JawaPos.com — Di sepanjang 2025, setidaknya ada 7 pelatih tim Super League 2025/2026 yang dipecat di tengah kompetisi. Hal ini adalah bukti kompetitifnya liga nomor wahid di Tanah Air serta menjadi potret kerasnya sepak bola nasional sepanjang satu musim terakhir.
Super League musim 2025/2026 benar-benar menunjukkan wajah kompetisi yang tanpa kompromi, bahkan untuk pelatih dengan reputasi dan prestasi mentereng. Dalam kurun kurang dari setengah musim, tujuh pelatih harus angkat kaki sebelum kontrak mereka berakhir.
Mundur, dipecat, atau 'dikembalikan jabatan', semuanya menggambarkan tekanan luar biasa yang menyelimuti bangku cadangan klub-klub Super League.
Fenomena ini sekaligus menegaskan stabilitas bukan lagi jaminan di kompetisi kasta tertinggi Indonesia.
Hasil pertandingan, posisi klasemen, dan ekspektasi suporter menjadi tiga faktor utama yang menentukan nasib seorang pelatih.
Nama pertama yang mengawali daftar ini adalah Bernardo Tavares, sosok yang identik dengan kebangkitan PSM Makassar.
Baca Juga: Kaleidoskop 2025: Rizky Ridho, Puskas Award, dan Golnya yang Bikin Indonesia Mendunia
Bernardo Tavares
Setelah 3,5 tahun penuh cerita, Bernardo memilih mengakhiri perjalanannya bersama Juku Eja meski kontrak masih berlaku hingga 2026.
Keputusan Bernardo diumumkan langsung melalui akun Instagram pribadinya pada Rabu (1/10/2025).
Ia memposting foto saat membawa piala Super League bersama PSM Makassar hingga momen emosionalnya berteriak dari pinggir lapangan.
Kepergian Bernardo Tavares bukan karena hasil di lapangan semata. Ia memilih lebih dulu mengakhiri kontraknya karena permasalah gaji yang terus berulang dari tim, sebuah isu sensitif yang kerap menghantui klub-klub Tanah Air.
Baca Juga: Kaleidoskop 2025: Liverpool Paling Royal Buang Duit di Bursa Transfer Musim Panas
Eduardo Almeida
Nama kedua yang tersingkir adalah Eduardo Almeida, pelatih yang dikenal sebagai spesialis penyelamat tim zona degradasi. Kali ini, sentuhan magisnya tak bekerja bersama Semen Padang di Super League 2025/2026.
Eduardo Almeida resmi diberhentikan Semen Padang pada Rabu (8/10/2025). Keputusan itu diambil menyusul performa buruk Kabau Sirah yang hanya meraih satu kemenangan dari tujuh pertandingan.
Dari tujuh laga tersebut, Semen Padang mencatat satu hasil imbang dan lima kekalahan. Puncak kekecewaan manajemen terjadi setelah empat kekalahan beruntun yang membuat posisi tim kian terpuruk di papan bawah.
Persis Solo kemudian menyusul dalam daftar klub yang melakukan perubahan di kursi pelatih. Peter de Roo dinonaktifkan setelah gagal membawa Laskar Sambernyawa keluar dari tren negatif.
Pada laga melawan PSIM Yogyakarta, Persis Solo sudah ditangani caretaker Tithan Wulung Suryata pada Sabtu (8/11/2025).
Di bawah Peter de Roo, Persis hanya sekali menang, sisanya imbang dan kalah hingga terjebak di papan bawah klasemen.
Pelatih asal Belanda itu baru diangkat pada 1 Juli 2025 setelah meninggalkan Balestier Khalsa dari Singapura. Kontribusinya dinilai belum sesuai ekspektasi manajemen maupun suporter Persis Solo.
Alfredo Vera
Pergantian juga terjadi di Madura United yang memutuskan memecat Alfredo Vera. Keputusan itu diumumkan manajemen pada Minggu (9/11/2025) di tengah evaluasi performa tim.
Manajer Madura United Umar Wachdin menjelaskan keputusan tersebut tidak sepenuhnya berlabel pemecatan.
“Perlu dipahami bahwa Alfredo selain sebagai seorang head coach, beliau juga mengemban tugas sebagai seorang dirtek,” kata Umar Wachdin.
