← Beranda

Bonek Kecewa Berat! Eduardo Perez Bakal Dipecat Jika Persebaya Surabaya Kalah dari Arema FC?

Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 14 November 2025 | 15.36 WIB
Eduardo Perez di ujung tanduk jelang Persebaya Surabaya jamu Arema FC. (Persebaya Surabaya)
 

JawaPos.com — Bonek sudah geram dengan performa Persebaya Surabaya era Eduardo Perez dan komentar yang muncul di akun Instagram @onlinepersebaya memperlihatkan betapa besar tekanan yang kini mengarah ke kursi pelatih. Mereka mempertanyakan performa yang tak kunjung stabil sementara waktu terus mendekati laga hidup-mati melawan Arema FC.

Dalam unggahan itu disebutkan Eduardo Perez tetap memimpin latihan jelang duel Derbi Jawa Timur pada 22 November mendatang.

Situasi ini menandakan belum ada tanda-tanda perubahan di posisi pelatih meski desakan suporter semakin keras.

“Meski mendapat desakan kuat dari para suporter, Eduardo Perez kembali memimpin latihan Persebaya Surabaya jelang laga Super League kontra Arema FC pada 22 November mendatang,” tulis @onlinepersebaya.

“Dengan jarak waktu yang semakin dekat menuju pertandingan, belum ada tanda-tanda perubahan di kursi pelatih Bajol Ijo. Untuk saat ini, Perez masih bertahan.”

Kemarahan Bonek tak lepas dari inkonsistensi Persebaya Surabaya dalam menjalani Super League 2025/2026 yang membuat mereka frustrasi mendukung tim kesayangan.

Hasil seri yang berulang memperpanjang kekesalan publik karena Persebaya Surabaya seolah jalan di tempat di papan tengah klasemen.

Performa kurang meyakinkan itu kembali terlihat saat Persebaya Surabaya hanya imbang 1-1 melawan Persik Kediri pada pekan ke-12.

Laga di Stadion Gelora Joko Samudro Gresik tersebut memunculkan banyak kritik karena Persebaya Surabaya gagal mempertahankan keunggulan.

Eduardo Perez mencoba menenangkan suasana dengan merespons kritik secara dewasa dan penuh respek.

Ia menegaskan dirinya sangat siap menghadapi segala tekanan yang muncul saat melatih klub sebesar Persebaya Surabaya.

“Ketika Anda bekerja di dunia sepak bola, Anda harus siap untuk segalanya. Jadi, saya menghormati semua pendapat. Saya sangat kuat sekarang. Saya berada di satu momen di mana saya lebih kuat dari sebelumnya,” ujarnya.

Menurutnya dunia sepak bola tak pernah bisa lepas dari kritik dan tuntutan besar yang menyertainya. Ia menyebut dirinya justru jauh lebih kuat saat situasi sulit seperti sekarang menghampirinya.

Eduardo menegaskan ia tetap percaya penuh pada semua pemain yang dimilikinya meski hasil belum sesuai ekspektasi.

Ia meminta semua pihak memahami pekerjaannya yang menuntut fokus penuh setiap hari tanpa terpengaruh opini luar.

“Saya percaya pada semua pemain di klub. Kami bekerja sangat keras setiap hari. Saya menghormati semua pendapat, tapi saya harus fokus pada pekerjaan saya,” kata pelatih asal Spanyol itu.

Pelatih asal Spanyol itu juga menyampaikan kritik adalah risiko profesi yang harus diterima dengan lapang dada. Tekanan demi tekanan dianggapnya sebagai bagian dari perjalanan untuk membentuk tim yang lebih solid.

“Dalam pekerjaan saya, setiap hari saya memberikan yang terbaik untuk klub ini. Dan saya katakan kepada Anda, jika Anda tidak siap mendengarkan hal-hal seperti ini, lebih baik Anda tidak bekerja di dunia sepak bola. Tapi saya lebih kuat dari sebelumnya,” imbuhnya.

Ia kemudian membahas jalannya laga melawan Persik yang menurutnya berlangsung ketat sejak menit awal.

Dua tim saling memahami karakter permainan karena sudah bertemu lebih dulu di pramusim dengan kondisi mirip seperti sekarang.

Menurut Eduardo, babak pertama dan kedua sama-sama berjalan 50-50. Kedua tim berusaha menguasai permainan dengan transisi cepat sehingga pertandingan terasa intens dan sulit ditebak.

“Babak pertama, saya rasa, seperti babak kedua, 50-50. Dua tim yang kami kenal betul satu sama lain karena kami juga bersua di pramusim dengan situasi yang sama seperti ini,” kata Eduardo Perez.

Persebaya Surabaya berhasil mencetak gol lebih dulu sebelum Persik menyamakan kedudukan lewat skema umpan silang.

“Di babak kedua, kita cetak gol pertama, dan setelah itu kita tahu potensi Persik Kediri di umpan silang. Di satu situasi yang tidak bagus, mereka cetak gol, dan akhirnya saya ingin pantau lagi situasi ini,” sambungnya.

Gol balasan itu terjadi karena satu momen buruk yang tak mampu diantisipasi lini pertahanan secara optimal.

Eduardo mengaku ingin kembali mengevaluasi situasi itu agar tak terulang pada pertandingan berikutnya.

Ia sadar kelemahan tersebut sangat berbahaya jika tidak segera diperbaiki mengingat lawan berikutnya adalah Arema yang terkenal agresif.

Saat ini Persebaya Surabaya masih bertahan di posisi ke-8 dengan 15 poin dari empat kemenangan, tiga imbang, dan tiga kekalahan.

Catatan 12 gol dan 10 kebobolan menunjukkan Persebaya Surabaya cukup seimbang tetapi belum mampu tampil dominan di setiap laga.

Derbi Jawa Timur pada 22 November nanti menjadi penentu masa depan Eduardo Perez di Persebaya Surabaya.

Keputusan mempertahankan atau menghentikan kerja sama bisa berubah drastis jika hasil melawan Arema FC tidak sesuai harapan.

Tekanan luar biasa kini berada di punggung pelatih berusia 49 tahun tersebut. Kekalahan dalam derby bukan hanya menyakitkan bagi suporter tetapi bisa menjadi titik akhir petualangannya di Surabaya.

Bonek sudah kehilangan kesabaran sehingga laga melawan Arema tak hanya soal gengsi, tetapi juga nasib pelatih.

Persebaya Surabaya membutuhkan kemenangan untuk menenangkan situasi dan memulihkan kepercayaan publik yang mulai terkikis.

Rekor Eduardo musim ini sebenarnya tidak buruk dengan rata-rata poin 1,50 dari 10 pertandingan. Namun ekspektasi besar dari suporter membuat angka tersebut terasa belum cukup untuk ukuran klub sebesar Persebaya Surabaya.

Derby nanti menjadi ujian mental sekaligus kesempatan terakhir bagi Eduardo untuk membuktikan dirinya masih layak memimpin Green Force.

Jika gagal, suara mayoritas Bonek yang meminta perubahan bisa menjadi kenyataan lebih cepat dari yang dibayangkan.

EDITOR: Edi Yulianto