← Beranda
Bonek Yakin Boikot? Rekor Penonton Persebaya Surabaya Lawan Arema FC Berpotensi Anjlok
Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 14 November 2025 | 16.17 WIB
Bonek siapkan teror ke Arema FC jelang tandang ke markas Persebaya Surabaya di pekan ke-13 Super League 2025/2026. (Persebaya Surabaya)
 
JawaPos.com — Bonek mulai meragukan laga Persebaya Surabaya versus Arema FC akan penuh penonton, padahal duel panas itu selalu jadi magnet besar di Stadion Gelora Bung Tomo. Keraguan muncul karena sebagian suporter mempertimbangkan boikot sebagai bentuk protes atas performa Green Force yang belum stabil musim ini.

Pertandingan pekan ke-13 Super League 2025/2026 pada Sabtu, 22 November 2025 sebenarnya punya potensi besar menarik massa.

Pihak keamanan disebut memberi izin kuota sekitar 30 ribu penonton di stadion berkapasitas 40 ribu tersebut.

Informasi yang beredar dari fanbase @onlinepersebaya menyebut izin tersebut sudah disiapkan dan tinggal menunggu realisasi pada hari pertandingan.

Keputusan itu mengacu pada berbagai dasar regulasi mulai dari UU Kepolisian hingga Perpol Nomor 10 Tahun 2022 tentang penyelenggaraan kompetisi olahraga.

Surat permohonan resmi Persebaya untuk menggelar laga ini juga sudah dikirimkan melalui Nomor 003.017/PAN.PSBYX1.2025. Artinya secara prosedur pertandingan berstatus aman dan layak dihadiri puluhan ribu penonton.

Namun euforia laga besar itu mendadak meredup ketika komentar beberapa Bonek di lini masa menunjukkan nada pesimistis.

Beberapa di antaranya terang-terangan menyebut enggan datang karena kecewa melihat permainan Persebaya Surabaya yang dianggap belum stabil.

“Yakin sold out ora iki dengan keadaan permainan Persebaya koyo ngono kui,” tulis salah satu Bonek yang menggambarkan keraguan banyak suporter lain.

Komentar lain lebih lugas dengan kalimat pendek, “males ndelok,” yang menunjukkan rasa frustrasi.

Ada juga suara keras yang muncul terkait wacana memprotes manajemen. “Gak ada wacana kosongkan tribun ta ini besok lawan Arema, bentuk protes ke manajemen,” ujar seorang Bonek yang menandai kemungkinan boikot terbuka.

Jika wacana boikot benar-benar terjadi, dampaknya bisa signifikan terhadap rekor penonton Persebaya Surabaya musim ini.

Green Force berpotensi turun dalam persaingan rata-rata jumlah penonton yang selama ini mereka dominasi bersama Persija, Persib, Persis, dan Bali United.

Data sementara menunjukkan Persebaya Surabaya mencatat angka rata-rata 15.967 penonton dari total 46.806 kapasitas per pertandingan.

Grafis jumlah penonton Super League hingga pekan ke-10 musim 2025/2026.
Grafis jumlah penonton Super League hingga pekan ke-10 musim 2025/2026.

Angka itu sebenarnya masih cukup besar, tetapi akan terancam anjlok jika laga besar seperti kontra Arema justru tidak mencapai kuota maksimal.

Di sisi lain Persija memimpin jauh dalam daftar rekor penonton musim ini dengan angka rata-rata 26.912 di Jakarta International Stadium. Persib juga menjaga tren positif dengan rata-rata 17.012 penonton di Gelora Bandung Lautan Api.

Persis Solo dan Bali United mengikuti di bawahnya dengan rata-rata masing-masing 9.447 dan 9.386 penonton. Persebaya Surabaya sejatinya punya peluang besar menyalip semua jika euforia pertandingan besar tetap terjaga.

Sayangnya situasi psikologis suporter kini berada di titik rawan, terutama karena performa tim naik turun jelang paruh musim. Bonek merasa butuh tekanan agar manajemen bergerak cepat memperbaiki kualitas tim di sisa putaran pertama.

Sementara itu pertandingan melawan Arema FC biasanya selalu menghadirkan atmosfer luar biasa. Rivalitas panjang membuat partai ini hampir selalu menjadi kandidat laga dengan penonton terbanyak, baik di Surabaya maupun di Malang.

Dengan izin 30 ribu penonton, laga ini seharusnya menjadi momen kebangkitan atmosfer Gelora Bung Tomo. Namun keraguan suporter membuat potensi itu mulai tampak sulit terwujud.

Dalam beberapa musim terakhir, Bonek dikenal sebagai suporter yang selalu memenuhi stadion meski kondisi tim kurang stabil.

Tetapi musim ini tampaknya terlalu banyak kekecewaan yang menumpuk sehingga wacana boikot mulai mengemuka.

Jika boikot benar terjadi, dampaknya tak hanya pada angka penonton semata. Semangat tim di lapangan juga bisa ikut tergerus karena kehilangan dukungan masif yang biasanya membuat GBT bergemuruh.

Persebaya Surabaya sebenarnya masih punya waktu beberapa hari sebelum pertandingan untuk membangun kembali kepercayaan Bonek.

Komunikasi terbuka dari manajemen bisa menjadi kunci agar suporter kembali merasa optimistis.

Laga melawan Arema FC seharusnya menjadi momentum penting bagi Green Force untuk menutup putaran pertama dengan energi positif.

Kemenangan di depan puluhan ribu suporter bisa menjadi titik balik performa Persebaya Surabaya.

Tetapi jika stadion sepi karena boikot, momen besar itu justru berubah menjadi alarm keras bagi manajemen.

Publik Surabaya dikenal vokal dan tidak ragu memberikan tekanan jika merasa klub kesayangan mereka berjalan tidak kompetitif.

Semua kini bergantung pada bagaimana Persebaya Surabaya merespons suara-suara dari tribun sebelum hari pertandingan. Bonek selalu mencintai timnya, tetapi mereka juga ingin klub bergerak cepat memperbaiki keadaan.

Apakah boikot benar terjadi atau justru GBT kembali penuh seperti biasanya, jawabannya akan terlihat saat hari pertandingan tiba.

Yang jelas, wacana ini menciptakan tensi baru yang menambah dinamika jelang duel sarat gengsi Persebaya Surabaya vs Arema FC.

EDITOR: Edi Yulianto