JawaPos.com – Menjelang berakhirnya masa kontrak antara PSSI dan Erspo pada Februari 2026, persaingan menjadi sponsor apparel resmi Timnas Indonesia semakin memanas. Tender terbuka yang dilakukan PT Garuda Sepak Bola Indonesia (GSI) telah mengundang berbagai merek, baik dari luar maupun dalam negeri, untuk memperebutkan hak produksi jersey tim Merah Putih.
Proses tender yang ditutup 10 Juli lalu masih berlanjut ke tahap presentasi. Para peserta diwajibkan menyerahkan proposal maksimal hingga 21 Juli, sebelum dilakukan penilaian menyeluruh.
Dari berbagai nama besar, Adidas menjadi salah satu yang paling disorot. Namun, apakah merek global sekelas Adidas bisa memenuhi ekspektasi para pecinta sepak bola tanah air? Untuk menjawab hal ini, Jawa Pos mewawancarai dua figur penting dalam dunia jersey nasional: Laik Abdullah, Ketua Komunitas Jersey Lamongan (KJLA), dan Amir, kolektor sekaligus seller jersey terkemuka di Indonesia.
Sorotan dari Komunitas Jersey
Laik Abdullah menggarisbawahi kualitas Adidas yang sudah terbukti di berbagai negara top dunia.
“Kelebihannya, Timnas kita bisa memakai jersey yang secara kualitas, teknologi, dan desain setara dengan negara maju seperti Jerman, Spanyol, Argentina, juga klub-klub Eropa seperti Madrid, Arsenal, Juventus,” ucapnya.
Namun, ia juga memberi catatan kritis soal potensi hilangnya sentuhan lokal.
“Kekurangannya, biasanya agak sulit untuk memasukkan unsur filosofi kearifan lokal ke dalam desainnya karena Adidas menggunakan template global. Dan bisa jadi, Adidas tidak akan membuat box eksklusif untuk jersey Timnas, berbeda dengan apparel lokal yang memperhatikan detail itu,” ujar Laik.
Perspektif Kolektor dan Seller Nasional
Senada dengan Laik, Amir yang dikenal luas sebagai seller jersey dengan pelanggan dari berbagai negara, melihat kerja sama dengan Adidas dari sisi yang lebih komersial dan strategis.
“Kelebihan bekerja sama dengan brand besar, standarnya pasti lebih tinggi. Dramanya juga gak banyak. Syukur bisa dapat desain eksklusif,” kata Amir.
Ia mengakui bahwa reputasi Adidas yang stabil, profesional, dan global akan memberi efek positif pada citra Timnas di mata dunia.
Amir juga menyoroti alasan mengapa Adidas mulai melirik Indonesia lebih serius. “Customerku asal Singapura pernah bilang, kalau yang harusnya jadi raja sepak bola Asia Tenggara itu Indonesia, karena animonya beneran gila. Itu bisa jadi pertimbangan Adidas,” ungkapnya.
Menurut Amir, fanatisme suporter Indonesia adalah salah satu aset terbesar sepak bola nasional.
“Dari segi market, Indonesia itu seksi banget. Jersey Timnas selalu laris, bahkan yang KW pun diburu. Buat Adidas, ini peluang emas untuk menjangkau pasar yang sangat loyal,” imbuhnya.
Namun, tidak semua yang bersifat global menjamin kepuasan maksimal. Amir pun memberi catatan penting.
“Ada potensi kita cuma dikasih template, bisa jadi malah teamwear. Itu yang jadi kekurangan Adidas dibanding kalau Timnas dipegang apparel lokal,” tutup Amir.
Pilihan Strategis: Global atau Lokal?
Dengan berbagai pertimbangan di atas, PSSI dihadapkan pada dilema: memilih apparel internasional dengan teknologi tinggi namun desain massal, atau merek lokal yang fleksibel, sarat kearifan lokal, namun kalah dari sisi prestise.
Nama-nama seperti Masagi dan Riors yang juga ikut tender, terbukti mampu memproduksi jersey dengan sentuhan lokal dan nuansa Indonesia yang kental. Mereka lebih terbuka dalam proses desain dan komunikasi dengan federasi maupun komunitas suporter.
Sebaliknya, Adidas dan Puma memiliki pengalaman mendunia serta infrastruktur produksi yang mapan, namun seringkali terlalu kaku mengikuti sistem globalnya. Ini tantangan besar apabila PSSI ingin mempertahankan identitas budaya dalam jersey Timnas.
Siapakah yang Layak?
Tender apparel Timnas untuk periode 2026–2030 akan menjadi penentu arah baru sepak bola Indonesia dalam aspek branding dan budaya. Pengumuman resmi pemenang tender akan dilakukan setelah seluruh peserta melakukan presentasi dan dinilai oleh tim teknis PT GSI.
Terlepas dari siapa yang menang, suara dari komunitas dan para pelaku langsung seperti Laik dan Amir memperlihatkan satu benang merah: jersey Timnas bukan hanya soal kualitas, tapi juga identitas.
“Siapapun yang terpilih nanti, semoga bisa membawa wajah Timnas lebih profesional tapi tetap dengan jiwa Indonesia,” pungkas Laik. Sebab, dalam sepak bola, seragam bukan hanya kain, ia adalah simbol kebanggaan jutaan hati.