JawaPos.com - Patrick Kluivert telah bertanggung jawab dengan meninggalkan kursi pelatih kepala Timnas Indonesia. Tapi, juru taktik asal Belanda itu dinilai bukan satu-satunya sosok yang harus bertanggung jawab. Erick Thohir sebagai Ketua Umum PSSI juga diminta memikul tanggung jawab besar ini secepatnya.
Patrick Kluivert diumumkan oleh PSSI tak lagi menangani Timnas Indonesia. Legenda Barcelona itu berpisah dengan federasi setelah menyepakati pengakhiran kerja sama lebih awal melalui mekanisme mutual termination.
Perpisahan ini diambil oleh PSSI atas dasar persetujuan kedua belah pihak, dengan mempertimbangkan dinamika internal dan arah strategis pembinaan tim nasional ke depan. Kepergian Patrick Kluivert juga jadi bagian dari evaluasi menyeluruh federasi terhadap program pembinaan dan pengembangan sepak bola nasional.
Pengamat sepak bola Kusnaeni mengatakan, keputusan PSSI memberhentikan Kluivert tidak lah mengagetkan. Menurutnya, langkah tersebut merupakan konsekuensi logis dari hukum sepak bola.
"Pelatih yang gagal memenuhi target idealnya memang menyadari kegagalannya. Kluivert datang ke Timnas Indonesia pada momen yang kurang tepat. Ia datang saat timnas sedang dalam fase yang sangat krusial menuju Piala Dunia (2026). Dan, ia tidak punya cukup pengalaman kepelatihan maupun manajerial menghadapi situasi kritis seperti itu," kata Kusnaeni saat dihubungi, Kamis (16/10).
Ekspektasi publik, disebut Kusnaeni, sangat besar terhadap keberhasilan Timnas Indonesia. Ditambah lagi Patrick Kluivert sebagai pengganti pelatih sebelumnya yang disukai oleh publik dan dianggap cukup berhasil.
"Sayangnya Kluivert gagal memenuhi ekspektasi publik itu. Secara prestasi, ia cuma mempersembahkan dua kemenangan dari enam laga resmi. Tidak meyakinkan. Secara permainan, Kluivert juga tidak mampu memberi warna baru atau meningkatkan level permainan timnas. Bisa dibilang, di tangan Kluivert, timnas masih berkutat di lubang yang sama: kurang tajam, kurang kreatif, dan sering bikin kesalahan sendiri," terang Bung Kus, sapaan akrabnya.
"Secara umum, saya menilai Kluivert tidak cukup mendalam pemahamannya tentang timnas dan sepak bola Indonesia. Mungkin karena ia kurang sering berada di lndonesia. Kekurangpahaman itu yang membuat banyak keputusannya kurang akurat. Lalu, berujung pada hasil-hasil yang mengecewakan," tambah dia.
Kusnaeni pun mengatakan bahwa situasi ini jadi pelajaran besar untuk PSSI terkait pemilihan pelatih. Federasi harus lebih berhati-hati dalam menunjuk nakhoda anyar Timnas Indonesia selanjutnya.
"Jadi, pemberhentian Kluivert sama sekali tidak mengagetkan. Ini sekaligus menjadi pelajaran mahal bagi PSSI agar lebih bijak, semakin hati-hati, dan mau mendengar masukan publik (bukan hanya segelintir orang) dalam membuat keputusan yang sangat penting," jelas Kusnaeni.
Sementara itu, Ignatius Indro sebagai Ketua Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) menyatakan bahwa kegagalan Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026 bukan hanya jadi tanggung jawab Patrick Kluivert. Tapi, juga PSSI, khususnya Erick Thohir sebagai pemimpin federasi.
Menurut Ignatius Indro, PSSI perlu melakukan evaluasi internal, termasuk kemungkinan melakukan pergantian kepemimpinan. Artinya, Erick Thohir harus angkat kaki juga sesuai dengan desakan yang muncul pasca Garuda kalah dari Irak (0-1) akhir pekan lalu.
Tagar #ErickOut sempat menggema juga di media sosial X. Dia jadi sosok kedua yang paling disorot setelah Kluivert.
