← Beranda
Mata Calvin Verdonk Merah! Bintang Timnas Indonesia Tak Kuasa Menahan Kecewa: Kita Sudah Berikan Segalanya
Moch. Rizky Pratama PutraMinggu, 12 Oktober 2025 | 19.07 WIB
Calvin Verdonk tak kuasa menahan air mata yang jatuh dari matanya. (Instagram @c.verdonk)

JawaPos.com — Mata Calvin Verdonk terlihat merah usai peluit panjang dibunyikan di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, Minggu dini hari WIB. Bek kiri naturalisasi itu tak kuasa menahan kecewa setelah Timnas Indonesia gagal melangkah ke Piala Dunia 2026.

Kekalahan 0-1 dari Irak membuat skuad Garuda terkunci di dasar klasemen Grup B putaran keempat Kualifikasi Zona Asia.

Dua pertandingan berakhir tanpa poin, memupus harapan besar publik tanah air untuk melihat bendera Merah Putih berkibar di panggung sepak bola terbesar dunia.

Bagi Calvin, hasil itu meninggalkan luka mendalam. Ia mengaku seluruh pemain sudah memberikan segalanya di lapangan, tetapi hasil tetap tidak berpihak pada Indonesia.

“Iya, impian sudah berakhir. Sakit sekali, saya tidak tahu berapa banyak kata-kata yang bisa saya gunakan,” ucap Calvin dikutip dari unggahan The Haye Way di Instagram, Minggu (12/10/2025).

“Kita sudah berikan semuanya, tapi kita tidak punya apa-apa lagi. Dua permainan ini tidak cukup,” lanjut pemain yang kini menjadi salah satu andalan di lini pertahanan Garuda tersebut.

Ucapan itu menggambarkan betapa berat perjuangan anak asuh Patrick Kluivert selama dua laga awal putaran keempat. Sebelumnya, Indonesia juga harus mengakui keunggulan Arab Saudi dengan skor tipis 2-3.

Harapan untuk bangkit muncul ketika menghadapi Irak. Skuad Merah Putih tampil berani sejak awal dan sempat beberapa kali mengancam gawang lawan lewat aksi Thom Haye serta Mauro Zijlstra.

Pada menit kesembilan, tendangan Thom Haye hanya menyamping tipis dari gawang Jalal Hasan. Lima menit berselang, umpan tarik Haye disambut Zijlstra, tetapi bola masih bisa ditutup rapat oleh bek Irak.

Indonesia terus menekan hingga akhir babak pertama. Tendangan bebas Dean James di menit ke-44 sempat membuat jantung suporter berdebar, namun bola meluncur tipis di sisi gawang.

Babak kedua dimulai dengan intensitas tinggi. Irak mencoba menekan lebih dulu, tapi Garuda berhasil menahan setiap serangan berkat disiplin lini belakang.

Sayang, petaka datang di menit ke-75. Zidane Iqbal memecah kebuntuan lewat tendangan mendatar yang tak mampu diantisipasi kiper Indonesia. Skor berubah menjadi 1-0 untuk Irak.

Patrick Kluivert segera merespons dengan memasukkan beberapa pemain menyerang. Upaya Ole Romeny dan Kevin Diks sempat membuat pertahanan Irak kewalahan, namun bola tak kunjung bersarang di gawang.

Drama terjadi di penghujung laga ketika Irak harus bermain dengan 10 pemain. Bek tengah Zaid Tahseen diganjar kartu kuning kedua pada menit 90+9, memberi Indonesia sedikit harapan untuk menyamakan kedudukan.

Namun, hingga wasit meniup peluit panjang, skor 1-0 tak berubah. Para pemain Indonesia terlihat tertunduk, sebagian bahkan meneteskan air mata di lapangan.

Di antara mereka, Calvin Verdonk menjadi salah satu yang paling emosional. Wajahnya tampak memerah, matanya berkaca-kaca menahan sedih atas kegagalan membawa Indonesia lebih jauh.

“Ketika saya berada di atas, saya berikan semuanya. Apakah saya sakit atau tidak, saya benar-benar ingin memainkan permainan ini dan membantu tim,” ujarnya dengan nada lirih.

Calvin sempat mengalami cedera ringan saat laga melawan Arab Saudi, tetapi ia tetap memaksakan diri tampil kontra Irak. Ia ingin menebus kekecewaan sebelumnya dan memberikan kontribusi terbaik untuk Garuda.

“Ketika saya berada di laga menghadapi Saudi, saya terluka. Saya ingin memainkan permainan ini, saya ingin membantu tim,” ucapnya menegaskan tekadnya untuk terus berjuang.

Namun perjuangan itu harus berakhir lebih cepat. Gol tunggal Zidane Iqbal menjadi pembeda yang menutup pintu Piala Dunia bagi Indonesia.

“Sayangnya, itu tidak cukup. Saya pikir ini adalah standar yang harus kita bawa ke depan,” ujar pemain berusia 28 tahun itu.

Kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bagi skuad muda asuhan Kluivert. Dua laga menghadapi tim-tim kuat Asia menjadi pengalaman penting sebelum fokus beralih ke ajang berikutnya.

“Sekarang, semuanya bergerak sendiri. Kita harus fokus ke Asian Cup,” tutup Calvin, mencoba menatap masa depan dengan optimisme.

Kata-kata itu menjadi simbol semangat yang belum padam meski impian besar pupus.

Indonesia mungkin gagal ke Piala Dunia, tapi perjuangan dan air mata Calvin Verdonk serta rekan-rekan membuktikan satu hal: Garuda tak pernah berhenti berjuang.

EDITOR: Banu Adikara