← Beranda

Bonek Turunkan Ekspektasi Lihat Performa Persebaya Surabaya, Harga Tiket Naik, Prestasi Mandek!

Moch. Rizky Pratama PutraSabtu, 8 November 2025 | 14.34 WIB
Persebaya Surabaya ketika menahan tuan rumah Persik Kediri 1-1, Jumat (7/11/2025). (Persebaya Surabaya)

JawaPos.com — Bonek mulai menurunkan ekspektasi melihat performa Persebaya Surabaya yang belum konsisten hingga pekan ke-12 Liga Super 2025/2026. Suara kekecewaan muncul lantaran yang dirasakan justru kenaikan harga tiket, bukan peningkatan prestasi di lapangan.

Hasil imbang 1-1 saat bertandang ke markas Persik Kediri, Jumat (7/11/2025), menjadi gambaran kondisi tim yang masih pasang surut.

Persebaya Surabaya tampil agresif, menciptakan sejumlah peluang, tetapi tak mampu mengunci kemenangan yang dibutuhkan untuk merangsek ke papan atas.

Laga di Stadion Gelora Joko Samudro sebenarnya sempat membuat harapan itu menyala.

Persebaya Surabaya unggul lebih dulu melalui Catur Pamungkas yang memanfaatkan bola rebound hasil tandukan Gali Freitas yang ditepis kiper Leonardo Navacchio.

Namun momentum itu buyar setelah Francisco Rivera menerima kartu merah langsung pada menit ke-76.

Situasi 10 lawan 11 membuat Persebaya Surabaya kehilangan kontrol permainan, hingga Persik mampu menyamakan kedudukan di sisa waktu laga.

Persebaya Surabaya masih punya sejumlah peluang emas untuk mengunci kemenangan, seperti sontekan Dime Dimov dan penyelesaian Bruno Moreira di menit-menit akhir.

Tetapi tumpulnya sentuhan akhir membuat kesempatan itu hilang begitu saja.

Tambahan satu poin akhirnya hanya membuat Persebaya Surabaya bertahan di posisi ke-9 klasemen dengan 15 poin. Sementara target awal musim yang sempat mengarah ke papan atas kembali terasa menjauh.

Kekecewaan pun muncul dari para suporter yang selama ini dikenal militan mendukung tim kebanggaan kota.

Akun fanbase @tribunpersebaya menulis komentar menohok yang ramai dibicarakan, “Turunkan ekspektasi terhadap klub kebanggaan kalian. Yang meningkat hanyalah harga tiket, bukan prestasi.”

Komentar itu memicu gelombang respons yang senada dari Bonek lainnya.

Banyak yang merasa Persebaya Surabaya kembali mengulang pola musim sebelumnya: penampilan tidak stabil, target besar tidak tercapai, dan fans lagi-lagi harus menerima kenyataan pahit.

“Bener wes, penting bertahan ae alhamdulillah, angin-anginan maene,” tulis salah satu Bonek yang menandakan kondisi permainan yang tak menentu.

Ada pula yang menilai situasi ini sudah seperti siklus tahunan yang berulang tanpa solusi berarti.

“Taget juara gak sesuai ekspektasi, mesake sek tuku tiket larang-larang tiwas permainan di bawah harapan marakke ngelu,” komentar lainnya yang menyoroti gap antara biaya dukungan dan hasil yang diterima.

Suporter merasa harus merogoh kocek lebih dalam tetapi performa di lapangan tidak ikut meningkat.

“Dari Persebaya kita memahami apa arti jangan berharap,” tulis salah satu komentar yang bernuansa satir. Sementara komentar lain lebih realistis, “Target juara... lolos degradasi ae wes bersyukur.”

Secara statistik, Persebaya Surabaya di bawah Eduardo Perez mencatat 4 kemenangan, 3 imbang, dan 3 kekalahan dari 10 pertandingan.

Mereka mencetak 12 gol dan kebobolan 10 kali dengan rata-rata poin hanya 1,50 per pertandingan.

Angka itu menunjukkan tim cukup kompetitif untuk bertahan di tengah, tetapi belum cukup meyakinkan untuk fight di papan atas.

Konsistensi permainan belum terlihat, terutama dalam hal penyelesaian akhir dan pengambilan keputusan di situasi krusial.

Di sisi lain, tekanan suporter jelas tidak kecil. Persebaya Surabaya adalah klub dengan basis massa besar, identitas kuat, dan sejarah penuh gairah sehingga ekspektasi hampir selalu tinggi setiap musim.

Namun situasi saat ini membuat pendukung memilih meredam emosinya. Alih-alih berteriak juara, banyak yang kini hanya berharap tim bermain stabil dan tidak terjun ke zona degradasi.

Kekecewaan bukan berarti meninggalkan dukungan, tetapi lebih ke bentuk peringatan.

Bonek ingin manajemen dan tim peka terhadap keresahan yang muncul, terutama soal hubungan antara harga tiket, kualitas permainan, dan komitmen prestasi.

Persebaya Surabaya masih punya waktu memperbaiki diri karena musim masih panjang. Tetapi momentum harus segera diambil jika tak ingin musim ini kembali berakhir dengan label “nyaris” dan “seharusnya bisa lebih baik.”

Bagi Bonek, cinta terhadap Persebaya Surabaya tak akan pudar.

Tapi mereka kini memilih bersikap lebih realistis, sambil mengingatkan pihak klub agar tidak hanya memikirkan angka pemasukan, tetapi juga kebanggaan yang seharusnya dibawa setiap kali memakai jersey hijau kebesaran Surabaya.

EDITOR: Bintang Pradewo