← Beranda
Tendangan Horor Wahyudi Hamisi ke Bruno Moreira! Mengorek Luka Lama Laga Persebaya Surabaya vs Persijap Jepara
Moch. Rizky Pratama PutraRabu, 24 Desember 2025 | 19.38 WIB
Wahyudi Hamisi ketika melakukan tendangan ke kepala Bruno Moreira yang terkapar kesakitan di lapangan. (Persebaya Surabaya)

JawaPos.com — Tendangan horor Wahyudi Hamisi ke Bruno Moreira kembali menjadi sorotan jelang laga tunda pekan ke-8 Super League 2025/2026 antara Persebaya Surabaya vs Persijap Jepara. Duel ini bukan sekadar perebutan poin, tetapi juga mempertemukan dua nama yang terikat memori kelam di Stadion Gelora Bung Tomo pada Maret 2024 lalu.

Insiden itu masih segar di ingatan publik sepak bola nasional, terutama Bonek yang menyaksikan langsung kekerasan di lapangan.

Wahyudi Hamisi kala itu menendang kepala Bruno Moreira saat laga Persebaya Surabaya vs PSS Sleman berlangsung panas.

Pertandingan Super League 2023/2024 pada Minggu (3/3/2024) tersebut sempat berjalan normal sebelum momen kontroversial terjadi di menit ke-16.

Bruno Moreira terjatuh saat berebut bola, lalu Wahyudi Hamisi justru mengayunkan kaki ke arah belakang kepala pemain Persebaya Surabaya itu.

Wasit dalam laga tersebut hanya memberikan kartu kuning kepada Wahyudi Hamisi, keputusan yang memicu kemarahan publik Surabaya.

Persebaya Surabaya langsung melayangkan surat protes resmi kepada PSSI karena menilai pelanggaran itu sangat berbahaya.

Komite Disiplin PSSI akhirnya turun tangan dan menggelar sidang atas insiden tersebut. Wahyudi Hamisi pun dijatuhi hukuman larangan bermain selama tiga pertandingan dan denda Rp 25 juta.

“Kami sudah menjalani sidang kemarin bersama Komdis PSSI, perangkat pertandingan, saksi, serta Wahyudi Hamisi itu sendiri,” kata Presiden Direktur PT Putra Sleman Sembada, Gusti Randa.

Ia menegaskan PSS telah menyampaikan kronologi versi klub dalam persidangan tersebut.

“Hari ini kami sudah mendapatkan keputusannya dan Hamisi diberikan larangan bertanding sebanyak tiga pertandingan,” ujarnya menambahkan. Sanksi itu merujuk pada Pasal 78 Huruf (b) jo Pasal 49 Ayat 1 Huruf (b) jo Pasal 59 Ayat 1 jo Pasal 141 Kode Disiplin PSSI Tahun 2023.

“Tentu kehilangan Hamisi sangat merugikan tim karena kami hanya punya dia sebagai gelandang bertahan,” ucap Gusti Randa.

Ia menyebut keputusan tersebut diterima sehari sebelum pertandingan sehingga memaksa pelatih mengubah taktik.

Gusti Randa juga berharap Komdis PSSI ke depan bersikap lebih imparsial dalam mengambil keputusan. “Karena kita tahu dari sisi pemberitaan bisa menggiring ke satu pihak dan belum tentu kebenarannya,” tuturnya.

Meski berat, PSS Sleman memilih menerima keputusan tanpa banding. “Kami dari PSS Sleman sangat menerima keputusan yang diberikan oleh Komdis,” kata Gusti Randa.

“Maka dari itu kami tidak akan mengajukan banding dan menghormati keputusan dari Komdis,” lanjutnya. Ia berharap insiden itu menjadi pelajaran terakhir bagi Wahyudi Hamisi.

Waktu berlalu, kompetisi berganti musim, tetapi cerita lama belum sepenuhnya padam. Kini pada musim 2025/2026, Bruno Moreira dan Wahyudi Hamisi kembali berada di lintasan yang sama.

Bedanya, Wahyudi Hamisi tak lagi berseragam PSS Sleman. Gelandang bertahan itu kini membela Persijap Jepara dan akan kembali menginjakkan kaki di Gelora Bung Tomo.

Pertemuan ini langsung memicu reaksi dari Bonek yang mengingatkan Bruno Moreira agar waspada. “No Bruno @brunomoreira99 minggu mene awakmu ketemu Hamisi,” tulis salah satu suporter.

“Betul hati-hati Bruno sama Wahyudi Hamisi. Udah makan korban Robertino Pugliara. ????,” ujar Bonek lainnya. Ada pula yang meminta pemain Persebaya Surabaya memberi peringatan keras kepada Hamisi.

“Nek perlu pemain Persebaya dikei warning kanggo Hamisi,” tulis komentar lain. Suara-suara itu menunjukkan trauma lama belum sepenuhnya sembuh di kalangan pendukung Green Force.

Nama Robertino Pugliara memang selalu muncul setiap membahas kekerasan Wahyudi Hamisi. Pada 13 Oktober 2018, tekel dua kaki Hamisi saat Persebaya melawan Borneo FC membuat Robertino mengalami patah tulang fibula.

Insiden itu terjadi pada menit ke-15 dan memaksa Robertino mengakhiri musim lebih awal. Saat itu usianya sudah 34 tahun dan cedera tersebut menjadi awal dari akhir karier profesionalnya.

Ironisnya, Wahyudi Hamisi kala itu juga hanya menerima kartu kuning. Robertino akhirnya gantung sepatu setelah gagal kembali ke performa terbaik pasca cedera parah tersebut.

Robertino sempat bereaksi atas kekerasan Hamisi dengan memberi emoticon menangis di unggahan resmi Persebaya Surabaya. Ia juga pernah mengunggah ulang momen tekel horor yang mengubah hidupnya.

“Saya harus memberitahu bahwa pertarungan saya telah selesai di musim ini,” tulis Robertino pada 14 Oktober. Ia menyebut tulang fibulanya patah dan membuatnya absen berbulan-bulan.

Kini, Bruno Moreira masih aktif dan menjadi tumpuan Persebaya Surabaya. Dari 13 pertandingan musim ini, Bruno mencatatkan lima gol, satu assist, dan empat kartu kuning dengan menit bermain 1.170.

Sementara itu, Wahyudi Hamisi telah tampil 12 kali bersama Persijap Jepara. Ia mengoleksi empat kartu kuning, satu kartu kuning kedua, dan total menit bermain 1.003.

Pertemuan Persebaya Surabaya vs Persijap Jepara pun tak lagi sekadar laga tunda. Ini menjadi panggung uji kedewasaan, pengendalian emosi, dan kenangan pahit yang kembali mengetuk pintu.

EDITOR: Banu Adikara