JawaPos.com — Paul Munster kecewa berat jelang hadapi Persebaya Surabaya setelah Bhayangkara Presisi Lampung FC gagal mempertahankan keunggulan dan kalah dramatis dari Borneo FC Samarinda. Kekalahan itu terasa menyakitkan karena Bhayangkara FC sempat unggul lebih dulu sebelum akhirnya terkena comeback di kandang sendiri.
Laga Bhayangkara FC kontra Borneo FC berlangsung di Stadion PKOR Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, Sabtu (7/2/2026).
Pertandingan tersebut menjadi sorotan karena memperlihatkan perubahan permainan yang drastis antara babak pertama dan kedua.
Pada babak pertama, Bhayangkara FC tampil solid dan mampu mengontrol jalannya laga. Usaha mereka terbayar melalui gol Privat Mbarga pada menit ke-45+4 yang membuat tuan rumah unggul 1-0.
Gol tersebut sempat memberi harapan besar bagi Bhayangkara FC untuk mengamankan tiga poin. Atmosfer stadion pun berubah optimistis menyambut babak kedua.
Namun situasi berbalik cepat setelah jeda. Borneo FC tampil lebih agresif dan berhasil menyamakan skor pada menit ke-50 melalui gol Komang Teguh.
Gol penyeimbang itu mengubah momentum pertandingan. Bhayangkara FC terlihat kehilangan ritme dan mulai tertekan oleh intensitas permainan tim tamu.
Tekanan berlanjut hingga akhirnya Borneo FC mencetak gol kemenangan. Nul Zikrak menjadi penentu hasil laga lewat golnya pada menit ke-77.
Comeback tersebut membuat Bhayangkara FC harus menelan kekalahan 1-2 di depan pendukung sendiri. Hasil ini menjadi pukulan mental menjelang laga berat berikutnya.
Pelatih Borneo FC Paul Munster tak bisa menyembunyikan kekecewaannya usai pertandingan. Ia menilai timnya sebenarnya memulai laga dengan rencana yang berjalan baik.
“Babak pertama berjalan dengan baik, mampu mencetak gol. Namun di babak kedua permainan menurun, sehingga kami kebobolan,” kata Paul Munster usai laga.
Penurunan performa di babak kedua menjadi catatan utama Munster. Ia merasa kehilangan kontrol permainan membuat timnya memberi ruang terlalu besar bagi lawan.
Kekecewaan Munster bertambah karena banyak peluang yang terbuang sia-sia. Situasi itu membuat hasil akhir terasa semakin menyakitkan.
“Lebih kecewa lagi memiliki banyak peluang, tidak dapat mencetak gol. Kami kecewa dengan hasil ini, unggul 1-0 jadi kekalahan 1-2,” ujar dia menambahkan.
Munster juga menyoroti gol kedua Borneo FC yang menurutnya terjadi terlalu mudah. Ia menilai kesalahan elementer seharusnya bisa dihindari pada level kompetisi ini.
Ekspresi kekecewaan Munster terlihat jelas di pinggir lapangan. Kekalahan tersebut bukan sekadar soal hasil, tetapi juga soal cara tim kehilangan kendali.
Meski begitu, Munster berusaha segera mengalihkan fokus timnya. Ia meminta para pemain tidak larut dalam hasil negatif tersebut.
“Kami akan bangkit, dan fokus untuk laga selanjutnya,” kata Paul Munster.
Kekalahan dari Borneo FC membuat Bhayangkara FC gagal memperbaiki posisi di klasemen. Tim berjuluk The Guardians itu tetap tertahan di peringkat ke-9.
Bhayangkara FC kini mengoleksi 26 poin dari 20 pertandingan di Super League 2025/2026. Posisi tersebut masih rawan jika tren negatif berlanjut.
Ujian berikutnya pun tidak ringan. Bhayangkara FC dijadwalkan bertandang ke markas Persebaya Surabaya pada pekan ke-21.
Laga tersebut akan digelar Sabtu (14/2/2026) pukul 19.00 WIB. Atmosfer Stadion Gelora Bung Tomo dipastikan menjadi tantangan tersendiri.
Pertandingan melawan Persebaya Surabaya memiliki makna emosional bagi Paul Munster. Ia pernah menjadi bagian dari klub kebanggaan Bonek tersebut.
Paul Munster tercatat menangani Persebaya Surabaya pada periode 2023/2024 hingga akhir musim 2024/2025. Pengalaman itu membuat duel mendatang sarat nuansa personal.
Menghadapi mantan klub dalam kondisi tim baru saja kalah tentu bukan situasi ideal. Tekanan publik dan ekspektasi suporter akan semakin besar.
Munster dituntut segera membenahi konsistensi permainan timnya. Transisi dari babak pertama ke babak kedua menjadi pekerjaan rumah utama.
Jika masalah itu tak segera teratasi, Bhayangkara FC berisiko kembali kehilangan poin. Persebaya Surabaya dikenal agresif saat bermain di kandang sendiri.
Kekalahan dari Borneo FC menjadi alarm keras bagi Bhayangkara FC. Setiap kesalahan kecil bisa berujung fatal di laga berikutnya.
Mental pemain juga akan diuji dalam lawatan ke Surabaya. Bangkit dari comeback menyakitkan membutuhkan karakter kuat.
Paul Munster kini berada di persimpangan emosi dan profesionalisme. Ia harus menata ulang fokus demi membawa Bhayangkara FC kembali ke jalur positif.
Laga kontra Persebaya Surabaya bukan sekadar pertandingan biasa. Ini menjadi momentum pembuktian setelah kekecewaan besar akibat comeback Borneo FC.