← Beranda

Bongkar Rekor Bernardo Tavares! Sosok Tepat Gantikan Eduardo Perez di Persebaya Surabaya?

Moch. Rizky Pratama PutraSelasa, 28 Oktober 2025 | 16.25 WIB
Bernardo Tavares bisa jadi salah satu pelatih yang cocok nakhodai Persebaya Surabaya. (PSM Makassar)

JawaPos.com — Nama Bernardo Tavares mendadak ramai diperbincangkan Bonek setelah hasil imbang tanpa gol antara Persebaya Surabaya dan PSBS Biak, Jumat (24/10/2025). Banyak suporter menilai pelatih asal Portugal itu sosok paling tepat untuk menggantikan Eduardo Perez yang kini berada di ujung tanduk.

Persebaya Surabaya memang berhasil membawa pulang satu poin dari Sleman, tetapi permainan mereka dinilai jauh dari karakter khas Green Force.

Meski harus bermain dengan sembilan pemain sejak babak pertama, banyak suporter justru menilai masalah utama bukan sekadar kartu merah, melainkan taktik yang tak berjalan sejak menit awal.

Komentar di media sosial klub dipenuhi kritik pedas dan seruan perubahan besar. Tagar #EduOut menggema, menandakan mulai hilangnya kepercayaan publik terhadap sang pelatih asal Spanyol tersebut.

Sebagian besar Bonek menyebut permainan Persebaya Surabaya makin kehilangan arah dan terlalu bergantung pada performa individu.

Sosok Eduardo Perez dianggap belum mampu membangun identitas permainan yang solid dan efisien seperti yang diharapkan pendukung.

“Bukannya pas 11 vs 11 juga susah menang?” tulis salah satu suporter dalam kolom komentar yang disukai ribuan pengguna.

Ucapan itu menggambarkan frustrasi para pendukung yang merasa performa tim stagnan meski materi pemain tergolong kompetitif.

Kiper Ernando Ari memang tampil luar biasa dengan sepuluh penyelamatan penting. Namun statistik menunjukkan betapa Persebaya Surabaya hanya bisa bertahan dan minim ancaman ke gawang lawan.

Dari total 28 tendangan PSBS Biak, sepuluh di antaranya mengarah tepat ke gawang, sementara Persebaya Surabaya hanya mencatat empat percobaan dengan tiga yang on target.

Dominasi penguasaan bola pun hanya 41 persen, angka yang menunjukkan betapa beratnya tim bertahan sepanjang laga.

Narasi klub soal “perjuangan luar biasa” dengan dua pemain lebih sedikit justru memantik reaksi sebaliknya.

Banyak Bonek menilai tim terlalu sering bersembunyi di balik alasan, bukan mencari solusi untuk tampil lebih menyerang dan berani.

Situasi ini membuat nama Bernardo Tavares muncul sebagai harapan baru di tengah kekecewaan suporter.

Rekornya bersama PSM Makassar dianggap bukti konkret kemampuan membangun tim yang tangguh, disiplin, dan efektif di setiap lini.

Dalam empat musim melatih Juku Eja, Tavares mencatat 103 penampilan dengan 45 kemenangan, 37 hasil imbang, dan hanya 21 kekalahan. Ia mampu mengumpulkan total 172 poin dengan rata-rata 1,67 poin per pertandingan.

Catatan itu menunjukkan kestabilan luar biasa, terutama di kompetisi Super League yang terkenal keras dan penuh tekanan. Di bawah asuhannya, PSM mencetak 152 gol dan hanya kebobolan 97, bukti keseimbangan antara lini serang dan pertahanan.

Konsistensi tersebut membuat Bonek yakin Tavares cocok menukangi Persebaya Surabaya yang selama ini terkenal punya gaya bermain cepat dan penuh determinasi.

Mereka percaya pelatih Portugal itu bisa membawa kembali semangat juang yang hilang dari ruang ganti.

Sosok Tavares juga dikenal sebagai pelatih yang dekat dengan pemain dan tegas dalam menjaga disiplin.

Pendekatan itu dianggap sesuai dengan kultur Persebaya Surabaya yang menuntut kerja keras, solidaritas, dan semangat pantang menyerah di setiap pertandingan.

Sebaliknya, Eduardo Perez dinilai terlalu lambat dan belum menemukan formula terbaik untuk memaksimalkan potensi skuadnya. Gaya bermainnya dianggap monoton dan terlalu berhati-hati, membuat tim sulit berkembang.

Banyak suporter menilai Persebaya Surabaya kini butuh pelatih yang berani mengambil risiko.

Dalam pandangan mereka, Tavares adalah figur yang mampu mengembalikan identitas Green Force sebagai tim yang menyerang, agresif, dan penuh energi.

Kegemilangan Tavares di PSM Makassar tak lepas dari kemampuannya membaca karakter pemain lokal.

Ia kerap memberi kesempatan pada pemain muda dan mampu mengangkat performa mereka menjadi andalan di kompetisi kasta tertinggi.

Hal itu selaras dengan filosofi Persebaya Surabaya yang selalu dikenal sebagai “pabrik talenta” dari Surabaya.

Jika manajemen benar-benar ingin menghidupkan kembali roh perjuangan klub, nama Tavares jelas tak bisa diabaikan.

Meski belum ada pernyataan resmi dari manajemen Persebaya Surabaya soal masa depan Perez, tekanan publik terus meningkat dari hari ke hari.

Para suporter menuntut perubahan cepat sebelum posisi tim di klasemen semakin terpuruk.

Situasi ini membuat spekulasi semakin liar, terlebih media sosial klub terus dibanjiri komentar bernada desakan dan kritik.

Bagi banyak pendukung, ini bukan sekadar soal hasil, tapi soal identitas permainan dan kebanggaan terhadap warna hijau kebesaran mereka.

Kini semua mata tertuju pada langkah manajemen Persebaya Surabaya. Apakah mereka akan tetap memberi waktu bagi Eduardo Perez atau mulai bergerak mendekati Bernardo Tavares yang kini tengah diidolakan publik Surabaya.

Satu hal yang pasti, Bonek ingin melihat Persebaya Surabaya kembali menakutkan, bukan hanya bertahan dan berharap keberuntungan.

Di mata mereka, Bernardo Tavares adalah simbol harapan baru untuk mengembalikan kejayaan Green Force di kancah sepak bola nasional.

EDITOR: Banu Adikara