"Kalau saya juga berpikiran PSSI ini harus juga dievaluasi. Kalau perlu terjadi pergantian kepemimpinan di PSSI karena saya melihat sudah berapa tahun ini PSSI hanya melakukan hal-hal yang lebih kepada retorika dan juga ini, publisitas itu ya. Ini yang yang saya lihat dan dilakukan oleh PSSI tanpa pembenahan benar-benar secara keseluruhan. Ini yang saya pikir harus terjadi perubahan di PSSI," kata Indro dihubungi terpisah.
Erick Thohir sendiri sudah menyampaikan permohonan maafnya kepada publik melalui media sosialnya setelah Timnas Indonesia gagal ke Piala Dunia 2026. Namun, Indro menilai hal itu belum cukup karena ekspektasi masyarakat sangat tinggi.
Selain itu, Indro menilai PSSI kepemimpinan Erick Thohir sejak 2023 juga masih banyak pekerjaan rumah yang tak kunjung diperbaiki, yakni terkait kompetisi dalam negeri hingga pembinaan usia dini.
"Betul (harus out) karena permintaan maaf ini tidak cukup karena harapan masyarakat untuk masalah pilihan dunia saja sudah cukup besar. Apalagi, dengan tidak ada perbaikan liga, tidak ada perbaikan pembinaan usia dini," kata dia.
"Ini yang membuat PSSI harus bertanggung jawab terhadap perbaikan sepak bola secara keseluruhan. Nah, ini mungkin selain #PatrickOut, mungkin harus ada perubahan di kepengurusan PSSI," imbuh Ignatius Indro.
Indro kemudian menyinggung perihal rangkap jabatan yang diemban Erick Thohir. Saat ini orang sepak bola nomor satu di Tanah Air itu sudah naik pangkat karena menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI.
"Ya sekarang, oke banyak yang bilang bahwa kalau misalnya jabatan ganda itu, bahkan Presiden Prabowo sendiri sebagai ketua pencak silat. Tapi, masalahnya ET ini menduduki posisi sebagai Menpora yang dia mengawasi seluruh cabang olahraga, termasuk di dalamnya PSSI. Kan ini lebih membingungkan. Ketika dulu dia menjadi Menteri BUMN, ini mungkin bisa terabaikan walaupun secara aturan tidak bisa dibenarkan juga. Walaupun di statuta tidak terdapat aturan itu," terangnya.
"Namun kan untuk perbaikan bagaimana keadilan bagi cabang olahraga, kita tahu juga bahwa pendanaan Kemenpora ini kan cukup terbatas, nggak terlalu besar ya, cuma Rp 3 triliun dan ini dibagi ke sejumlah cabang olahraga, belum kepemudaan. Nah, ini yang akhirnya nantinya menjadi masalah. Ketidakadilan tentunya akan muncul bagi cabang-cabang olahraga ya, apalagi lainnya di luar sepak bola," jelas Indro menambahkan.
Mantan pemain yang kini menjadi pengamat sepak bola, Supriyono Prima, justru memiliki pendapat berbeda. Eks Indonesia Primavera itu menyatakan bahwa situasi saat ini bukan saatnya saling menyalahkan, tapi siapa yang bertanggung jawab.
Supriyono Prima menilai beban tanggung jawab itu harus dipikul segenap pengurus PSSI, bukan hanya Erick Thohir. Sebab, federasi yang membuat keputusan mengganti pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong, menjadi Patrick Kluivert.
"Kalau ini kan sebenarnya gini kan, yang ramai itu kan tidak harus mencari siapa yang salah, tapi siapa yang mau dalam arti kata ini loh, aku yang punya tanggung jawab gitu loh. Kalau berbicara federasi kan nggak bisa dibilang Pak Erick saja, karena kan ini organisasi gitu loh," ucap Supriyono Prima.
"Artinya, perjudian dengan mengganti Shin Tae-yong menjadi Patrick Kluivert, kemudian gagal. Itu yang sekarang harus dipertanggungjawabkan oleh federasi, bukan sosok Erick Thohir saja. Exco juga harus bertanggung jawab. Ini kan sepak bola, ini kan olahraga yang perlu gentle, perlu orang-orang yang benar-benar fair play dan bertanggung jawab karena sudah mencederai, sudah menyakiti perasaan hati masyarakat Indonesia dengan ekspektasi yang tinggi," imbuh eks Persib Bandung tersebut.