JawaPos.com — Bonek dan Bonita dipastikan tidak bisa hadir memberikan dukungan langsung untuk Persebaya Surabaya pada Derbi Jawa Timur pekan ke-12 Super League kontra Persik Kediri. Panitia Pelaksana Persik menegaskan laga di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, Jumat (7/11/2025) malam tersebut digelar tanpa kehadiran suporter tim tamu demi alasan keamanan.
Persik Kediri terpaksa menjadi tim musafir dalam pertandingan penting ini setelah Stadion Brawijaya di Kota Kediri dinilai belum memenuhi standar kelayakan untuk digunakan.
Renovasi yang belum rampung membuat izin penggunaan stadion tidak turun meski laga sudah masuk jadwal resmi kompetisi.
Keputusan memindahkan venue ke Stadion Gelora Joko Samudro menjadi langkah paling realistis yang bisa diambil agar pertandingan tetap berlangsung sesuai agenda.
Namun keputusan ini memiliki konsekuensi besar, salah satunya pembatasan jumlah penonton dan larangan masuk bagi suporter tim lawan.
Menurut Tri Widodo, Ketua Panpel Persik Kediri, pihaknya sudah berupaya mencari opsi terbaik agar laga tetap berjalan lancar.
Namun kondisi yang ada membuat panpel harus tunduk pada rekomendasi keamanan yang diberikan aparat terkait.
Panpel hanya mengantongi izin penjualan 2.500 lembar tiket bagi pendukung Persikmania. Jumlah itu langsung habis terjual dan hanya diperuntukkan bagi warga yang memiliki identitas resmi Kabupaten atau Kota Kediri.
Langkah pembatasan tersebut diterapkan agar distribusi suporter lebih mudah diawasi selama perjalanan menuju stadion.
Mengingat jarak Kediri ke Gresik mencapai lebih dari 120 kilometer, pola pergerakan massa menjadi perhatian utama aparat keamanan.
Di sisi lain, keputusan melarang kehadiran Bonek dan Bonita merupakan hasil kesepakatan koordinasi keamanan antara penyelenggara pertandingan dan pihak kepolisian.
Panpel menilai atmosfer derbi rawan memicu gesekan jika kedua kelompok suporter hadir dalam jumlah besar.
Tri Widodo menyebut situasi ini bukan kondisi ideal bagi klub maupun suporter yang ingin mendukung timnya langsung di stadion.
Namun ia menekankan kepatuhan terhadap aturan menjadi prioritas agar pertandingan tidak mengalami penundaan atau pembatalan.
“Kami tidak punya banyak pilihan selain meminjam Stadion Gelora Joko Samudro agar laga tetap bisa digelar sesuai jadwal,” ujarnya.
Ia berharap pertandingan tetap bisa berjalan kondusif dan memberikan tontonan menarik bagi penikmat sepak bola.
“Meski kondisi ini cukup memberatkan klub, kami berusaha tetap mematuhi seluruh aturan demi kelancaran pertandingan,” imbuhnya.
Pihak panpel juga menjalin komunikasi intens dengan komunitas suporter Persik untuk mengatur pola keberangkatan, titik kumpul, hingga jalur perjalanan menuju stadion.
Rombongan Persikmania diarahkan berangkat dalam konvoi terorganisasi untuk mempermudah pengawalan.
Sementara itu, aparat keamanan akan menerapkan penyekatan di sejumlah titik yang dianggap sebagai jalur potensi masuknya suporter Persebaya Surabaya.
Penyekatan tersebut bertujuan mencegah kehadiran Bonek yang mencoba datang secara mandiri ke stadion meski tidak diperbolehkan.
Situasi ini bukan sesuatu yang baru bagi laga Derbi Jawa Timur yang kerap berlangsung dengan ketegangan tinggi antara kedua kubu suporter.
Panpel berharap langkah antisipatif bisa menciptakan suasana lebih terkendali di dalam maupun di luar area stadion.
Persik Kediri menilai dukungan Persikmania yang hadir tetap akan memberikan dorongan moral penting bagi skuad Macan Putih.
Meski jumlah penonton lebih sedikit dari biasanya, dukungan vokal diyakini mampu menambah motivasi pemain.
Sementara bagi Persebaya Surabaya, absennya Bonek di tribun menjadi situasi yang pasti terasa berbeda.
Namun momentum pertandingan tetap menjadi ajang pembuktian kualitas teknis dan karakter tim dalam menghadapi tekanan laga besar.
Derbi ini diprediksi tetap berlangsung panas dan penuh tensi meski tanpa hadirnya dua kubu suporter secara lengkap di stadion.
Rivalitas sejarah tetap hadir di setiap duel kedua tim, baik melalui permainan di lapangan maupun atmosfer persaingan di luar lapangan.
Dengan segala keterbatasan dan tekanan situasi, pertandingan ini menjadi ujian kesiapan organisasi, keamanan, dan mentalitas dari semua pihak yang terlibat.
Publik sepak bola nasional pun dipastikan menantikan bagaimana tensi Derbi Jawa Timur kali ini tersaji di Gresik.
Pada akhirnya, fokus utama panpel adalah memastikan pertandingan berjalan aman, tertib, dan sesuai regulasi yang berlaku. Derbi tetap diharapkan menjadi perayaan sepak bola, bukan pemicu konflik di luar lapangan.