← Beranda

Tangis Dejan Tumbas Pecah! Kirim Pesan Pamit Mengharukan kepada Bonek dan Persebaya

Moch. Rizky Pratama PutraKamis, 5 Februari 2026 | 17.01 WIB
Dejan Tumbas masuk dalam enam pemain yang dicoret dari skuad Persebaya Surabaya. (Persebaya Surabaya)

JawaPos.com — Air mata Dejan Tumbas tak terbendung saat menyampaikan pesan perpisahan yang penuh emosi kepada Bonek dan keluarga besar Persebaya Surabaya. Kepergian striker asal Serbia itu meninggalkan cerita haru yang kuat, bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga tentang rasa memiliki.

Setelah satu musim membela Persebaya Surabaya, Dejan Tumbas akhirnya harus mengucapkan salam perpisahan yang terasa begitu berat.

Kata-kata yang ia tulis mencerminkan ikatan emosional yang terbangun selama satu tahun penuh bersama klub Kota Pahlawan.

“Selama satu tahun yang tak terlupakan, saya mendapat kehormatan mengenakan jersey Persebaya,” tulis Dejan Tumbas dengan nada penuh kebanggaan.

Ia menyebut periode itu sebagai masa yang sarat semangat, pengorbanan, dan kenangan berharga.

“Satu tahun yang penuh dengan semangat, pengorbanan, perjuangan, dan kenangan yang akan selalu saya ingat,” lanjutnya dalam pesan tersebut.

Ungkapan itu menunjukkan betapa besar arti Persebaya Surabaya dalam perjalanan kariernya.

Dejan Tumbas mengaku tidak pernah membayangkan perpisahan akan datang begitu cepat. Namun, ia percaya setiap kejadian selalu membawa alasan dan makna tersendiri.

“Saya tidak pernah menyangka perpisahan kami akan datang secepat ini, tetapi saya percaya semuanya terjadi karena suatu alasan,” tulisnya.

Kalimat itu menggambarkan penerimaan sekaligus kedewasaan dalam menghadapi keputusan klub.

Sejak pertama kali datang, Persebaya Surabaya langsung memberi kesan mendalam bagi Dejan Tumbas. Klub ini tidak sekadar tempat bekerja, tetapi terasa seperti rumah kedua.

“Sejak hari pertama, klub ini terasa seperti rumah,” tulisnya dengan jujur. Suasana internal tim menjadi faktor penting yang membuatnya cepat beradaptasi.

Ia menyebut orang-orang di sekitarnya sebagai keluarga, bukan hanya rekan kerja. Ruang ganti, staf, dan pemain lain meninggalkan kesan personal yang sulit dilupakan.

“Orang-orang, ruang ganti, staf, dan rekan-rekan setim saya menjadi lebih dari sekadar kolega — mereka menjadi keluarga,” tulis Dejan Tumbas. Ikatan itu menjadi salah satu alasan perpisahan terasa begitu emosional.

Surabaya juga memiliki tempat khusus di hatinya. Kota Pahlawan memberi kehangatan dan kekuatan yang membekas sepanjang hidupnya.

“City of Heroes memberi saya kehangatan, kekuatan, dan kenangan yang akan saya bawa sepanjang hidup saya,” lanjutnya. Ungkapan itu menjadi simbol kedekatannya dengan kota dan suporternya.

Bagi Dejan Tumbas, Bonek dan Bonita memiliki peran besar selama ia berseragam hijau. Dukungan tanpa henti dari tribun menjadi energi tambahan di lapangan.

“Bonek dan Bonita, kalian memiliki tempat yang sangat istimewa di hati saya,” tulisnya penuh rasa hormat. Ia mengakui dukungan suporter sangat memengaruhi performanya.

Suara lantang dan cinta dari tribun mendorongnya untuk selalu berjuang. Setiap bola diperebutkan dengan sepenuh hati demi membalas kepercayaan tersebut.

“Cinta kalian, suara kalian, dan dukungan kalian yang tak ada habisnya mendorong saya untuk berjuang memperebutkan setiap bola,” tulis Dejan. Kalimat itu menegaskan relasi emosional pemain dan suporter.

Ucapan terima kasih disampaikannya berulang kali dengan tulus. Ia merasa kepercayaan dan dukungan yang diberikan sangat berarti.

“Terima kasih telah percaya pada saya. Terima kasih telah mendukung saya,” tulisnya. Baginya, perjalanan bersama Persebaya Surabaya menjadi pengalaman yang istimewa.

Ia menutup pesannya dengan rasa hormat dan kebanggaan. Persebaya Surabaya akan selalu menjadi bagian dari dirinya, meski perjalanan harus berlanjut.

“Saya pergi dengan penuh rasa hormat, terima kasih, dan kebanggaan,” tulis Dejan Tumbas. Ia menegaskan ikatan emosional itu tidak akan terputus oleh jarak.

“Persebaya akan selalu menjadi bagian dari diri saya. Sampai jumpa lagi,” tulisnya menutup pesan haru tersebut. Kalimat penutup itu terasa seperti janji, bukan sekadar perpisahan.

Kepergian Dejan Tumbas dari Persebaya Surabaya terjadi pada putaran kedua Super League 2025/2026. Ia resmi melanjutkan karier bersama Persis Solo setelah dilepas klub.

Pengumuman kepindahan itu disampaikan akun @transfernews__ft. Persis Solo mencapai kesepakatan untuk mendatangkan striker asing asal Serbia berusia 26 tahun tersebut.

“DONE DEAL,” tulis akun tersebut dalam unggahan singkat. Dejan Tumbas disebut sebagai pemain yang fleksibel di berbagai posisi.

Selain sebagai penyerang depan-tengah, ia juga bisa bermain di sayap kanan dan bek kiri. Fleksibilitas itu menjadi nilai tambah bagi Persis Solo.

Dejan Tumbas lahir di Krivaja, Yugoslavia, pada 5 Agustus 1999. Ia memiliki tinggi badan 1,87 meter dengan kaki dominan kanan.

Selama membela Persebaya Surabaya, ia mencatatkan 30 pertandingan. Kontribusinya meliputi dua assist dengan total menit bermain 2.436 menit.

Catatan disiplin juga mewarnai perjalanannya. Ia mengoleksi enam kartu kuning dan satu kartu merah sepanjang musim.

Nilai pasar Dejan Tumbas saat ini berada di kisaran Rp3,48 miliar. Angka itu mencerminkan kualitas dan pengalaman yang ia miliki.

Meski kini berseragam Persis Solo, kenangan bersama Persebaya Surabaya akan selalu hidup. Air Mata Dejan Tumbas pecah bukan karena kegagalan, melainkan karena cinta yang tulus pada klub dan suporternya.

EDITOR: Banu Adikara