← Beranda
Suporter PSIM Yogyakarta Siap Nyanyikan Lagu 'Bayar Bayar Bayar' dari Sukatani di Final Liga 2 Lawan Bhayangkara FC, Sinyal Perlawanan?
Moch. Rizky Pratama PutraSabtu, 22 Februari 2025 | 16.43 WIB
Pemain PSIM membentangkan spanduk Brajamusti. (Media PSIM)
 

JawaPos.com — Lagu "Bayar Bayar Bayar" dari band punk Sukatani semakin viral setelah digunakan dalam berbagai aksi demonstrasi mahasiswa. Lagu tersebut kini kembali menjadi perbincangan setelah kelompok suporter PSIM Yogyakarta berencana menyanyikannya di final Liga 2 melawan Bhayangkara FC.

Sukatani secara resmi menarik lagu itu dari semua platform digital pada Kamis (20/2/2025). Keputusan ini diambil setelah adanya dugaan permintaan dari institusi kepolisian yang merasa tersinggung dengan lirik "Bayar Polisi."

Dalam unggahan di media sosial mereka, dua personel Sukatani, Muhammad Syifa Al Lutfi dan Novi Citra Indriyati, menyampaikan permintaan maaf kepada Polri. Mereka mengakui lagu tersebut telah menimbulkan kontroversi dan tidak ingin memperkeruh situasi.

Meski lagu itu telah ditarik dari peredaran, kelompok suporter PSIM tampaknya tak peduli. Mereka justru berencana tetap menyanyikan lagu tersebut dalam laga final Liga 2 yang digelar pada Rabu (26/2/2025).

Kelompok Brajamusti dan Mataram Horde, dua elemen suporter PSIM, mengungkapkan rencana itu melalui akun media sosial X. "Di final melawan Bhayangkara akan tetap bergema lagu 'Bayar Bayar Bayar,'" tulis salah satu unggahan mereka.

Keputusan ini tentu memancing reaksi beragam, terutama karena Bhayangkara FC merupakan klub yang dimiliki oleh institusi Polri. Bagi suporter PSIM, momen ini dianggap sebagai kesempatan menunjukkan sikap mereka terhadap berbagai isu yang berkembang.

Dukungan untuk aksi ini juga datang dari berbagai kelompok suporter lain yang merasa lagu tersebut mewakili suara kritik terhadap institusi tertentu. Bagi mereka, sepak bola bukan hanya tentang pertandingan di lapangan, tetapi juga tentang ekspresi dan perlawanan.

Panitia penyelenggara Liga 2 masih belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait rencana ini. Namun, wacana larangan terhadap nyanyian tersebut bisa saja muncul jika dianggap berpotensi mengganggu ketertiban.

Bhayangkara FC sendiri sejauh ini belum memberikan respons terkait rencana suporter PSIM. Klub tersebut lebih memilih fokus pada persiapan tim dalam menghadapi laga krusial ini.

Sebagai pertandingan final, duel antara PSIM dan Bhayangkara FC diprediksi akan berlangsung panas, baik di dalam maupun luar lapangan. Atmosfer pertandingan bisa semakin memanas jika nyanyian suporter benar-benar menggema di stadion.

Suporter PSIM dikenal dengan militansi dan kreativitas mereka dalam mendukung tim. Tak jarang, aksi mereka di tribun menjadi bagian dari cerita besar sebuah pertandingan.

Namun, bagi sebagian besar suporter PSIM, aksi ini bukan semata-mata tentang klub, tetapi tentang menyuarakan sesuatu yang lebih besar. Mereka menganggap nyanyian ini sebagai simbol perlawanan terhadap hal-hal yang dianggap tidak adil.

Sejarah suporter di Indonesia memang kerap menunjukkan keterlibatan dalam isu-isu sosial dan politik. Lagu-lagu dengan muatan kritik sosial sering kali menjadi bagian dari atmosfer stadion.

Situasi ini mengingatkan pada berbagai kasus sebelumnya di mana lagu-lagu tertentu dilarang dinyanyikan di stadion karena alasan politis. Namun, biasanya larangan seperti ini justru membuat lagu tersebut semakin populer di kalangan suporter.

Terlepas dari kontroversi yang terjadi, pertandingan final Liga 2 ini dipastikan akan menjadi salah satu laga paling menarik tahun ini. Tak hanya karena persaingan di lapangan, tetapi juga karena dinamika di tribun penonton.

Bagi PSIM, kemenangan di final ini bukan hanya soal meraih trofi, tetapi juga tentang membawa klub kembali ke Liga 1 setelah sekian lama. Ini menjadi kesempatan emas bagi tim untuk kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Sementara itu, Bhayangkara FC juga memiliki ambisi besar untuk kembali ke Liga 1 setelah terdegradasi musim lalu. Mereka dipastikan akan tampil habis-habisan untuk meraih tiket promosi.

Laga ini akan menjadi ujian bagi kedua tim, tidak hanya secara teknis tetapi juga mental. Atmosfer yang panas di tribun bisa menjadi faktor penentu dalam jalannya pertandingan.

Baik PSIM maupun Bhayangkara FC memiliki basis suporter yang loyal, meski dengan karakter yang berbeda. PSIM dikenal dengan basis suporter tradisional yang kental, sementara Bhayangkara lebih identik sebagai klub yang dimiliki institusi negara.

Jika rencana suporter PSIM benar-benar terwujud, ini bisa menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah final Liga 2. Pihak keamanan tentu akan bekerja keras untuk memastikan situasi tetap kondusif.

Meski demikian, sejarah telah membuktikan upaya membungkam suara-suara di stadion sering kali berakhir sia-sia. Sepak bola, bagi sebagian orang, lebih dari sekadar olahraga, tetapi juga sarana menyampaikan pesan.

Apapun yang terjadi nanti, pertandingan ini sudah pasti akan menjadi sorotan. Tak hanya dari sisi olahraga, tetapi juga dari sisi sosial dan politik yang menyertainya.

Kini, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah suporter PSIM akan benar-benar merealisasikan rencana mereka? Dan jika ya, bagaimana reaksi dari pihak keamanan dan penyelenggara liga terhadap aksi tersebut?

Jawaban dari pertanyaan ini akan terungkap pada 26 Februari 2025, saat PSIM dan Bhayangkara FC bertemu di final Liga 2. Satu hal yang jelas, duel ini akan lebih dari sekadar pertandingan sepak bola biasa.

EDITOR: Edi Yulianto