← Beranda
Menelisik Jejak Pelatih Korea Selatan di Persebaya Surabaya! Akankah Shin Tae-yong Jadi yang Pertama?
Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 5 Desember 2025 | 18.24 WIB
Shin Tae-yong menjadi harapan Bonek untuk mengangkat prestasi Persebaya Surabaya. (Instagram @shintaeyong_academy)
 

JawaPos.com — Menelisik jejak pelatih Korea Selatan di Persebaya Surabaya terasa menarik di tengah derasnya desakan Bonek agar manajemen merekrut Shin Tae-yong. Klub sebesar Green Force ternyata belum pernah ditangani pelatih asal Negeri Ginseng sejak Perserikatan hingga era modern Liga Indonesia, sehingga peluang STY merapat memantik antusiasme tersendiri di mata suporter.

Situasi ini mencuat menjelang laga tunda Super League 2025/2026 melawan PSM Makassar yang digelar pada Sabtu, 6 Desember 2025.

Di tengah persiapan yang dipimpin duet caretaker Uston Nawawi dan Shin Sang-gyu, harapan besar Bonek semakin terlihat gamblang di media sosial klub.

Keberadaan Shin Sang-gyu di jajaran staf pelatih memberi warna baru dalam dinamika tim.

Baca Juga: Kembali di Tengah Isu Pencarian Pelatih Timnas Indonesia, Berikut Agenda Shin Tae-yong di Jakarta

Ia pernah bekerja dengan Shin Tae-yong di Timnas Indonesia sehingga menciptakan asumsi publik adaptasi keduanya akan berlangsung cepat jika kembali berkolaborasi di Surabaya.

Rumor semakin menguat karena Shin Tae-yong kini berstatus bebas kontrak setelah dilepas Ulsan HD Korea Selatan.

Kondisi itu membuat nama STY kembali dipertimbangkan Bonek yang menginginkan Persebaya Surabaya ditangani sosok berpengalaman dan visioner.

Desakan Bonek hadir dalam berbagai komentar bernada antusias di jagat maya klub.

Mulai dari “STY cocok Iki” hingga “Disandingno STY muasok iki”, semuanya menunjukkan tingkat optimisme suporter terhadap kemungkinan kedatangan pelatih yang pernah membawa Timnas Indonesia berkembang secara signifikan.

Manajemen Persebaya Surabaya sendiri belum menunjuk pelatih kepala permanen setelah memutus kerja sama dengan Eduardo Pérez pada 22 November 2025.

Dalam masa transisi itu, Uston Nawawi dan Shin Sang-gyu mampu menghadirkan permainan kompetitif melalui hasil imbang 1-1 melawan Bhayangkara FC.

Meski performa keduanya cukup solid, Bonek merasa klub butuh figur pemimpin yang bisa membawa Persebaya Surabaya melompat lebih jauh.

Nama STY muncul sebagai ikon pembaruan yang dianggap cocok dengan ambisi Green Force di Super League musim ini.

Jika benar bergabung, Shin Tae-yong berpotensi menjadi pelatih Korea Selatan pertama dalam sejarah panjang Persebaya Surabaya sejak data 1988.

Catatan pelatih klub selama hampir empat dekade terakhir menunjukkan dominasi figur lokal serta pelatih dari Eropa dan Amerika Latin.

Deretan nama seperti Rusdy Bahalwan, Aji Santoso, Danurwindo, dan Jacksen Tiago pernah menghiasi kursi pelatih Green Force.

Begitu pula nama asing seperti Aleksandar Kostov dari Rusia, Iurie Arcan dari Moldova, hingga Wolfgang Pikal dan Josep Gombau yang masing-masing datang dari Austria dan Spanyol.

Dalam rentang waktu 1988 hingga kini, tidak ada satu pun pelatih kepala berkebangsaan Korea Selatan yang menukangi klub kebanggaan Kota Pahlawan berdasarkan data Transfermarkt.

Fakta ini menambah sensasi tersendiri jika manajemen benar-benar mendekati Shin Tae-yong sebagai proyek jangka panjang.

Momentum ini terasa semakin tepat karena Persebaya Surabaya sedang berada di fase rekonstruksi setelah performa naik-turun pada musim sebelumnya.

Kolaborasi STY dan Shin Sang-gyu diyakini mampu menciptakan struktur permainan modern yang selama ini dirindukan Bonek.

Di sisi lain, manajemen juga pernah dikaitkan dengan beberapa kandidat lain seperti Bernardo Tavares hingga Eduardo Almeida. Namun rumor itu meleset dan belum menghasilkan keputusan yang memuaskan suporter hingga kini.

Ketidakpastian tersebut membuat Bonek menggantungkan asa pada peluang mendatangkan Shin Tae-yong.

Mereka menilai momen ini ideal mengingat STY tidak sedang terikat kontrak dan memiliki rekam jejak kuat dalam membentuk tim dari dasar.

Sejak era Paul Munster hingga Eduardo Pérez, perjalanan Persebaya Surabaya menunjukkan stabilitas pelatih masih menjadi tantangan klub.

Munster memimpin selama 516 hari, sedangkan Perez hanya bertahan 172 hari sebelum masa jabatannya berakhir.

Sementara itu, Uston Nawawi beberapa kali menjadi caretaker dengan periode yang bervariasi, termasuk 64 hari pada 2023 dan kini kembali memimpin sejak 23 November 2025.

Konsistensi performa tersebut cukup membantu, tetapi belum memberi jaminan jangka panjang untuk bersaing di level tertinggi.

Bonek merasa kehadiran pelatih berkualitas internasional seperti Shin Tae-yong dapat memberi stabilitas baru.

Sosoknya tidak hanya membawa pengalaman, tetapi juga menawarkan filosofi permainan progresif yang dapat menyuntikkan energi segar ke ruang ganti.

Kini, semua mata tertuju pada manajemen Persebaya Surabaya yang tengah mempertimbangkan masa depan kursi pelatih.

Keputusan mereka dalam beberapa hari atau pekan ke depan akan sangat menentukan arah perjalanan Green Force pada sisa musim Super League 2025/2026.

Pertanyaan besarnya kini mengemuka di antara Bonek dan publik sepak bola nasional.

Akankah Persebaya Surabaya akhirnya mencatat sejarah dengan mendatangkan pelatih Korea Selatan pertamanya, atau justru memilih nama lain untuk memimpin tim dalam persaingan ketat liga?

Harapan suporter sudah tergambar jelas di kolom komentar dan percakapan dunia maya.

Kini giliran manajemen menentukan langkah strategis demi masa depan Green Force yang terus dipantau dengan penuh harap dan rasa penasaran.

EDITOR: Edi Yulianto