level kebugarannya belum sesuai standar kompetisi.
Situasi tersebut membuat tim pelatih tidak ingin mengambil risiko. Mereka memilih mempersiapkan Riyan Ardiansyah secara bertahap agar bisa tampil maksimal saat benar-benar siap.
Langkah itu juga sejalan dengan kebutuhan jangka panjang tim. Persebaya Surabaya tak hanya butuh pemain pelapis, tetapi sosok berpengalaman yang mampu memberi dampak langsung.
Secara rekam jejak, kualitas Riyan Ardiansyah memang tak perlu diragukan. Bersama PSIS Semarang, ia mencatat 119 pertandingan dengan torehan 12 gol dan 6 assist.
Tak hanya itu, ia juga mencatat 6.144 menit bermain selama memperkuat PSIS. Catatan tersebut menunjukkan konsistensi serta kepercayaan yang pernah diberikan kepadanya.
Dari sisi disiplin, Riyan mengoleksi 17 kartu kuning, satu kartu kuning kedua, dan satu kartu merah saat membela PSIS. Statistik itu menggambarkan karakter bermainnya yang agresif namun tetap kompetitif.
Sementara bersama Malut United FC, ia hanya mencatat lima pertandingan dengan total 61 menit bermain. Minimnya jam terbang di klub terakhir inilah yang berdampak langsung pada kondisi fisiknya saat ini.
Tak heran jika adaptasi menjadi tantangan awal bagi Riyan Ardiansyah di Persebaya Surabaya. Ia tak hanya harus menyesuaikan diri dengan taktik Bernardo Tavares, tetapi juga mengejar ketertinggalan stamina.
Bernardo Tavares menegaskan proses pemulihan kondisi fisik menjadi prioritas. Tim pelatih akan menggenjot latihan agar sang winger bisa segera mencapai performa terbaiknya.
Di sisi lain, kehadiran Riyan tetap dinilai penting untuk komposisi skuad. Pengalaman bermain di level tertinggi membuatnya bisa menjadi panutan bagi para pemain muda Persebaya Surabaya.
Apalagi Persebaya Surabaya musim ini banyak dihuni talenta muda. Kombinasi energi muda dan pengalaman senior menjadi formula yang coba diramu Bernardo Tavares.
Riyan juga dikenal sebagai pemain yang mampu bermain di lebih dari satu posisi. Fleksibilitas tersebut memberi opsi tambahan bagi pelatih dalam meracik strategi.
Dengan persaingan ketat di Super League 2025/2026, setiap detail persiapan menjadi krusial. Persebaya Surabaya tak ingin terburu-buru menurunkan pemain yang belum sepenuhnya siap secara fisik.
Keputusan menunda debut Riyan Ardiansyah bukan tanpa alasan. Tim pelatih ingin memastikan ia berada di level kebugaran optimal sebelum benar-benar dilepas ke lapangan.
Bagi Riyan sendiri, situasi ini menjadi tantangan sekaligus motivasi. Ia memiliki kesempatan membuktikan diri setelah minim kontribusi di Malut United.
Publik Surabaya tentu menantikan momen debutnya. Sosok berpengalaman seperti Riyan diharapkan mampu menjadi solusi di lini serang yang membutuhkan variasi serangan.
Kini semuanya bergantung pada proses latihan yang sedang dijalani. Jika kondisi fisiknya sudah kembali prima, bukan tak mungkin Riyan Ardiansyah segera mencatatkan debut bersama Persebaya Surabaya.
Untuk sementara, alasan di balik belum turunnya Riyan Ardiansyah sudah jelas. Stamina yang belum maksimal menjadi faktor utama, bukan persoalan teknis atau nonteknis lain.
Persebaya Surabaya memilih bersabar demi hasil terbaik. Dan saat waktunya tiba, Riyan Ardiansyah diharapkan hadir sebagai amunisi matang, bukan sekadar rekrutan baru hasil bajakan dari Malut United.