JawaPos.com—Dari Jacksen Tiago hingga Patrich Wanggai, perjalanan para pemain yang pernah mengenakan seragam PSM Makassar dan Persebaya Surabaya. Itu selalu memantik rasa penasaran publik sepak bola Indonesia.
Dua klub besar ini bukan hanya bersaing dalam sejarah panjang kompetisi nasional. Tapi juga saling terhubung lewat jejak perpindahan pemain yang berlangsung selama hampir tiga dekade.
PSM berdiri pada 1912 dan Persebaya Surabaya menyusul pada 1927 sehingga keduanya menjadi simbol kuat perkembangan sepak bola modern di Tanah Air. Kedua klub terus tumbuh menjadi pusat perhatian karena tradisi panjang, fanatisme suporter, serta dinamika transfer yang kerap melibatkan pemain-pemain berlabel bintang.
Seiring waktu, rivalitas mereka tak hanya terjadi di lapangan tetapi juga dalam perebutan talenta terbaik Indonesia. Interaksi transfer yang muncul dari era Liga Indonesia hingga Super League membuat hubungan kedua tim menjadi semakin menarik diamati dari musim ke musim.
Dalam dua dekade terakhir saja sudah terjadi 13 perpindahan pemain yang melibatkan 12 nama berbeda. Jika ditarik lebih jauh ke era 1990-an, totalnya menjadi 18 pemain yang pernah merasakan atmosfer ruang ganti Juku Eja dan Green Force.
Nama pertama yang tercatat adalah Jacksen Tiago yang pindah dari PSM ke Persebaya Surabaya pada 1 Juli 1996. Penyerang Brasil itu membuka lintasan sejarah panjang pemain yang menyeberang di antara dua klub bersejarah tersebut.
Era akhir 1990-an kembali disemarakkan dengan perpindahan trio pemain terkenal: Aji Santoso, Carlos de Mello, dan Hendro Kartiko. Ketiganya sama-sama bergabung dari Persebaya ke PSM pada musim 1999/2000 dan menjadi bagian penting dari fondasi kekuatan PSM di awal milenium.
Memasuki era 2000-an, Hamka Hamzah menjadi figur paling menonjol yang mengenakan dua seragam tersebut. Dia hijrah dari PSM ke Persebaya Surabaya pada 1 Januari 2002 dan namanya terus melekat sebagai salah satu bek terbaik Indonesia.
Berlanjut ke pertengahan dekade 2000-an, Rahel Tuasalamony memperkuat dinamika transfer dengan kepindahannya dari Persebaya Surabaya ke PSM pada 2006. Meski tidak setenar seniornya, dia tetap menjadi bagian dari daftar panjang pemain yang mencatatkan jejak ganda di dua klub besar itu.
Memasuki musim 2009/2010, Djayusman Triasdi jadi pemain unik karena dua kali terlibat perpindahan antara PSM dan Persebaya Surabaya dalam dua musim beruntun. Dia lebih dulu bergabung dari PSM ke Persebaya Surabaya pada Juli 2009, lalu kembali ke PSM bersama beberapa rekan setimnya pada musim berikutnya.
Musim 2010/2011 memang menjadi fase paling sibuk dalam sejarah perpindahan pemain antara dua klub tersebut. Selain Djayusman, ada Satrio Syam, Supriyono Salimin, Korinus Fingkreuw, dan Andi Oddang yang semuanya pindah dari Persebaya Surabaya ke PSM dalam kurun Juli 2010 hingga Januari 2011.
Di antara nama-nama tersebut, Andi Oddang menjadi yang paling mencuri perhatian. Winger asal Jeneponto itu sempat menjadi pemain penting di Persebaya Surabaya sebelum akhirnya pulang kampung memperkuat PSM pada Januari 2011.
Memasuki era sepak bola modern, Yusuf Hamzah menambah daftar perpindahan saat bergabung dari Persebaya Surabaya ke PSM pada Januari 2013. Setahun demi setahun daftar itu terus bertambah seiring kebutuhan klub terhadap pemain berpengalaman di berbagai posisi.
Salah satu nama paling menonjol dalam dekade terakhir adalah Irfan Jaya. Winger cepat ini direkrut Persebaya Surabaya dari PSM U-20 pada Januari 2017 dan langsung menjadi motor kebangkitan Green Force hingga sukses membawa mereka promosi ke Liga 1 serta meraih gelar Pemain Terbaik Liga 2.
Musim 2019/2020 kemudian menjadi musim paling intens sejak era 2010. Ada tiga perpindahan sekaligus yang melibatkan Amido Baldé, Miswar Saputra, dan Rivki Mokodompit yang bergantian menyeberang antara PSM dan Persebaya Surabaya.
Amido Baldé menjadi pemain asing paling menonjol dalam daftar ini setelah pindah dari Persebaya Surabaya ke PSM pada akhir Agustus 2019. Posturnya yang besar dan gaya bermainnya yang kuat membuat namanya mudah diingat suporter kedua klub.
Dua kiper, Miswar Saputra dan Rivki Mokodompit, juga ikut memperkaya daftar sejarah. Miswar pindah dari Persebaya Surabaya ke PSM pada 5 Januari 2020, sedangkan Rivki melakukan perpindahan sebaliknya pada 19 Januari 2020.
Nama terakhir sekaligus salah satu yang paling segar dalam ingatan publik sepak bola Indonesia adalah Patrich Wanggai. Dia menuntaskan perpindahan langsung dari Persebaya Surabaya ke PSM pada 17 Maret 2021 setelah sebelumnya membela Green Force pada musim 2020/2021.
Beralihnya Wanggai mempertegas betapa hidupnya dinamika transfer antara dua klub legendaris tersebut. Setiap perpindahan pemain selalu memunculkan cerita baru yang terus diikuti para suporter dan penggemar sepak bola nasional.
Kini, jelang duel PSM Makassar vs Persebaya Surabaya di Gelora BJ Habibie, Parepare, Sabtu (6/12), sejarah panjang ini kembali menghangat.
Pertandingan tunda Super League 2025/2026 itu bukan hanya menjadi adu strategi pelatih tetapi juga perayaan atas perjalanan panjang pemain-pemain yang pernah mengabdi untuk keduanya. Pertemuan ini dipastikan berjalan ketat karena kedua tim membawa identitas sejarah dan karakter bermain yang kuat.
Para pemain di lapangan akan berjuang melanjutkan tradisi rivalitas. Sementara para suporter kembali disajikan drama yang sering terjadi ketika Juku Eja bertemu Green Force.
Dari masa ke masa, transfer pemain antara PSM dan Persebaya Surabaya selalu menghasilkan cerita baru yang tak pernah membosankan. Jejak 18 pemain yang pernah membela dua klub tersebut menjadi bukti betapa erat dan dinamisnya hubungan kedua tim tua ini dalam panggung sepak bola Indonesia.