JawaPos.com — Sepak bola Indonesia selalu menarik untuk diikuti, terutama soal perjalanan pelatih yang pernah menakhodai timnas Indonesia. Dari nama besar Eropa hingga pelatih lokal berpengalaman, semuanya pernah menjadi bagian dari kisah panjang Garuda di pentas internasional.
Terbaru, nama Patrick Kluivert resmi ditunjuk PSSI untuk menangani timnas Indonesia sebelum akhirnya dipecat karena gagal lolos ke Piala Dunia 2026.
Mantan bintang Barcelona dan timnas Belanda itu dipercaya membawa energi baru bagi skuad Merah Putih setelah beberapa pelatih sebelumnya memberikan warna tersendiri.
Kluivert tercatat melatih timnas Indonesia pada 2025 dengan total delapan pertandingan. Meski belum lama memimpin, sosoknya langsung menyita perhatian publik karena reputasi besarnya di dunia sepak bola Eropa.
Sebelum Kluivert, Indonesia sempat ditangani pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, yang menjadi sosok sangat berkesan bagi suporter.
Ia resmi menukangi timnas Indonesia sejak 8 Januari 2020 hingga 6 Januari 2025 dan sukses membangun tim dengan karakter kuat serta mental juang tinggi.
Selama memimpin, Shin Tae-yong mencatat 57 pertandingan dengan rata-rata 1,61 poin per laga berdasarkan data dari Transfermarkt. Ia membawa semangat disiplin dan profesionalisme ala Korea Selatan yang membuat timnas tampil lebih solid di berbagai ajang internasional.
Sebelum era Shin Tae-yong, posisi pelatih diisi Simon McMenemy pada 2019. Pelatih asal Skotlandia itu hanya memimpin tujuh pertandingan dengan catatan 0,86 poin per laga sebelum akhirnya digantikan.
McMenemy dikenal sebagai pelatih yang cukup berani memberikan kesempatan kepada pemain muda, meski hasil di lapangan belum sesuai ekspektasi.
Kiprahnya menjadi catatan penting dalam masa transisi timnas Indonesia menuju era kepelatihan berikutnya.
Masih di tahun yang sama, Yeyen Tumena sempat dipercaya memimpin timnas Indonesia dalam satu pertandingan. Mantan pemain timnas ini menjadi caretaker singkat sebelum manajemen menunjuk pelatih permanen.
Sebelumnya, pada 2018, Bima Sakti juga sempat menjadi pelatih kepala timnas Indonesia. Ia memimpin empat pertandingan dengan semangat nasionalisme tinggi meski menghadapi tekanan besar dari publik sepak bola nasional.
Pada periode 2017 hingga 2018, timnas Indonesia sempat ditangani pelatih asal Spanyol, Luis Milla. Pelatih yang juga pernah menangani Persib Bandung itu memimpin 11 pertandingan dan mencatatkan rata-rata 1,33 poin per laga.
Luis Milla dikenal sebagai pelatih yang memperkenalkan gaya bermain modern dengan sentuhan Eropa. Ia banyak memberi kepercayaan kepada pemain muda seperti Evan Dimas dan Febri Hariyadi untuk tampil di level internasional.
Sebelum Milla, publik Indonesia akrab dengan nama Alfred Riedl, pelatih asal Austria yang beberapa kali menukangi timnas. Riedl tercatat memimpin pada 2016 serta periode 2013 hingga 2015 dengan total 16 pertandingan.
Riedl menjadi sosok yang dihormati karena kemampuannya meracik tim dengan sumber daya terbatas. Ia dikenal tegas namun dekat dengan pemain, bahkan sempat membawa Indonesia tampil impresif di ajang Piala AFF.
Nama berikutnya adalah Pieter Huistra yang sempat menjabat pada 2015 meski tanpa memimpin satu pun pertandingan resmi. Kehadirannya lebih banyak berperan dalam masa peralihan dan evaluasi performa timnas.
Pada tahun yang sama, Benny Dollo juga dipercaya menukangi timnas Indonesia. Pelatih senior ini hanya memimpin dua pertandingan namun dikenal sebagai sosok disiplin dan berpengalaman di kompetisi domestik.
Dan yang tak kalah menarik, ada nama Jacksen F. Tiago, legenda Persebaya Surabaya yang sempat menjadi pelatih timnas Indonesia pada 2013.
Pelatih asal Brasil itu memimpin enam pertandingan dan selalu mendapat tempat istimewa di hati suporter.
Jacksen dikenal karena kedekatannya dengan kultur sepak bola Indonesia sejak lama. Ia pernah membawa Persebaya Surabaya berjaya di kompetisi nasional dan menjadi salah satu pelatih asing yang dicintai publik Tanah Air.
Deretan nama pelatih tersebut menunjukkan betapa dinamisnya perjalanan timnas Indonesia. Setiap pelatih memiliki cerita, gaya, dan kontribusinya masing-masing dalam membentuk identitas sepak bola Merah Putih.
Kini, kursi pelatih masih kosong usai era Patrick Kluivert.
Publik berharap segera ada pelatih baru yang punya sentuhan tangan dingin dan bisa membawa timnas Indonesia melangkah lebih jauh dan menorehkan prestasi membanggakan di level Asia maupun dunia.
Sepuluh nama mantan pelatih timnas Indonesia ini menjadi bagian penting dalam sejarah perjalanan Garuda.
Dari Shin Tae-yong yang disiplin, Luis Milla yang elegan, hingga Jacksen Tiago sang legenda Persebaya Surabaya, semuanya meninggalkan jejak yang patut dikenang.
Perjalanan panjang tersebut menggambarkan semangat tiada henti dalam membangun sepak bola nasional.
Dengan dukungan penuh dari suporter dan konsistensi pembinaan, bukan hal mustahil suatu hari Indonesia bisa kembali bersinar di panggung dunia.