← Beranda

Mengenang Momen Mendebarkan Kala Persebaya Surabaya Disahkan PSSI Tanpa Embel-Embel 1927

Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 24 Januari 2025 | 17.10 WIB
Para pemain seleksi menyambut gembira kepastian nasib Persebaya Surabaya di kompetisi resmi setelah diakui PSSI. (Angger Bondan/Jawa Pos)

JawaPos.com — Persebaya Surabaya, klub kebanggaan Kota Pahlawan, pernah mengalami masa kelam sebelum kembali diakui secara resmi pada 13 Juli 2017. Hanya sebuah palu kongres yang kala itu menjadi penentu nasib Green Force untuk kembali ke kompetisi resmi.

Kisah mendebarkan ini dimulai dengan pernyataan optimistis Hidayat, anggota Exco PSSI saat itu, yang memastikan Persebaya Surabaya akan segera dipulihkan.

“Kembalinya Persebaya ke kompetisi resmi itu sudah tidak terbendung lagi. Pak Edy (Rahmayadi, ketua umum PSSI, Red) juga memiliki spirit besar untuk itu,” ujarnya usai rapat Exco di Makostrad, Jakarta.

Rapat tersebut membahas beberapa agenda penting, termasuk pemulihan Persebaya Surabaya, Persibo Bojonegoro, dan Persema Malang. Selain itu, diskusi mengenai pelatih tim nasional juga menjadi topik hangat di rapat tersebut.

Kepastian Persebaya Surabaya akan disahkan menjadi anggota PSSI ditegaskan oleh Sekjen PSSI saat itu, Ade Wellington. Menurut Ade, mayoritas voters memiliki spirit yang sama untuk mengakui kembali Persebaya Surabaya.

Namun, para pendukung Persebaya Surabaya sempat skeptis mengingat kegagalan serupa terjadi pada November 2016. Kala itu, agenda pengesahan Persebaya Surabaya tidak dibahas dalam kongres, membuat nasib klub ini semakin terombang-ambing.

Bedanya, kali ini ada jaminan langsung dari Edy Rahmayadi, Ketua Umum PSSI sekaligus Ketua Task Force untuk menyelesaikan masalah Persebaya Surabaya. Edy bahkan turun langsung menggali informasi terkait situasi Persebaya Surabaya.

“Dan, beliau sudah mendapat informasi yang utuh. Saya kira semua sudah jelas, Persebaya akan bermain di kompetisi musim depan,” ujar Hidayat dengan nada penuh keyakinan.

Pengesahan Persebaya Surabaya juga mendapat dukungan dari manajer Persema saat itu, Totok Sukarjito, yang menyebut Edy sudah mengizinkan secara lisan. Tinggal menunggu waktu bagi Persebaya Surabaya, Persema, dan Persibo untuk bermain di Divisi Utama.

“Pengesahannya tinggal menunggu kongres di Bandung,” kata Totok.

Hidayat memastikan, Persebaya Surabaya yang disahkan adalah tim yang bermarkas di Karanggayam, Surabaya. Itu berarti tanpa embel-embel 1927.

"Intinya, kami tidak mengenal Persebaya 1927 karena selama ini mereka belum secara resmi terdaftar sebagai anggota PSSI," ucap pria yang juga mantan manajer Persebo Bondowoso itu.

Empat hari berselang, tepatnya pada 17 Juli 2017, euforia menyelimuti Persebaya Surabaya. Tim yang kala itu dilatih Ahmad Rosidin mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke kompetisi resmi.

“Keberhasilan ini (Persebaya kembali diakui, Red) adalah kemenangan semuanya. Termasuk para pemain yang selama ini menunjukkan loyalitas tinggi di tim ini,” ucap Ahmad. Ia mengapresiasi loyalitas para pemain senior seperti Mat Halil, Jefri Prasetiyo, dan Dedy Sutanto.

Tak hanya pemain senior, talenta muda seperti Thaufan Hidayat dan Misbakhus Solikin juga ikut menjaga semangat latihan. Beberapa pemain klub internal seperti Abu Rizal Maulana, Calvin Mario Hegemur, dan Bagus Jepisa juga turut bergabung.

Rachmat Irianto, putra legenda Persebaya Surabaya Bejo Sugiantoro, menjadi salah satu nama yang mencuri perhatian. Pemain asal klub Indonesia Muda itu menunjukkan dedikasi tinggi dalam setiap sesi latihan.

Jumlah pemain yang ikut latihan semakin bertambah, mencapai sekitar 40 orang dalam satu pekan terakhir. Hal ini membuat suasana tim semakin bergairah menjelang turnamen Piala Kapolda Jogjakarta.

Nama-nama besar seperti Dimas Galih, yang sebelumnya membela Persegres Gresik United, juga bergabung untuk memperkuat tim. Bahkan, Khomad Suharto, juara ISC B bersama PSCS Cilacap, terlihat antusias bergabung.

Rendi Irwan, mantan pemain Persik Kediri, mengakui pesona Persebaya Surabaya tak pernah pudar meski sempat vakum. “Saya memang belum sempat gabung latihan, terutama saat pagi. Tetapi, saya tetap mengutamakan Persebaya,” tegasnya.

Mat Halil, salah satu pemain senior, merasa bangga melihat semangat pemain muda yang terus membara. “Semoga semangat pemain muda tidak padam. Jangan bosan repot bersama Persebaya,” ujarnya penuh harap.

Manajer Persebaya Surabaya saat itu, Choesnoel Farid, memastikan tim akan mempersiapkan skuad terbaik untuk turnamen Piala Kapolda Jogjakarta. Nama-nama pemain yang akan dibawa masih dalam proses diskusi intensif.

Kini, delapan tahun berselang, Persebaya Surabaya menjadi salah satu tim terkuat di Liga 1 Indonesia. Dengan raihan 37 poin hingga pekan ke-19, Green Force bertengger di peringkat kedua klasemen sementara.

Momentum ini menjadi pembuktian perjuangan panjang pada 2017 tidak sia-sia. Persebaya Surabaya kini berpeluang mencatatkan tinta emas dengan meraih gelar juara Liga 1 musim ini.

Perjalanan panjang Persebaya Surabaya dari pengesahan hingga menjadi kandidat kuat juara adalah bukti semangat tanpa henti. Kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk terus mendukung Green Force di setiap langkahnya.

Mampukah Persebaya Surabaya mengukir sejarah di musim ini? Jawabannya ada dalam setiap perjuangan tim di lapangan hijau.

EDITOR: Edy Pramana