JawaPos.com — Persebaya Surabaya tengah disorot tajam setelah rentetan kartu merah yang terus muncul di era kepelatihan Eduardo Perez. Alih-alih menunjukkan progres permainan dan peningkatan produktivitas gol, Green Force justru terlihat lebih sering kehilangan pemain di tengah pertandingan akibat pelanggaran dan kontrol emosi yang buruk.
Dalam lima laga terakhir, empat pemain Persebaya Surabaya sudah menerima kartu merah dan harus meninggalkan lapangan lebih cepat.
Kondisi ini membuat permainan Persebaya Surabaya kerap kehilangan keseimbangan taktik dan kesulitan menjaga ritme serangan yang seharusnya menjadi kekuatan utama mereka.
Rajin Koleksi Kartu
Baca Juga: Ramalan Zodiak Gemini 8 November 2025: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan
Kartu merah terbaru menimpa Francisco Rivera saat menghadapi Persik Kediri pada 7 November 2025.
Gelandang asal Meksiko itu disebut melakukan pelanggaran keras yang tak perlu, sehingga ia harus absen di laga panas kontra Arema FC yang memiliki tensi tinggi.
Absennya Rivera menjadi pukulan telak bagi Persebaya Surabaya karena ia merupakan motor serangan dan pengatur ritme permainan tim.
Dalam beberapa pertandingan sebelumnya, kontribusi Rivera terlihat nyata mulai dari membangun serangan hingga menciptakan peluang berbahaya di sepertiga akhir lapangan.
Banyak Pemain Absen
Baca Juga: Anker Innovations Tampilkan Solusi Cerdas untuk Kehidupan Modern di The Anker Playground
Situasi semakin rumit karena sebelumnya, Dejan Tumbas, Leo Lelis, dan Mikael Tata juga sudah menerima kartu merah di laga-laga penting.
Akumulasi kartu merah ini membuat rotasi pemain menjadi terbatas dan memaksa Perez untuk menurunkan komposisi yang tidak ideal.
Akibatnya, struktur permainan Persebaya Surabaya kerap kacau ketika harus menghadapi situasi bermain dengan jumlah pemain lebih sedikit.
Bahkan dalam salah satu laga kontra PSBS Biak, Persebaya Surabaya sempat bertanding hanya dengan sembilan pemain, situasi yang jarang terjadi di level kompetisi profesional.
Kondisi ini berdampak langsung pada hasil pertandingan Persebaya Surabaya di Super League 2025/2026.
Meski sempat unggul saat menghadapi Persik, Green Force harus puas bermain imbang 1–1 karena kesulitan mempertahankan tekanan setelah bermain dengan sepuluh pemain.
Kehilangan pemain kunci seperti Rivera, Tumbas, Lelis, dan Tata membuat skema permainan tidak berjalan sesuai rencana.
Selain itu, pemain pelapis terpaksa harus tampil dalam pertandingan dengan atmosfer tinggi tanpa persiapan matang, yang semakin mempengaruhi stabilitas permainan tim.
Minimnya Kontrol Emosi
Fenomena kartu merah beruntun ini mulai memicu beragam reaksi keras dari Bonek dan pecinta Persebaya Surabaya di media sosial.
Banyak yang menilai Eduardo Perez gagal menanamkan kedisiplinan dan kontrol emosi kepada para pemainnya, sehingga masalah ini terus berulang di setiap pekan.
Komentar bernada frustrasi dan sinis memenuhi lini masa, menuntut evaluasi menyeluruh baik terhadap strategi pelatih maupun dukungan manajemen klub.
Beberapa suporter bahkan menyebut masalah kartu merah ini sudah menjadi “penyakit lama” yang tidak kunjung tuntas dibenahi.
Padahal, pihak manajemen sudah pernah berupaya melakukan perbaikan aspek mental dengan menggandeng Dinas Psikologi Angkatan Laut (Dispsial).
Program itu sempat digadang-gadang sebagai solusi untuk meningkatkan fokus dan kedewasaan pemain dalam menghadapi tekanan pertandingan.
Namun kenyataannya, insiden kartu merah masih terus terjadi dan bahkan semakin sering muncul di momen-momen krusial.
Hal ini menunjukkan upaya tersebut belum berjalan maksimal atau belum benar-benar menyentuh akar permasalahan dalam diri pemain.
Perbaikan Belum Berhasil
Jika situasi ini tidak segera dibenahi, Persebaya Surabaya berisiko kehilangan momentum di Super League musim ini.
Hukuman kartu merah bukan hanya merugikan satu pertandingan, tetapi juga berdampak pada absennya pemain kunci di laga berikutnya yang sama pentingnya.
Konsistensi menjadi kunci bagi Persebaya Surabaya jika ingin kembali meramaikan persaingan papan atas dan merebut posisi terbaik.
Dengan jadwal kompetisi yang ketat, kehilangan pemain inti akan semakin mempersulit langkah tim untuk mengumpulkan poin penting.
Persebaya Surabaya kini memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan dalam memperbaiki disiplin dan mental tanding para pemain.
Kehilangan Momentum
Perubahan tidak bisa hanya dilakukan dalam strategi permainan, tetapi juga dalam membangun karakter, ketenangan, dan kecerdasan dalam mengambil keputusan di lapangan.
Green Force harus bergerak cepat sebelum situasi ini semakin memperburuk posisi mereka di klasemen.
Jika tidak, Persebaya Surabaya akan terus lebih dikenal sebagai tim yang rajin mengumpulkan kartu daripada mencetak gol dan meraih kemenangan.