← Beranda

Surat Perpisahan Ciro Alves yang Mengharukan untuk Bobotoh, Tanpa Agen dan Penuh Emosi

Alvin Fahrizal BayyuniSenin, 26 Mei 2025 | 18.38 WIB
Ciro Alves (dok. Instagram)
 

JawaPos.com - Surat perpisahan Ciro Alves kepada Bobotoh menjadi viral dan mengundang haru di media sosial. Striker asal Brasil yang telah mengabdi selama tiga musim bersama Persib Bandung itu menuangkan perasaan terdalamnya melalui unggahan Instagram yang penuh emosi. Yang mengejutkan, dalam pesan tersebut, Ciro mengungkap fakta bahwa dirinya tidak memiliki agen ketika bergabung dengan Maung Bandung.

"Tiga tahun yang lalu, saya dipilih oleh kalian untuk mengenakan jersey ini, untuk menjadi bagian dari Persib. Saya tidak pernah punya agen, tidak ada yang menawarkan jalan pintas… tapi kalianlah yang percaya pada saya," tulis Ciro dalam surat perpisahannya yang langsung menyentuh hati jutaan Bobotoh.

Pengakuan tersebut menunjukkan betapa tulus dan sederhananya perjalanan Ciro menuju Persib. Tanpa perantara agen yang biasanya memfasilitasi transfer pemain profesional, kedatangan Ciro ke Bandung murni berdasarkan kepercayaan dan takdir sepak bola yang mempertemukannya dengan klub kebanggaan Jawa Barat tersebut.

Drama Kepergian yang Mencengangkan

Kepergian Ciro dari Persib Bandung memang mengejutkan banyak pihak, terutama para Bobotoh yang sangat mencintai sosok striker berusia 32 tahun itu. Setelah memberikan kontribusi luar biasa dengan 30 gol dan 30 assist dalam 92 penampilan, Ciro harus meninggalkan klub yang telah menjadi rumah keduanya.

Pengumuman perpisahan dilakukan Ciro setelah pertandingan melawan PSS Sleman di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada Sabtu, 26 April lalu. Keputusan mengejutkan ini ternyata bukan karena alasan finansial seperti yang banyak diduga, melainkan karena tidak adanya tawaran kontrak baru dari manajemen PT Persib Bandung Bermartabat (PBB).

Kisah di Balik Kepergian Sang Jagoan

Dalam konfrensi pers yang mengharukan, Ciro membuka semua kartu tentang alasan kepergiannya. Kontrak pemain kelahiran Minas Gerais itu berakhir pada 30 April, namun hingga saat itu manajemen Persib tidak kunjung memberikan tawaran perpanjangan yang konkret.

"Mengapa saya tidak bertahan? Karena Persib tidak memberikan tawaran. Saya tidak pernah menerima tawaran terkait hal ini. Saya menunggu dalam waktu yang lama," ungkap Ciro dengan mata berkaca-kaca di hadapan wartawan.

Terungkap bahwa sebenarnya ada pembicaraan awal antara Ciro dengan Deputy CEO PT PBB, Adhitia Putra Herawan, pada November dan Desember tahun lalu. Namun, diskusi tersebut hanya sebatas obrolan verbal yang tidak berlanjut ke tahap negosiasi serius.

"Dia berbicara kepada saya dan mengatakan, 'Saya hanya bisa memberikan Anda kontrak satu tahun dengan gaji yang diturunkan.' Setelah itu tidak pernah ada pembicaraan lagi," kenang Ciro.

Yang paling menyentuh dari pengakuan Ciro adalah ungkapan cintanya yang tulus kepada Persib dan Kota Bandung. "Saya selalu mengatakan bahwa saya mencintai kota ini, klub ini. Impian saya mengakhiri karier di sini," katanya dengan suara bergetar.

Pernyataan ini sekaligus membantah anggapan sebagian suporter yang menduga Ciro pergi karena menuntut gaji tinggi. Faktanya, pemain yang pernah membela Persikabo 1973 itu sama sekali tidak mempermasalahkan aspek finansial, asalkan ada kepastian kontrak dari manajemen.

