JawaPos.com — Tangis Gali Freitas pecah saat Song For Pride menggema di Stadion Gelora Bung Tomo, menjadi momen paling emosional setelah kemenangan Persebaya Surabaya. Air mata itu seolah menegaskan jiwanya sudah terpatri kuat bersama Green Force dan Bonek yang setia berdiri di belakang tim.
Persebaya Surabaya menutup laga terakhir di tahun 2025 dengan kemenangan meyakinkan 4-0 atas Persijap Jepara.
Laga tunda pekan ke-8 Super League 2025/2026 itu menjadi pelepas dahaga setelah lima pertandingan sebelumnya berakhir imbang.
Sejak menit awal hingga peluit panjang dibunyikan wasit Yudi Nurcahya, Persebaya Surabaya tampil dominan dan disiplin.
Tidak ada tambahan gol di akhir laga, namun skor 4-0 sudah cukup menggambarkan superioritas tuan rumah.
Kemenangan telak ini membuat Persebaya Surabaya mengamankan tiga poin penuh di kandang sendiri. Hasil tersebut mengangkat posisi Green Force ke peringkat keenam klasemen sementara dengan koleksi 22 poin.
Di tengah euforia kemenangan, perhatian publik justru tertuju pada sosok Gali Freitas. Pemain baru Persebaya Surabaya musim ini terlihat menangis haru ketika Song For Pride dinyanyikan bersama ribuan Bonek.
Baca Juga: Siap Pecahkan Rekor Transfer Liga Indonesia! Persebaya Surabaya Dikabarkan Minat Jasa Craig Goodwin
Gali Freitas memang hanya bermain sekitar 20 menit pada laga tersebut. Namun kontribusinya terasa nyata dan meninggalkan kesan mendalam, baik di atas lapangan maupun di hati para pendukung.
Secara statistik, penampilan Gali terbilang efektif meski durasi bermain terbatas. Ia mencatat expected goals (xG) 0,12 dari satu percobaan tembakan yang dilepaskan.
Selain itu, Gali Freitas menyumbang satu assist penting. Ia juga menciptakan dua umpan kunci yang membuka peluang bagi lini serang Persebaya Surabaya.
Akurasi umpannya patut diapresiasi. Dari total 14 umpan yang dilepaskan, 12 di antaranya sukses dengan persentase akurasi mencapai 86 persen.
Dalam aspek menyerang, Gali mencatat satu umpan gol, dua umpan kunci, satu tembakan, dan sekali offside. Angka tersebut menunjukkan keberaniannya dalam mengambil risiko untuk membantu tim.
Kontribusinya tidak berhenti saat menyerang. Dalam fase bertahan, pemain tim nasional Timor Leste itu mencatat lima kali pemulihan bola.
Catatan tersebut memperlihatkan etos kerja tinggi dan kedisiplinan Gali Freitas. Ia tidak sekadar menunggu bola, tetapi aktif terlibat dalam permainan tim.
Kehadiran Gali memberi warna baru di lini depan Persebaya Surabaya. Adaptasinya terbilang cepat meski statusnya sebagai pemain anyar.
Momen tangis Gali Freitas menjadi simbol kedekatan emosional dengan klub dan suporter. Lagu Song For Pride seolah menjadi pengikat batin antara pemain, tim, dan Bonek.
Reaksi Bonek pun penuh haru dan kebanggaan. Banyak yang menilai tangisan Gali sebagai tanda kecintaan tulus pada Persebaya Surabaya.
“Atine wes ijo,” ujar salah satu Bonek. Ungkapan sederhana itu menggambarkan keyakinan hati Gali sudah berwarna hijau.
Dukungan lain juga mengalir deras di media sosial. “@galifreitas21 saya selalu senang ketika kamu main Mas Gali,” tulis salah satu Bonek.
Harapan jangka panjang pun mulai disematkan pada pemain tersebut. “@galifreitas21 semoga selalu konsisten dan pensiun di Persebaya,” komentar seorang pendukung.
Nada serupa kembali terdengar dari Bonek lainnya. “@galifreitas21 sampai pensiun di Persebaya,” tulis seorang suporter dengan penuh doa.
Baca Juga: Kabar Terbaru Mohammed Rashid: Liga India Vakum, Peluang Pulang ke Persebaya Surabaya
Ada pula komentar bernuansa candaan namun sarat makna. “Hukumnya wajib pemain ini diperpanjang terus sampai performa menurun karena usia,” ujar seorang Bonek.
Respons tersebut menunjukkan penerimaan penuh publik Surabaya terhadap Gali Freitas. Ia bukan sekadar pemain asing, melainkan sudah dianggap bagian dari keluarga besar Persebaya Surabaya.
Perjalanan Gali bersama Green Force memang masih panjang. Namun progres yang ditunjukkan sejauh ini memberi harapan besar bagi masa depan tim.
Menarik menantikan perkembangan Gali Freitas di bawah komando pelatih baru Bernardo Tavares. Pelatih tersebut dijadwalkan mulai menangani Persebaya Surabaya pada Januari 2026.
Dengan atmosfer tim yang solid dan dukungan penuh Bonek, Gali memiliki ruang ideal untuk berkembang. Tangisnya di Song For Pride bisa menjadi awal kisah panjang penuh loyalitas dan dedikasi di Surabaya.