JawaPos.com–Minimnya nama striker di daftar lima top skor Persebaya Surabaya menunjukkan perjuangan keras Mihailo Perovic di ketatnya Liga Indonesia. Itu menjadi gambaran menarik perjalanan Green Force sepanjang separuh musim super league 2025/2026.
Produktivitas gol, peran pemain asing, hingga tantangan adaptasi striker anyar jadi cerita yang saling terhubung dalam performa Persebaya Surabaya. Green Force menutup putaran pertama Super League 2025/2026 dengan koleksi 24 gol dari total laga yang dijalani.
Catatan tersebut membuat tim kebanggaan Bonek mencatat rata-rata 1,4 gol per pertandingan, angka yang cukup kompetitif di tengah persaingan super league yang kian ketat. Distribusi gol Persebaya Surabaya tidak sepenuhnya bertumpu pada penyerang murni. Sejumlah gol justru lahir dari pemain non-lini depan, termasuk dari sektor pertahanan yang kerap ikut naik membantu serangan.
Salah satu pemain belakang yang mencuri perhatian adalah Leo Lelis. Bek tengah asal Brasil itu menunjukkan kontribusi nyata dengan mencetak dua gol dari 11 penampilan bersama Persebaya Surabaya musim ini.
Peran Leo Lelis menegaskan skema permainan Persebaya Surabaya memberi ruang bagi bek untuk aktif dalam situasi bola mati maupun open play. Dua gol tersebut cukup untuk menempatkannya sebagai pencetak gol kelima terbanyak Persebaya Surabaya di putaran pertama.
Sementara itu, posisi puncak daftar top skor Persebaya Surabaya masih menjadi milik Bruno Moreira. Winger asal Brasil tersebut tampil konsisten dan produktif dengan torehan tujuh gol yang beberapa di antaranya menjadi penentu kemenangan Green Force.
Bruno Moreira berulang kali menjadi pembeda lewat kecepatan, dribel, dan ketajamannya di kotak penalti. Perannya sangat vital dalam menjaga Persebaya Surabaya tetap bersaing di papan atas klasemen sementara.
Di bawah Bruno Moreira, terdapat dua nama yang sama-sama mengoleksi empat gol. Mereka adalah Gali Freitas dan Francisco Rivera yang sama-sama memberi warna berbeda dalam pola serangan Persebaya Surabaya.
Gali Freitas dikenal dengan pergerakan agresif dan keberaniannya menusuk pertahanan lawan. Sementara Francisco Rivera lebih sering menjadi pengatur tempo yang efektif sekaligus berbahaya saat masuk ke sepertiga akhir lapangan.
Nama yang paling disorot justru datang dari posisi striker utama Mihailo Perovic. Penyerang asal Montenegro itu baru mencetak tiga gol, jumlah yang masih berada di bawah ekspektasi untuk seorang ujung tombak.
Meski begitu, kontribusi Perovic tidak bisa dilihat dari jumlah gol semata. Dia kerap membuka ruang, menarik bek lawan, dan menjadi target man dalam skema serangan Persebaya Surabaya.
Secara statistik, Perovic sudah tampil dalam 16 pertandingan dengan total menit bermain mencapai 1.082 menit. Dari sisi peluang, dia mencatat expected goals sebesar 4,77, yang menunjukkan dia seharusnya bisa mencetak gol lebih banyak.
Total percobaan tembakannya mencapai 17 kali sepanjang putaran pertama. Namun, efektivitas penyelesaian akhir masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
Dalam urusan distribusi bola, Perovic mencatat akurasi umpan sebesar 79 persen. Dia juga menciptakan dua keypass, meski belum mampu menyumbang assist untuk rekan setimnya.
Dari sisi duel fisik, Perovic tercatat melakukan 15 pelanggaran dan delapan kali dilanggar lawan. Catatan disiplin juga cukup menonjol dengan empat kartu kuning dan satu kartu merah.
Perovic secara terbuka mengakui tantangan besar yang dihadapi di Liga Indonesia. Dia menilai kompetisi domestik jauh lebih sulit dibandingkan bayangan sebelum datang ke Surabaya.
”Tidak mudah untuk bermain sepak bola di sini, kualitas Liga Indonesia sangat bagus,” ujar Perovic.
Dia merasa atmosfer kompetisi dan intensitas pertandingan berbeda jauh dari yang diperkirakan sebelumnya. ”Tidak seperti yang kita harapkan ketika datang ke sini,” lanjut Perovic.
Namun, dia tetap menegaskan komitmennya untuk terus berkembang dan memberi yang terbaik bagi tim. ”Tapi, kita perlu mengembangkan lebih banyak, untuk menunjukkan lebih banyak kepada penggemar,” ucap Perovic.
Dia yakin kerja keras dan proses adaptasi akan membuahkan hasil positif. ”Kita tahu apa yang kita lakukan dan kita akan melakukan lebih baik,” tegas striker berusia 28 tahun tersebut. Optimisme itu menjadi modal penting menatap putaran kedua Super League.
Perovic juga menilai persaingan di Liga Indonesia semakin ketat seiring masuknya banyak pemain asing berkualitas. Kehadiran pemain dari Brasil dan Argentina membuat level kompetisi naik signifikan.
Dia melihat pemain Amerika Latin cenderung lebih cepat beradaptasi dengan karakter sepak bola Indonesia. Hal itu menjadi tantangan bagi pemain Eropa seperti dirinya.
Kondisi ini tentu menjadi bahan evaluasi bagi pelatih Bernardo Tavares. Keputusan mempertahankan Perovic atau mendatangkan striker baru akan sangat menentukan arah Persebaya Surabaya di putaran kedua.
Dengan potensi yang masih dimiliki Perovic dan kontribusi kolektif para pencetak gol lainnya, Persebaya Surabaya tetap punya modal kuat. Putaran kedua Super League akan menjadi panggung pembuktian bagi Green Force dan sang striker Montenegro.