JawaPos.com—Nama Timur Kapadze mendadak jadi sorotan setelah muncul rumor dirinya masuk radar calon pelatih Timnas Indonesia. Sosok asal Uzbekistan itu disebut siap menerima tawaran jika benar-benar diajak memimpin skuad Garuda.
Menariknya, perhatian publik tak hanya tertuju pada rekam jejaknya di lapangan hijau, tetapi juga pada besaran gaji. Dibandingkan dengan pelatih asing sebelumnya, angka yang diterima Kapadze ternyata jauh lebih kecil dan bisa dibilang sangat murah untuk ukuran pelatih level internasional.
Dalam wawancara bersama media Uzbekistan Sport pada 2021, Kapadze sempat mengungkap nominal gajinya saat melatih FC Olympic. Dia menerima bayaran sebesar 15 juta Uzbekitani Som per bulan atau setara dengan Rp 20,9 juta.
Jika dihitung setahun, total penghasilan Kapadze kala itu hanya sekitar Rp 250,8 juta. Angka tersebut sangat jauh dari gaji pelatih-pelatih asing yang pernah menukangi Timnas Indonesia.
Seiring karirnya yang menanjak, kemungkinan gaji Kapadze kini sudah meningkat. Dia sempat dipercaya menjadi pelatih di kelompok umur hingga tim senior Uzbekistan sebelum akhirnya berpisah setelah Fabio Cannavaro mengambil alih posisi tersebut untuk Piala Dunia 2026.
Meski begitu, jika dibandingkan dengan Patrick Kluivert, nominal yang diterima Kapadze tetap jauh lebih kecil. Saat direkrut PSSI, Kluivert dikabarkan mendapat bayaran mencapai Rp 18 miliar per tahun atau sekitar Rp 1,3 hingga Rp 1,5 miliar per bulan untuk menangani Timnas Indonesia.
Angka tersebut sempat menimbulkan perdebatan karena Kluivert hanya bertahan kurang dari satu tahun bersama skuad Garuda. Dia berpisah sebelum kontraknya tuntas dan meninggalkan tanda tanya besar terkait efektivitas penggunaan dana besar itu.
Sebelum Kluivert, publik juga masih ingat dengan sosok Shin Tae-yong yang lebih dulu menjadi juru taktik Indonesia. Pelatih asal Korea Selatan itu disebut mendapat gaji sekitar Rp 23,6 miliar per tahun untuk satu paket tim kepelatihan dari kelompok usia hingga tim senior.
Dengan latar belakang tersebut, wajar jika rumor kehadiran Timur Kapadze dianggap bisa menghemat anggaran PSSI secara signifikan. Gajinya yang jauh lebih rendah tentu menjadi nilai tambah di tengah upaya federasi mencari sosok pelatih yang kompeten sekaligus efisien secara finansial.
Namun, faktor gaji bukan satu-satunya pertimbangan dalam memilih pelatih Timnas Indonesia. Kapadze dikenal punya reputasi baik di Uzbekistan karena sukses membawa timnya tampil impresif di level internasional, termasuk membantu negaranya lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Kesuksesan itu menunjukkan kapasitasnya bukan sekadar pelatih murah, melainkan sosok yang mampu mengangkat performa tim dengan efektif. Pengalaman memimpin berbagai kelompok umur hingga tim utama menjadi modal besar bagi Kapadze jika benar-benar mendarat di Indonesia.
Dalam wawancaranya dengan media Zamin, Kapadze menegaskan dirinya terbuka terhadap peluang tersebut. Dia menyebut siap menukangi Timnas Indonesia dan saat ini sedang menunggu tawaran resmi.
“Saya siap memimpin tim nasional Indonesia. Saat ini saya bebas dan menunggu tawaran,” ujar Kapadze seperti dikutip dari Zamin.
Pernyataan itu membuat rumor semakin kuat dan jadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sepak bola nasional.
Jika PSSI benar-benar menggaetnya, Kapadze berpotensi menjadi pelatih asing dengan gaji paling hemat dalam sejarah Timnas Indonesia modern. Dengan pengalaman internasional yang memadai, ia bisa menjadi pilihan realistis bagi federasi yang tengah mencari keseimbangan antara kualitas dan efisiensi.
Di sisi lain, rendahnya gaji bukan berarti kualitas Kapadze berada di bawah pelatih sebelumnya. Justru, banyak pihak menilai angka kecil yang dia terima menjadi cerminan dedikasi dan fokusnya terhadap pengembangan tim, bukan sekadar mencari keuntungan pribadi.
Gaya kepemimpinannya yang tenang dan disiplin juga disebut cocok dengan karakter pemain Indonesia yang energik namun masih butuh arahan taktis yang konsisten. Jika bergabung, Kapadze bisa memberi warna baru pada permainan Timnas Indonesia yang selama ini dikenal agresif tetapi belum stabil.
Belum ada kepastian resmi dari PSSI terkait isu ini. Namun rumor tersebut terus bergulir dan memicu rasa penasaran publik, apalagi Kapadze sudah menyatakan kesiapannya tanpa banyak syarat.
Jika dibandingkan, gajinya yang dulu hanya Rp 20 jutaan per bulan mungkin tak sebanding dengan ekspektasi besar publik sepak bola Indonesia. Namun, sejarah sering membuktikan, pelatih hebat tak selalu datang dengan harga mahal.
Timur Kapadze bisa jadi contoh baru nilai seorang pelatih tidak ditentukan oleh nominal gajinya. Justru, semangat dan visi membangun tim bisa menjadi aset terbesar untuk membawa Garuda terbang lebih tinggi di pentas Asia.
Dengan semua faktor itu, menarik menantikan langkah PSSI dalam menentukan pelatih kepala baru. Apakah federasi akan kembali memilih nama besar dengan bayaran tinggi, atau memberi kesempatan kepada sosok pekerja keras seperti Kapadze yang jauh lebih murah dari Patrick Kluivert.