Dalam evaluasi internal, Madura United sepakat mengembalikan Alfredo Vera ke posisi direktur teknik. “Dalam evaluasi internal yang kami lakukan, kami sepakati Alfredo akan kami kembalikan lagi ke posisi dirtek,” tambahnya.
Secara statistik, performa Alfredo Vera memang belum memuaskan. Dari sembilan pertandingan, Madura United hanya mencatat dua kemenangan, empat imbang, dan empat kekalahan.
Baca Juga: Kaleidoskop 2025: Perjalanan di Luar Prediksi saat Chelsea Juara Piala Dunia Antarklub
Mario Lemos
Persijap Jepara juga tak luput dari gelombang perubahan. Mario Lemos resmi hengkang pada Jumat (21/11/2025) setelah timnya digilas Semen Padang di laga krusial.
Pengumuman perpisahan disampaikan melalui akun Instagram resmi klub. “Persijap Jepara Resmi Mengakhiri Kerja Sama dengan Pelatih Mario Lemos dan Juga Pelatih Fisik Paulo Ramos,” tulis manajemen Persijap.
Manajemen menyebut keputusan diambil secara baik-baik setelah diskusi bersama.
“Terima kasih Coach Mario Lemos atas dedikasi, kerja keras, dan kebersamaan yang telah diberikan untuk Laskar Kalinyamat,” lanjut pernyataan resmi tersebut.
Dipecatnya Mario Lemos tak lepas dari posisi Persijap Jepara yang terjerembap di zona degradasi. Ironisnya, kekalahan terakhir justru datang dari Semen Padang yang berada di dasar klasemen.
Baca Juga: Kaleidoskop 2025: Bicara Sepak Bola Prancis, PSG Adalah Rajanya
Eduardo Perez
Tekanan juga tak terhindarkan di Persebaya Surabaya. Eduardo Perez harus meninggalkan jabatannya usai hasil imbang 1-1 kontra Arema FC pada matchday ke-13.
Pemecatan diumumkan melalui Instagram resmi klub pada Sabtu, 22 November 2025. “Persebaya hari ini (22/11) memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan Coach Eduardo Perez,” tulis akun @officialpersebaya.
Manajemen Persebaya mengapresiasi kinerja Eduardo Perez selama enam bulan terakhir. Mereka juga memastikan sudah mencapai kesepakatan jangka panjang dengan pelatih baru, sambil menunggu urusan legalitas rampung.
Di bawah Eduardo Perez, Persebaya tampil inkonsisten dengan empat kemenangan, empat imbang, dan tiga kekalahan dari 11 laga. Posisi Green Force tertahan di peringkat delapan klasemen Super League 2025/2026.
Baca Juga: Kaleidoskop 2025: Inkonsistensi Gerogoti Asa 4 Wakil Jawa Timur di Super League 2025/2026
Ong Kim Swee
Nama terakhir dalam kaleidoskop ini adalah Ong Kim Swee dari Persik Kediri. Berbeda dengan lainnya, perpisahan Ong Kim Swee terjadi tanpa pemecatan pada Kamis (27/11/2025).
Owner Persik Kediri Arthur Irawan menegaskan keputusan itu hasil kesepakatan bersama. “Coach Ong akan kembali ke Malaysia untuk bekerja sama dengan sepak bola Malaysia dan dekat dengan keluarga,” jelas Arthur.
Padahal secara posisi, Persik Kediri berada di papan tengah klasemen, tepatnya peringkat 11. Persik bahkan baru saja menang melawan Semen Padang pada pekan ke-14 Super League.
Tujuh pelatih yang tumbang ini kemudian digantikan oleh nama-nama baru. PSM Makassar menunjuk Tomas Trucha, Semen Padang memilih Dejan Antonic, dan Persis Solo mempercayakan tim kepada Milomir Seslija.
Madura United mendatangkan Carlos Perreira, sementara Persijap Jepara menunjuk Divaldo Alves.
Persebaya Surabaya secara mengejutkan memilih Bernardo Tavares, sedangkan Persik Kediri menyerahkan tim kepada Marcos Reina.
Dipecatnya 7 pelatih tersebut di tengah kompetisi adalah bukti kompetitifnya Super League 2025/2026 akhirnya menegaskan satu hal penting: Super League bukan sekadar adu kualitas pemain, tetapi juga ujian mental, strategi, dan konsistensi pelatih di bawah tekanan tanpa henti.