JawaPos.com — Perjuangan hidup Ramon de Andrade Souza atau akrab disapa Ramon Tanque begitu menggetarkan hati. Striker anyar Persib Bandung ini lahir dari kerasnya kehidupan di Belem, kota pelabuhan di tepian Sungai Amazon, Brasil.
Sebagai satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga sederhana, Ramon kecil tumbuh tanpa kehadiran ayah yang meninggal saat ia masih muda.
Beban menjadi tulang punggung keluarga pun langsung jatuh ke pundaknya, menghidupi ibu dan tiga saudara perempuannya.
Lahir pada 10 September 1998 di Belém, Ramon mengerti betul arti perjuangan sejak usia dini.
Kota kelahirannya memang dikenal sebagai pusat perdagangan di Amazon, namun kehidupan rakyat kecil di sana tak selalu seindah pemandangan sungainya.
Ia tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi, jauh dari kemewahan yang kerap dikaitkan dengan bintang sepak bola. Namun justru dari keterbatasan itulah tekad Ramon untuk sukses muncul, demi membawa keluarga kecilnya keluar dari jerat kemiskinan.
Dalam sebuah wawancara di YouTube Persib Bandung, Ramon mengaku tekanan sejati bukanlah teriakan suporter di stadion.
Menurutnya, tekanan sebenarnya adalah saat tidak ada makanan di rumah untuk keluarga, atau ketika seorang anak kelaparan dan orang tuanya tak bisa memberi makan.
"Di Brasil, setiap orang memiliki kesulitan tertentu ketika masih muda," ujar Ramon Tanque, dikutip dari YouTube Persib Bandung Kamis (31/7/2025).
"Ketika berasal dari keluarga sederhana, keluarga yang tidak punya banyak uang, dan ingin menjadi pemain untuk menghidupi keluarga, ibu."
"Jadi, hampir setiap pemain di Brasil memiliki impian untuk menghidupi keluarga mereka."
"Dan itu juga berlaku bagi saya, bisa menghidupi keluarga saya dengan lebih baik.”.
Kata-kata jujur itu membuktikan di balik tato dan postur sangar seorang striker, ada hati yang lembut dan penuh cinta. Ramon mengaku sangat menyayangi ibunya, saudara-saudaranya, dan juga sang kekasih yang selalu mendukungnya.
"Aku tidak punya ayah, aku punya ibu, aku punya tiga saudara perempuan, aku punya pacar, aku menyukainya,” imbuhnya.
"Aku mencintai ibuku, saudara-saudara perempuanku, pacarku, ya.”
Demi keluarga, Ramon rela mengarungi berbagai negara dan liga. Ia pernah bermain di Brasil, Austria, dan terakhir mencetak sensasi di Liga 1 Kamboja bersama Visakha FC.
Musim 2024-2025 jadi pembuktian Ramon sebagai predator kotak penalti dengan torehan 21 gol dan 5 assist dari 28 laga. Catatan itu mengantarkannya menjadi top skor dan langsung menarik perhatian Persib Bandung.
Posturnya yang tinggi, yakni 1,88 meter, membuatnya unggul dalam duel udara dan jadi ancaman nyata di lini depan. Karakteristik fisiknya yang kuat dan cepat membuatnya dijuluki “Tank”, bukan tanpa alasan.
"Julukan saya, Tank, bukanlah nama saya, melainkan julukan saya," katanya.
Julukan itu melekat karena gaya bermainnya yang agresif dan tak kenal lelah dalam merebut bola dari lawan. Meski keras di lapangan, Ramon dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan pekerja keras di luar pertandingan.
"Julukan ini berasal dari karakteristik saya yang kuat, cepat, dan selalu berjuang merebut bola, berjuang, itulah sebabnya julukan tank muncul" imbuhnya.
Di usianya yang menginjak 26 tahun, Ramon tengah berada dalam masa emas karier seorang striker. Kini, ia memulai tantangan baru bersama Persib Bandung, klub besar Indonesia dengan ambisi besar.
Bergabung pada 9 Juli 2024, Ramon bertekad menorehkan prestasi dan membantu Maung Bandung meraih gelar juara.
Ia ingin mempersembahkan kontribusi maksimal, bukan hanya mencetak gol, tetapi juga membantu tim secara keseluruhan.
Ramon mengerti tekanan akan datang dari banyak sisi: suporter, pelatih, hingga rekan satu tim. Namun ia melihat tekanan itu sebagai motivasi, bukan beban.
Menurutnya, tuntutan dalam sepak bola adalah bagian dari perjuangan menuju kebahagiaan tim. Ia percaya, semua kerja keras akan berbuah manis jika dilakukan bersama dengan hati.
Sebelum membela Visakha FC, Ramon sempat berseragam FC Dornbirn di Austria dengan catatan 21 laga dan 8 gol. Ia juga tampil bersama berbagai klub Brasil seperti Porto Velho EC, São Raimundo EC, hingga Botafogo FC.
Meski sempat hanya mencatat menit bermain yang sedikit di beberapa klub Brasil, Ramon tak pernah menyerah. Mental baja dan semangat juangnya membuatnya terus berkembang hingga dikenal di kancah internasional.
Kota kelahirannya, Belém, memang dikenal sebagai kota pelabuhan penting di Brasil Utara, penuh sejarah dan budaya. Namun bagi Ramon, kota itu adalah saksi bisu perjuangan hidupnya dari nol hingga menjadi striker andalan klub besar.
Belém juga dikenal sebagai pintu gerbang utama ekspor dari Amazon dan pernah berjaya saat era industri karet.
Kini, dari kota yang pernah menjadi pusat kejayaan Brasil itu, lahirlah seorang petarung lapangan hijau bernama Ramon Tanque.
Ia bukan hanya pemain bola, tapi simbol harapan dan bukti mimpi bisa diraih asal mau berjuang. Kini, bersama Persib Bandung, Ramon Tanque bermimpi lebih besar—mengangkat trofi juara dan membahagiakan orang-orang terkasihnya.
Dengan nilai pasar mencapai Rp 3,91 miliar per Mei 2025, Ramon telah membuktikan dirinya pantas bersaing di level atas.
Ia bukan sekadar mesin gol, tetapi sosok inspiratif yang bangkit dari kerasnya kehidupan pinggir Sungai Amazon.
Dari Belém ke Bandung, dari anak miskin ke mesin gol, Ramon Tanque adalah bukti nyata mimpi besar selalu layak diperjuangkan.
Kini, ia siap menuliskan babak baru sejarahnya di Stadion Si Jalak Harupat, demi satu nama: Persib Bandung.