← Beranda
Persija Jakarta Beralih Kiblat ke Brasil, 8 Pemain Anyar Siap Bawa Tim ke Puncak Liga 1 2025/2026
Dimas Ramadhan WicaksanaJumat, 10 Oktober 2025 | 20.24 WIB
Mauricio Souza waspada ledakan Dewa United saat jamu Persija Jakarta di pekan 4 Super League 2025/2026. (Media Persija)

JawaPos.com-Persija Jakarta pernah dikenal sebagai tim yang lekat dengan para pemain asing dari Eropa. Tapi, kiblat Macan Kemayoran seketika berpindah jadi Brasil per musim 2025/2026.

Aroma Brasil saat ini sangat kental dalam skuad Persija Jakarta di Super League 2025/2026. Ini terbukti dari banyaknya sosok dari negeri Samba baik di jajaran tim kepelatihan maupun pemain.

Dari tim pelatih misalnya. Ada sosok Mauricio Souza sebagai pelatih kepala. Kemudian para asistennya antara lain Italo Bartole Resende sebagai asisten pelatih teknik, Vitor Branco Da Cruz (pelatih fisik), Gerson Rodrigues Rios (pelatih kiper), dan Caio Vito Jordao (analis), serta Claudio Luzardi sebagai penerjemah.

Koneksi Brasil di Persija pun diperluas Mauricio Souza. Eks pelatih Madura United FC itu mendatangkan sejumlah pemain dari negara sepak bola itu untuk melengkapi 11 pemain asing Macan Kemayoran.

Ada delapan pemain Brasil anyar yang diangkut. Yakni Van Basty Sousa, Fabio Calonego, Gustavo Franca, Thales Lira, Allano Lima, Alan Cardoso, Maxwell Souza, dan Bruno Tubarao.

Kedatangan mereka menambah amunisi Brasil yang sebelumnya sudah ada di Persija. Yakni kiper Carlos Eduardo dan penyerang Gustavo Almeida. Otomatis hanya Ryo Matsumura (Jepang) yang berkewarganegaraan di luar Brasil dalam kuota 11 pilar asing Macan Kemayoran.

Aroma Brasil ini menarik perhatian publik sepak bola nasional. Sebab Persija sebelumnya dikenal sebagai tim yang erat dengan pemain asing dari benua biru alias Eropa.

Setidaknya dari musim 2022/2023, di mana saat itu Persija dilatih Thomas Doll. Macan Kemayoran kala itu punya Ondrej Kudela, Michael Krmencik (Republik Ceko), Hanno Behrens (Jerman), dan Marko Simic (Kroasia).

Lantas apa yang membuat Persija beralih kiblat dari Eropa menjadi Brasil? Bambang Pamungkas selaku Direktur Olahraga Persija menyatakan, sebenarnya sejak awal tak ada pakem spesifik kalau pemain asing Macan Kemayoran harus dari salah satu negara Amerika Latin tersebut.

“Sebenarnya tidak harus (Brasil), sempat ada nama dari Meksiko, Kolombia, dan sebagainya. Tugas saya adalah mengakomodasi keinginan pelatih,” kata Bambang Pamungkas.

“Ada banyak nama. Sempat yang nama yang keluar (menjadi rumor), tetapi tidak jadi. Itu menunjukkan sebenarnya kami tidak hanya fokus pada (pemain) Brasil. (Pemain) yang kita dapatkan saat ini adalah yang sesuai dengan keinginan pelatih," sambung Bepe, sapaan akrab Bambang Pamungkas.

Keputusan itu pun cukup disyukuri Bepe. Sebab para pemain Brasil yang ada sekarang cukup cepat beradaptasi dan nyetel dengan Persija di bawah komando Mauricio Souza.

“Saya cukup merasa senang karena para pemain Brasil yang baru datang ini cukup bisa berbaur. Itu cukup menggembirakan. Karena biasanya pemain yang baru pernah tinggal di Indonesia cukup kesulitan dengan hal tersebut,” ungkap Bambang.

“Mungkin ini juga karena kita punya dua pemain Brasil sebelumnya, (sehingga) cukup bisa membantu proses adaptasi mereka," ucap Bepe menambahkan.

Sementara itu, Mauricio Souza pernah mengatakan bahwa menciptakan koneksi Brasil dalam Persija bukan sebuah kebetulan semata. Dia menyebut para pilar asing yang didatangkan merupakan hasil pemantauan dan bidikannya sebagai pelatih di negaranya sendiri.

“Ya, itu scouting yang saya lakukan. Kebanyakan pemain itu sudah saya kenal sebelumnya, sudah pernah saya lihat bermain. Jadi saya tahu bagaimana mereka bisa tampil,” kata Souza.

“Tapi tentu saja, banyak faktor yang menentukan apakah mereka bisa sukses. Syukurlah, para pemain kami sekarang menjalankan semua yang sudah kami latih. Apa yang saya inginkan dilakukan sama mereka,” sambung dia.

Lantas bagaimana dengan kesan para pemain Brasil di Persija? Sejauh ini semuanya terasa membahagiakan. Hubungan di antara pemain cukup erat dan tak jarang bercanda ria saat latihan maupun di luar lapangan.

Hal itu juga dibuktikan dengan performa mereka di lapangan. Setidaknya oleh beberapa pemain seperti Maxwell Souza yang sudah mencetak empat gol dan jadi topskor tim dan Allano Lima dengan tiga gol.

Lalu Van Basty Sousa dan Fabio Calonego yang tak tergantikan di lini tengah. Begitu pula dengan Alan Cardoso sebagai bek kiri Persija. Hanya Gustavo Franca dan Bruno Tubarao yang sejauh ini kerap dikritik karena belum begitu terlihat performa terbaik.

Penampilan itu seolah menepis keraguan terkait kualitas para pemain tersebut. Langkah Persija merekrut sejumlah pilar Brasil itu memang sempat disorot karena latar belakangnya yang mayoritas dari konpetisi kasta kedua dan ketiga di Liga Brasil.

Gustavo Franca dan Van Basty Sousa misalnya, sebelum bergabung dengan Persija, mereka membela Londrina Esporte Clube. Lalu Fabio Calonego dan Alan Cardoso di AD Confianca.

Bahkan, Fabio Calonego dan Alan Cardoso sempat merasakan kompetisi kasta keempat alias Serie D di Liga Brasil. Fabio Calonego bermain di Serie D bersama Azuriz FC pada 2022 dan Alan Cardoso dengan EC Novo Hamburgo dan EC Avenida pada 2023-2024.

Meski di kasta tiga dan empat, tapi kualitas para pemain Brasil telah terbukti. Maxwell pun pernah mengatakan bahwa semua kompetisi di negaranya sangat kompetitif sehingga bisa bersaing dan menonjol di Indonesia.

"Di Brasil, semua kasta kompetisis susah. Tidak mudah. Tapi, bukan berarti Indonesia tidak. Indonesia juga sangat susah," ucap Maxwell.

"Jadi, kalau mereka membawa kami ke sini, mereka tahu bahwa kami bisa membantu dengan memberikan kualitas untuk klub ini," ucap pemain yang mengidolakan Neymar ini.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah