← Beranda

Izin Gagal Keluar Lawan Persis Solo! Nasib Persik Kediri Tak Bisa Jamu Tamu di Kandang

Moch. Rizky Pratama PutraSenin, 15 Desember 2025 | 01.58 WIB
Persik Kediri gagal jamu Persis Solo di Stadion Brawijaya. (Persik Kediri)

JawaPos.com — Nasib Persik Kediri kembali menemui jalan terjal setelah izin laga kandang kontra Persis Solo dipastikan gagal keluar. Macan Putih tidak bisa menjamu tamunya di Stadion Brawijaya pada pertandingan yang dijadwalkan berlangsung 27 Desember 2025.

Kondisi ini membuat Persik Kediri lagi-lagi harus mengubur keinginan bermain di hadapan pendukung sendiri. Stadion Brawijaya kembali belum mendapat restu sebagai venue pertandingan resmi.

Keputusan tersebut diambil setelah rapat koordinasi antara panitia pelaksana Persik Kediri dan Polres Kediri Kota. Hasil rakor yang digelar Jumat (12/12/2025) memutuskan laga tidak dapat dilaksanakan di Stadion Brawijaya.

Ketua Panitia Pelaksana Persik Kediri Tri Widodo membenarkan hasil keputusan tersebut. “Hasil rakor bersama Polres Kediri Kota memutuskan pertandingan tidak bisa digelar di Stadion Brawijaya,” ujarnya dikutip dari Radar Kediri.

Widodo menjelaskan faktor utama kegagalan izin berkaitan dengan aspek keamanan. Potensi kehadiran suporter tamu Persis Solo dinilai cukup tinggi dan berisiko.

Selain itu, hasil penilaian keamanan stadion juga belum memuaskan. “Nilai assessment-nya juga rendah,” kata Widodo menegaskan.

Larangan bermain di kandang sendiri bukan hal baru bagi Persik Kediri musim ini. Sebelumnya, Macan Putih juga mengalami situasi serupa saat menghadapi Persebaya Surabaya.

Pada laga tersebut, Persik Kediri terpaksa meninggalkan Kediri demi tetap bisa menggelar pertandingan. Kepolisian kala itu belum bisa mengeluarkan rekomendasi izin akibat hasil re-risk assessment yang rendah.

Situasi tersebut memaksa panpel mencari stadion alternatif. Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, akhirnya dipilih sebagai venue pertandingan.

Pengalaman tersebut membuka kemungkinan penggunaan stadion yang sama kembali terulang. Tidak menutup peluang Persik Kediri kembali berkandang sementara di luar kota.

Namun hingga kini, panpel belum mengumumkan venue pengganti secara resmi. Widodo menyebut keputusan sepenuhnya berada di tangan manajemen klub.

“Masih menunggu arahan dari owner,” ujar Widodo singkat. Panpel belum bisa melangkah sebelum ada keputusan final dari pihak pemilik klub.

Ketidakpastian lokasi pertandingan tentu berdampak pada persiapan tim. Persik Kediri harus bersiap menghadapi laga kandang dengan nuansa tandang.

Padahal, bermain di Stadion Brawijaya memiliki nilai penting bagi tim dan suporter. Dukungan langsung dari tribun sering menjadi kekuatan tambahan bagi Macan Putih.

Meski begitu, Persik Kediri sempat merasakan kembali bermain di kandang pada laga tertentu. Saat menjamu Semen Padang FC pada 27 November, izin pertandingan berhasil diperoleh.

Polres Kediri Kota memberikan rekomendasi karena potensi kehadiran suporter tamu dinilai kecil. Faktor tersebut membuat pengamanan pertandingan masih dianggap terkendali.

Kondisi itu menunjukkan kebijakan izin sangat bergantung pada karakter lawan. Setiap pertandingan memiliki tingkat risiko berbeda yang harus dipertimbangkan.

Jika potensi suporter tamu besar, penilaian keamanan pun menjadi lebih ketat. Hal ini membuat Persik Kediri harus realistis menghadapi situasi yang ada.

Bagi suporter, kabar ini tentu menimbulkan rasa kecewa. Mereka kembali kehilangan kesempatan menyaksikan tim kesayangan berlaga di kandang sendiri.

Namun dari sisi penyelenggara, keamanan tetap menjadi prioritas utama. Panpel dan kepolisian harus memastikan pertandingan berjalan aman dan kondusif.

Persik Kediri pun dituntut menjaga fokus di tengah berbagai kendala nonteknis. Mental pemain menjadi kunci agar performa di lapangan tidak terganggu.

Laga melawan Persis Solo tetap krusial bagi perjalanan Persik Kediri musim ini. Target meraih hasil maksimal tidak berubah meski lokasi pertandingan berpindah.

Nasib Persik Kediri yang kembali gagal jamu tamu di kandang menegaskan tantangan panjang yang dihadapi klub.

Izin yang tak kunjung keluar membuat perjuangan Macan Putih berlangsung bukan hanya di atas rumput hijau, tetapi juga di balik layar.

EDITOR: Banu Adikara