JawaPos.com–Bruno Paraiba dan Gustavo Fernandes diragukan tampil saat Persebaya Surabaya menghadapi Bali United FC, sebuah situasi yang membuat Green Force berada dalam kondisi krisis jelang laga berat di Pulau Dewata.
Minimnya pilihan pemain inti menempatkan Persebaya Surabaya pada posisi sulit ketika harus bertandang ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Sabtu (7/2). Kondisi ini terasa makin berat karena Persebaya Surabaya tidak memiliki waktu pemulihan ideal seperti yang didapatkan Bali United.
Tim tuan rumah menikmati dua hari tambahan untuk mempersiapkan diri, faktor yang berpotensi menjadi pembeda dalam duel krusial Super League 2025/2026 tersebut. Pelatih Persebaya Surabaya Bernardo Tavares tidak menutup mata terhadap situasi yang dihadapi timnya. Dia secara terbuka mengakui keterbatasan waktu pemulihan dan dampaknya terhadap kesiapan fisik para pemain.
”Mereka (Bali United) memiliki dua hari lebih banyak dari kami untuk mempersiapkan pertandingan dan memulihkan diri. (Karena itu) saat ini fokus kami adalah melihat siapa yang bisa bermain dan siapa yang tidak,” ujar Bernardo Tavares.
Masalah Persebaya Surabaya tidak berhenti pada jadwal yang padat. Kondisi kebugaran pemain menjadi tanda tanya besar karena banyaknya pemain yang harus menepi akibat cedera dan akumulasi kartu.
Setidaknya dua pemain Persebaya Surabaya dipastikan absen pada laga ini. Dua di antaranya harus menepi karena sanksi larangan bermain, sementara dua lainnya masih bergelut dengan pemulihan cedera.
Bruno Moreira dan Milos Raickovic tidak bisa diturunkan karena akumulasi kartu. Kehilangan dua pemain penting di lini permainan membuat keseimbangan tim terganggu sejak awal.
Situasi semakin pelik karena Bruno Paraiba dan Gustavo Fernandes belum berada dalam kondisi ideal untuk bermain. Keduanya masih menjalani proses pemulihan cedera dan peluang tampil hingga menit akhir pertandingan masih diragukan.
Absennya sejumlah nama inti memaksa Tavares memutar otak untuk menyusun komposisi terbaik. Kedalaman skuad Persebaya Surabaya akan diuji secara nyata dalam atmosfer tekanan di kandang lawan.
Meski dihantam krisis, Tavares menegaskan Persebaya Surabaya tidak datang ke Bali untuk menyerah. Dia menilai laga ini tetap bisa dimenangkan dengan fokus penuh dan disiplin tinggi sepanjang pertandingan.
”Kami tahu pertandingan di sana akan sangat sulit. Bali United punya tim yang bagus dan mereka pasti akan bermain keras. Kami harus fokus dari menit pertama sampai akhir jika ingin mendapatkan hasil,” tegas Bernardo Tavares.
Bali United sendiri datang dengan motivasi tinggi setelah menelan kekalahan dari Persik Kediri. Situasi tersebut berpotensi memicu respons agresif dari Serdadu Tridatu di hadapan pendukungnya sendiri.
Tavares memahami betul ancaman yang dimiliki Bali United, terutama saat bermain di kandang. Tekanan suporter dan karakter permainan cepat tuan rumah menjadi tantangan tersendiri bagi Persebaya Surabaya.
Namun, pelatih asal Portugal itu melihat sisi lain dari krisis yang melanda timnya. Absennya pemain inti justru membuka peluang bagi pemain lain untuk menunjukkan kapasitas dan mental bertanding.
Dia menilai momen seperti ini penting untuk mengukur kedalaman skuad Persebaya Surabaya. Pemain pelapis dituntut tampil berani dan disiplin untuk menjaga stabilitas permainan tim.
Dalam kondisi serba terbatas, strategi dan manajemen energi akan menjadi kunci utama. Persebaya Surabaya harus cermat mengatur tempo agar tidak terkuras sebelum laga memasuki fase krusial.
Setiap detail kecil akan berpengaruh besar pada hasil akhir pertandingan. Kesalahan sederhana bisa berujung fatal ketika menghadapi tim sekelas Bali United di kandangnya sendiri.
Laga ini tidak hanya soal tiga poin, tetapi juga soal ketahanan mental Persebaya Surabaya di tengah badai cedera dan sanksi. Cara Green Force bertahan dan merespons tekanan akan menjadi cerminan karakter tim musim ini.
Dengan segala keterbatasan yang ada, Persebaya Surabaya tetap membawa ambisi pulang dengan hasil positif. Krisis pemain memang nyata, tetapi semangat juang dan kolektivitas diharapkan menjadi jawaban atas tantangan besar di Pulau Dewata.