← Beranda

Sindiran Keras Bernardo Tavares Soal Lambatnya Aliran Bola Persebaya

Moch. Rizky Pratama PutraSenin, 2 Februari 2026 | 12.50 WIB
Bernardo Tavares siapkan kejutan untuk Dewa United di Stadion Gelora Bung Tomo. (Persebaya)

 

JawaPos.com-Lambatnya aliran bola Persebaya Surabaya menjadi sorotan utama pelatih Bernardo Tavares usai timnya gagal mengalahkan Dewa United pada pekan ke-19 Super League 2025/2026. Bermain di Stadion Gelora Bung Tomo, Minggu malam, Persebaya Surabaya harus puas berbagi poin setelah laga berakhir imbang 1-1.

Bernardo Tavares tak menutupi kekecewaannya karena Persebaya Surabaya kehilangan peluang emas untuk menang di kandang sendiri.

Keunggulan jumlah pemain sejak awal babak kedua tak mampu dimaksimalkan menjadi kemenangan penuh.

“Kami hanya meraih satu poin dan kehilangan dua poin di rumah. Ini artinya kami harus bekerja lebih keras lagi,” kata Tavares, Minggu (1/2/2026).

Pelatih asal Portugal itu menilai hasil imbang ini terasa sangat merugikan bagi timnya. Persebaya Surabaya tampil dominan secara penguasaan bola, tetapi gagal efektif saat memasuki area pertahanan lawan.

Menurut Tavares, kunci kegagalan Persebaya Surabaya terletak pada lambatnya sirkulasi bola di babak kedua.

Situasi tersebut memberi keuntungan besar bagi Dewa United yang memilih bermain lebih bertahan setelah kehilangan satu pemain.

“Meski unggul jumlah pemain, kami tidak cukup pintar memindahkan bola dengan cepat. Sekarang kita bisa mengirim email lebih cepat, tetapi pemain justru berlari membawa bola seperti tukang pos,” ujarnya.

Sindiran tersebut menggambarkan frustrasi Tavares melihat tempo permainan yang menurun drastis. Bola terlalu lama dikuasai individu sehingga ritme serangan mudah terbaca lawan.

Akibat aliran bola yang lambat, lini belakang Dewa United punya cukup waktu menutup ruang dan mematahkan serangan. Celah yang sempat muncul di babak pertama tak lagi terlihat di paruh kedua pertandingan.

“Saya lebih suka saat babak pertama. Berbeda dengan permainan babak pertama yang lebih dinamis melalui operan cepat dan pergerakan overlap,” tuturnya.

Pada babak pertama, Persebaya Surabaya memang tampil lebih agresif dengan kombinasi umpan pendek dan pergerakan tanpa bola. Intensitas tersebut membuat pertahanan Dewa United beberapa kali terlihat goyah.

Memasuki babak kedua, Bernardo Tavares langsung melakukan perubahan strategi. Rachmat Irianto dan Pedro Matos dimasukkan untuk menambah daya gedor, menggantikan Milos Raickovic dan Toni Firmansyah.

Pergantian tersebut diharapkan memberi energi baru di lini tengah dan lini serang. Persebaya Surabaya mencoba meningkatkan tekanan sejak menit awal babak kedua.

Dalam 15 menit pertama, gelombang serangan terus dilancarkan ke area pertahanan Dewa United. Namun, belum ada ancaman serius yang benar-benar menguji kiper Sonny Stevens.

Persebaya Surabaya terlihat dominan dalam penguasaan bola, tetapi kesulitan menciptakan peluang bersih. Pertahanan solid Dewa United membuat setiap serangan mudah dipatahkan sebelum masuk kotak penalti.

Tempo permainan Persebaya Surabaya perlahan menurun seiring berjalannya waktu. Aliran bola kembali melambat dan terlalu sering berhenti di kaki pemain.

Melihat situasi tersebut, Tavares kembali melakukan pergantian pemain pada menit ke-77. Koko Ari dan Mihailo Perovic masuk menggantikan Gali Freitas dan Catur Pamungkas.

Masuknya Perovic memberi harapan baru bagi publik Gelora Bung Tomo. Persebaya Surabaya mencoba memaksimalkan bola-bola udara dan situasi bola mati di menit-menit akhir.

Peluang emas sempat hadir pada menit ke-90 saat Mihailo Perovic menanduk bola ke gawang Dewa United. Stadion sempat bergemuruh sebelum wasit Nendi Rohaendy menganulir gol tersebut.

Gol dianulir karena adanya pelanggaran yang terjadi lebih dulu. Keputusan itu memupus harapan Persebaya Surabaya untuk meraih tiga poin di kandang sendiri.

Hingga peluit panjang dibunyikan, skor tak berubah 1-1. Persebaya Surabaya harus menerima kenyataan hanya mengamankan satu poin dari laga yang diharapkan berakhir kemenangan.

Hasil imbang ini membuat Persebaya Surabaya naik ke posisi lima klasemen sementara Super League 2025/2026. Tim berjuluk Green Force kini mengoleksi 32 poin dari 19 pertandingan.

Meski naik peringkat, Tavares menegaskan evaluasi besar harus segera dilakukan. Ia menilai kecepatan berpikir dan eksekusi pemain menjadi pekerjaan rumah utama.

Lambatnya aliran bola Persebaya Surabaya menjadi alarm serius di tengah persaingan ketat Super League musim ini.

Jika masalah tersebut tak segera dibenahi, keunggulan situasional seperti jumlah pemain berpotensi kembali terbuang sia-sia.

Bernardo Tavares berharap para pemain bisa belajar dari laga ini. Ia ingin Persebaya Surabaya kembali tampil dinamis, agresif, dan efisien seperti yang ditunjukkan pada babak pertama. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan