JawaPos.com — Cerita Gus Iqdam nonton Persebaya Surabaya mendadak jadi perbincangan hangat di kalangan Bonek dan netizen. Sosok pendakwah muda itu mengaku merasakan pengalaman emosional yang tak terlupakan saat pertama kali menyaksikan langsung laga Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT).
Momen itu terjadi saat Persebaya Surabaya menjamu Dewa United pada pekan ke-19 Super League 2025/2026. Laga berakhir imbang 1-1, hasil yang membuat Green Force harus puas berbagi angka di kandang sendiri.
Hingga peluit panjang dibunyikan wasit, skor tidak berubah dan tak ada gol tambahan tercipta. Persebaya Surabaya mengamankan satu poin penting dan naik ke posisi lima klasemen sementara dengan raihan 32 poin.
Namun, sorotan utama bukan hanya soal hasil pertandingan di atas lapangan. Dari sisi tribun penonton, cerita Gus Iqdam justru mencuri perhatian karena sarat emosi dan nuansa human interest.
Pengalaman itu dibagikan Gus Iqdam dalam sebuah video yang di unggah di kanal youtube resminya yaitu Gus Iqdam Official pada menit ke 1:21:47.
Dalam video tersebut, ia menceritakan kesan pertamanya menginjakkan kaki di GBT dan merasakan atmosfer tribun secara langsung.
“Pisan kuwi aku, pengalaman hidup iki. Pertama kali saya nonton di GBT... Di GBT, Masyaallah. Poh wayah nyanyi opo kuwi... Song opo?,” ungkap Gus Iqdam, yang kemudian dijawab oleh jamaahnya: Song For Pride.
Mendengar jawaban itu, Gus Iqdam langsung mengaitkan momen tersebut dengan perasaan yang muncul di dadanya. “Nah, wayah nyanyi Song For Pride kuwi wis... poh terenyuh panjenengan,” lanjutnya dengan nada penuh rasa.
Ia mengaku sebelumnya sempat mendengar cerita dari warga Surabaya terkait lagu kebanggaan Bonek tersebut. Cerita itu awalnya terdengar seperti lelucon baginya.
“Aku mbiyen dikabari wong Suroboyo, enek jemaah mriki nggian... Pak Haji Malik ki jarene nek wayah nangise iki wayah nyanyi Song For Pride karo Mahalul Qiyam,” ucap Gus Iqdam mengenang cerita yang pernah ia dengar.
Saat itu, Gus Iqdam mengaku justru tertawa dan sulit mempercayainya. “Kuwi aku ngguyu aku dicritani. 'Kok iso? Nyapo iso nangis?'” katanya, mengungkapkan keheranannya di masa lalu.
Semua keraguan itu runtuh saat ia benar-benar berada di tribun GBT dan merasakan langsung atmosfernya. Ia menyadari sendiri mengapa banyak orang bisa menitikkan air mata saat Song For Pride dikumandangkan.
“Lha tibakno aku ndek wingi mari ngelokne ngono kuwi, mari ngerasani ngono kuwi, nyapo nangis... wayah nyanyi ngono kui tenan, krana kabeh iki kompak,” tutur Gus Iqdam dengan jujur.
Kekompakan ribuan Bonek yang bernyanyi serempak membuat suasana stadion berubah menjadi sangat emosional. Gus Iqdam menyebut momen itu sebagai berkah dari kerukunan yang nyata terasa.
“Yo iki barokahe kerukunan ki ngoten niku lho. Moro-moro terenyuh, mripatku iki koco-koco,” ucapnya menggambarkan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Ia terkesan melihat seluruh tribun bernyanyi penuh semangat tanpa sekat. “Wong nyanyi kabeh semangat, Masyaallah,” lanjut Gus Iqdam dengan nada takjub.
Menurutnya, pengalaman menonton langsung di tribun sangat berbeda dibandingkan menyaksikan pertandingan lewat layar televisi. Sensasi emosi yang hadir terasa jauh lebih kuat dan hidup.
“Tapi tenan lho, ternyata ndelok bal-balan kuwi ning tribun langsung Pak Komandan, dengan lihat live di TV beda,” ujarnya menegaskan perbedaan tersebut.
Gus Iqdam juga menekankan laga tersebut menjadi pengalaman pertamanya berada di tribun stadion. “Itu pertama kali saya di tribun tadi malam,” katanya dengan penuh kesan.
Di akhir ceritanya, Gus Iqdam menyampaikan pesan reflektif tentang para suporter. Ia menilai luapan emosi di tribun adalah sesuatu yang manusiawi dan patut dipahami.
“Di tribun... poh terenyuh Pak. Terenyuh tenan, pancen awake dhewe ra oleh lho maido wong-wong sing bengok-bengok ning tribun,” tuturnya.
Baginya, teriakan dan nyanyian suporter bukan sekadar euforia kosong. “Emosine pancen meluap-luap tenan,” ucap Gus Iqdam menutup ceritanya dengan penuh empati.
Cerita Gus Iqdam nonton Persebaya Surabaya ini memperlihatkan sisi lain sepak bola. Bukan hanya tentang skor dan klasemen, tetapi juga tentang kebersamaan, emosi, dan rasa memiliki yang tumbuh di tribun stadion.