"Saya tidak pergi karena masalah gaji, atau karena tidak dapat kontrak tiga tahun. Saya pergi karena Persib tidak memberikan tawaran kepada saya, tetapi sekali lagi, ini hal yang wajar dalam sepak bola," tegas Ciro dengan bijaksana.

Dalam surat perpisahannya di Instagram, Ciro menuangkan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh keluarga besar Persib. Kata-katanya yang penuh makna menggambarkan betapa dalamnya ikatan emosional yang terjalin antara dirinya dengan Bobotoh.

"Hari ini, melihat kembali semua yang telah kita lalui, kita berhasil menjadi juara dua kali. Kita menulis sejarah bersama. Bahkan, dalam mimpi terbaik saya pun, saya tidak pernah membayangkan hal seperti ini bisa terjadi," tulis Ciro mengenang masa-masa keemasan bersama Persib.

Pencapaian dua gelar juara bersama Persib memang menjadi memori terindah dalam karier Ciro. Striker yang datang pada era kepelatihan Robert Alberts itu berhasil membuktikan kualitasnya dan menjadi salah satu pemain asing terbaik yang pernah dimiliki Persib.

"Itu adalah tahun-tahun yang penuh dengan kerja keras, perjuangan, dan pengorbanan. Dan, setiap tetes keringat itu sangat berharga," lanjut Ciro dalam surat perpisahannya yang mengundang air mata para Bobotoh.

Yang paling menyentuh adalah pengakuan Ciro tentang perlakuan istimewa yang diterimanya dan keluarga dari keluarga besar Persib. "Kalian menyambut kami seolah-olah kami adalah bagian dari rumah ini. Itu tak ternilai harganya," ungkapnya dengan penuh haru.

Warisan yang Tak Terlupakan

Tiga musim bersama Persib telah mengukir jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah klub maupun dalam hati Ciro sendiri. Statistik 30 gol dan 30 assist dalam 92 penampilan menjadi bukti nyata kontribusinya yang luar biasa. Namun, lebih dari angka-angka tersebut, Ciro telah menjadi bagian integral dari keluarga besar Persib yang tidak mudah dilupakan.

Kepergiannya tentu meninggalkan kekosongan besar, baik dari segi kualitas permainan maupun karakter kepemimpinan di dalam tim. Sosok Ciro yang humble dan selalu memberikan yang terbaik telah menjadi inspirasi bagi rekan-rekan setimnya maupun generasi muda pencinta sepak bola Indonesia.

Ikatan Abadi dengan Persib

Meski kini berpisah secara fisik dengan Persib, ikatan batin antara Ciro dengan keluarga besar Maung Bandung tidak akan pernah putus. Hal ini tercermin dari kalimat penutup surat perpisahannya yang penuh makna.

"Saya membawa pulang rasa hormat kepada setiap orang yang menjadi bagian dari perjalanan ini. Dan, lebih dari segalanya, saya membawa kesetiaan kita, ikatan sejati yang telah kita bangun. Ini lebih dari sekadar sepak bola. Ini untuk seumur hidup," tulis Ciro mengakhiri pesannya.

Ungkapan "ini untuk seumur hidup" menjadi penegasan bahwa Ciro akan selamanya menjadi bagian dari sejarah Persib, meski tidak lagi mengenakan jersey biru. Bobotoh pun merespons dengan hangat, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada sosok yang telah memberikan segalanya untuk klub kesayangan mereka.

Fakta bahwa Ciro bergabung tanpa bantuan agen semakin menguatkan kesan bahwa kedatangannya ke Persib murni karena takdir dan cinta sejati terhadap sepak bola. Tidak ada motif komersial atau jalan pintas yang mempertemukan dirinya dengan Persib, melainkan kepercayaan dan keyakinan yang tulus dari kedua belah pihak.

Kisah perpisahan Ciro Alves menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola, kadang hubungan yang paling indah justru harus berakhir dengan cara yang tidak diinginkan. Namun, kenangan indah dan prestasi yang telah diraih bersama akan selamanya menjadi bagian dari sejarah yang tak terlupakan.

"Terima kasih untuk segalanya, dari lubuk hati saya yang paling dalam," demikian kalimat terakhir Ciro yang akan selamanya terukir dalam hati setiap Bobotoh yang pernah menyaksikan aksi gemilangnya di lapangan hijau.

EDITOR: Edi Yulianto