← Beranda

Peringatan Buat Bernardo Tavares di Persebaya Surabaya: Francisco Rivera Masuk 5 Besar Pengoleksi Kartu Merah!

Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 16 Januari 2026 | 15.31 WIB
Francisco Rivera sudah koleksi 2 kartu merah bersama Persebaya Surabaya. (Persebaya Surabaya)

JawaPos.com — Francisco Rivera masuk lima besar pengoleksi kartu merah di putaran pertama Super League 2025/2026. Catatan ini menjadi pekerjaan rumah serius bagi pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, di tengah kontribusi besar sang playmaker.

Rivera menutup putaran pertama bersama Persebaya Surabaya dengan performa yang terbilang impresif. Dari 13 pertandingan, pemain asal Amerika Latin itu menyumbang 4 gol dan 5 assist untuk Green Force.

Produktivitas tersebut menempatkan Rivera sebagai motor serangan utama Persebaya Surabaya musim ini. Perannya di lini tengah membuat alur permainan tim lebih hidup dan variatif.

Namun di balik kontribusi ofensif tersebut, Rivera juga meninggalkan catatan disiplin yang mengkhawatirkan. Ia mengoleksi dua kartu merah di putaran pertama dan masuk daftar lima besar pemain dengan kartu merah terbanyak.

Rivera sejajar dengan Julian Guevara dari Arema FC, Sho Yamamoto dari Persis Solo, dan Luciano Guaycochea dari Persib Bandung yang sama-sama mengoleksi dua kartu merah.

Nama Yann Motta dari Arema FC menyusul dengan satu kartu merah dari lima laga.

Catatan disiplin Rivera terasa kontras jika dibandingkan dengan kontribusi teknisnya di lapangan. Dari 1.150 menit bermain, ia mencatatkan expected goals 4,69 dan total 20 percobaan tembakan.

Akurasi tembakannya mencapai 35 persen dengan tujuh tembakan tepat sasaran. Statistik ini memperlihatkan efektivitas Rivera dalam memanfaatkan peluang di area lawan.

Dalam aspek kreativitas, Rivera menjadi pemain paling berpengaruh di Persebaya Surabaya. Ia membukukan 23 umpan kunci dan lima assist sepanjang putaran pertama.

Distribusi bolanya cukup aktif dengan total 418 umpan dan 293 di antaranya sukses. Akurasi umpan 71 persen menjadi cerminan gaya bermain progresif yang ia usung.

Rivera juga cukup agresif dalam duel dan transisi permainan. Ia tercatat melakukan 20 dribel dan 20 umpan terobosan yang menjadi pemecah kebuntuan.

Di sisi bertahan, kontribusinya memang tidak terlalu dominan namun tetap terasa. Rivera mencatatkan 11 intersep, 27 pemulihan bola, dan tujuh sapuan sepanjang putaran pertama.

Masalah muncul ketika agresivitas tersebut kerap berujung pelanggaran. Rivera melakukan 12 pelanggaran dan menerima dua kartu kuning serta dua kartu merah.

Sebaliknya, ia juga menjadi pemain yang paling sering dilanggar lawan. Total 28 kali pelanggaran diterima menunjukkan betapa sentral perannya dalam permainan Persebaya Surabaya.

Dua kartu merah tersebut berdampak langsung pada stabilitas tim. Persebaya Surabaya harus kehilangan sang playmaker di momen-momen krusial pertandingan.

Situasi ini membuat Bernardo Tavares memiliki pekerjaan rumah besar jelang putaran kedua. Ia dituntut menjaga keseimbangan antara agresivitas dan disiplin pemainnya.

Bernardo Tavares mengakui proses adaptasi dan pengenalan skuad masih terus berjalan. Pelatih asal Portugal itu menegaskan analisis mendalam menjadi prioritas utamanya.

“Ketika kita membuat perjanjian (kontrak dengan Persebaya), saya sudah bekerja untuk Persebaya,” ujar Bernardo Tavares. “Mencoba mencari pemain, mencoba melihat karakteristik pemain yang kita miliki di sini.”

Menurutnya, pemahaman karakter pemain menjadi fondasi penting dalam membangun tim kompetitif. Ia ingin memastikan setiap pemain memahami perannya di dalam dan luar lapangan.

“Ini penting bagi saya,” lanjut Bernardo Tavares. Pernyataan tersebut menegaskan pendekatan detail yang ia terapkan di Persebaya Surabaya.

Bernardo juga menyadari persaingan di Super League semakin ketat. Banyak tim memiliki pemain berkualitas dan dukungan suporter yang kuat.

“Kita tahu bahwa ada banyak tim dengan pemain yang bagus, dengan suporter yang bagus juga,” ucapnya. Kondisi ini menuntut Persebaya Surabaya tampil lebih cerdas dan disiplin.

Ia menilai penting bagi tim untuk mengenal kekuatan internal terlebih dahulu. Proses evaluasi tidak hanya menyasar tim utama, tetapi juga akademi dan pemain muda.

“Di saat ini kita harus mengetahui rumah yang kita miliki,” kata Bernardo. “Akademi, pemain muda, tim utama kita.”

Bernardo mengungkapkan sudah menganalisis banyak pertandingan Persebaya Surabaya. Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar pembenahan di putaran kedua.

Masalah kartu menjadi perhatian serius bagi staf pelatih. Sepanjang putaran pertama, Persebaya Surabaya mengoleksi total 30 kartu kuning dan enam kartu merah.

Angka tersebut menunjukkan tingkat agresivitas tim yang cukup tinggi. Tanpa pengendalian emosi dan disiplin, performa apik bisa berubah menjadi bumerang.

Kasus Francisco Rivera menjadi contoh paling nyata. Di satu sisi ia menjadi kreator utama, di sisi lain ia rentan absen karena hukuman kartu.

Putaran kedua akan menjadi ujian kedewasaan bagi Rivera dan Persebaya Surabaya. Bernardo Tavares dituntut mampu memaksimalkan kualitas sang playmaker tanpa kehilangan kendali disiplin tim.

EDITOR: Banu Adikara