JawaPos.com — Suara-suara kritis Bonek kembali menggema dan mengarah langsung ke manajemen Persebaya Surabaya. Tuntutan agar klub segera mengumumkan pelatih baru makin keras disuarakan publik Surabaya.
Kekecewaan Bonek muncul karena Persebaya Surabaya hingga kini belum juga me-launching sosok pelatih anyar. Situasi ini dianggap janggal di tengah bergulirnya Super League 2025/2026.
Saat ini, kursi kepelatihan Persebaya Surabaya masih diisi caretaker Uston Nawawi. Ia ditunjuk sementara setelah Eduardo Perez resmi dipecat dari jabatannya.
Edu Perez didepak menyusul hasil buruk yang diraih Persebaya Surabaya. Penampilan Bruno Moreira dan rekan-rekan dinilai tak menunjukkan konsistensi.
Selama menangani Persebaya Surabaya, Edu Perez mencatatkan 12 pertandingan. Dari jumlah tersebut, ia mengoleksi empat kemenangan, lima hasil imbang, dan tiga kekalahan.
Catatan itu membuat Persebaya Surabaya kesulitan bersaing di papan atas klasemen. Ambisi merangsek ke jalur juara pun semakin berat.
Pemecatan Edu Perez awalnya disambut optimisme oleh Bonek. Mereka berharap manajemen bergerak cepat menunjuk pelatih definitif.
Nama Bernardo Tavarez sempat mencuat sebagai kandidat kuat. Mantan pelatih PSM Makassar itu bahkan dikabarkan sudah mencapai kesepakatan.
Namun rumor tersebut langsung dipatahkan oleh agen Tavarez. Disebutkan, Bernardo Tavarez tak pernah sepakat dengan klub Super League mana pun, termasuk Persebaya Surabaya.
Harapan Bonek kembali meredup setelah klarifikasi tersebut muncul. Ketidakpastian kembali menyelimuti proses pencarian pelatih anyar.
Tak lama berselang, Persebaya Surabaya dikaitkan dengan Eduardo Almeida, eks pelatih Semen Padang. Nama ini sempat memunculkan ekspektasi baru di kalangan suporter.
Sayangnya, hingga kini Persebaya Surabaya belum juga merilis Eduardo Almeida. Manajemen pun tak memberi penjelasan detail terkait kelanjutan rumor tersebut.
Nama lain yang kemudian beredar adalah Miljan Radovic, mantan pelatih Persib Bandung. Lagi-lagi, kabar itu belum terealisasi hingga sekarang.
Situasi tersebut membuat kesabaran Bonek Mania berada di titik terendah. Kritik pun dilontarkan secara terbuka melalui media sosial resmi klub.
Kolom komentar Instagram Persebaya Surabaya dipenuhi sindiran pedas. Salah satu Bonek menulis, “Pelatih lu siapa.”
Nada kekecewaan makin terasa dari komentar lain. “Niat ndolek pelatih gak?” tulis seorang Bonek dengan nada geram.
Sebagian Bonek menilai Persebaya Surabaya tak serius mengejar prestasi musim ini. Mereka menyindir klub lebih fokus berbisnis ketimbang membangun tim.
“Ojok bisnis a ta Jane miker prestasi opo bisnis,” tulis seorang Bonek. Komentar tersebut mendapat respons dari suporter lainnya.
Sindiran senada kembali muncul di kolom komentar. “Lebih mementingkan bisnis lancar,” tulis Bonek lainnya.
Nada satire dengan bahasa Jawa semakin menajam. “Prestasi ora penting sing penting bisnis lancar sandangan payu pokok e aman #enjoyaza,” tulis seorang suporter.
Kritik juga diarahkan pada cara klub merespons pertanyaan suporter. “Wong pertanyaane lo, pelatihmu endi? kok malah sadida sg kon jawab, gak teges blas kon cak min,” tulis seorang Bonek.
Bagi Bonek, pelatih bukan sekadar formalitas. Sosok tersebut dianggap fondasi utama arah permainan dan mental tim.
Caretaker dinilai hanya solusi jangka pendek. Target Super League 2025/2026 membutuhkan kepastian dan kepemimpinan yang kuat sejak dini.
Tekanan publik terhadap manajemen Persebaya Surabaya pun semakin besar. Setiap unggahan klub selalu dibanjiri pertanyaan serupa.
“Pelatih e sok apan seh,” tulis seorang Bonek yang mempertanyakan kejelasan arah tim. Komentar itu mencerminkan kegelisahan kolektif suporter.
Kini, publik Surabaya menanti langkah konkret dari manajemen. Nama pengganti Edu Perez masih menjadi misteri yang dinantikan.
Suara-suara kritis Bonek menjadi alarm keras bagi Persebaya Surabaya. Waktu terus berjalan, dan jawaban soal pelatih baru tak bisa ditunda lebih lama.