JawaPos.com — Persebaya Surabaya tak pernah lepas dari cerita para pemain legendaris yang telah mengukir prestasi gemilang. Salah satu sosok yang tak terlupakan adalah Andreas Johanes Kastanja, atau yang lebih akrab disapa Yongki Kastanya, pria asal Ambon, Maluku, yang menjadi andalan Green Force di era 1980-an.
Yongki merupakan bagian dari skuad hebat Persebaya Surabaya ketika menjuarai kompetisi Perserikatan musim 1987/1988. Gelar itu diraih setelah kemenangan dramatis 3-2 atas Persija Jakarta di partai final, yang membuat namanya semakin bersinar di kalangan Bonek.
Meski dikenal sebagai salah satu legenda Persebaya Surabaya, perjalanan Yongki menuju puncak kariernya tidaklah mudah. Pria kelahiran Ambon itu harus menempuh jalur panjang dari kampung halamannya sebelum akhirnya menjadi gelandang yang disegani di Surabaya.
Bakat Yongki dalam bermain sepak bola sudah terlihat sejak usia belia. Ia memulai perjalanan sepak bolanya dengan berlatih sendiri di sekitar rumahnya yang berdekatan dengan Stadion Mandala Remaja, Ambon.
Sejak duduk di bangku SD dan SMP, Yongki sudah menunjukkan minat besar pada sepak bola. Berawal dari bermain di lapangan sekitar rumah, ia kemudian bergabung dengan tim lokal milik orang tua pemain legendaris Rochi Putiray pada tahun 1978.
"Awal mulai saya belajar main bola sejak SD dan SMP dengan berlatih sendiri. Kebetulan di depan rumah ada stadion Mandala Remaja. Lalu saya gabung dengan tim milik orang tua Rochi Putiray kelas 1 SMP tahun 1978," kata Yongki Kastanya dalam kanal YouTube Omah Balbalan.
Bakat alami Yongki semakin terasah ketika ia bermain untuk PSA Ambon, klub lokal yang menjadi pijakan awalnya. Peluang besar datang ketika tim internal Persebaya Surabaya, Assyabaab, mengadakan tur ke Ambon dan menemukan bakat istimewanya.
"Awal latihan hanya lari-lari, tendang-tendang bola, belum dilatih seperti posisi pemain, tidak seperti sekarang. Lalu masuk PSA Ambon kelas 3 SMP, lawan Assyabaab yang lagi tur ke Ambon. Sekaligus pintu masuk saya ke Surabaya. Mungkin melihat saya potensial, untuk itu harus ke Jawa (Surabaya)," kenang Yongki.
Perpindahannya ke Surabaya membuka babak baru dalam karier Yongki. Ia bergabung dengan Assyabaab, tim yang didirikan oleh komunitas Arab di Surabaya, dan harus beradaptasi dengan lingkungan barunya yang mayoritas muslim.
"Saya sempat bertanya dalam hati apakah pas ada di tim ini? Ternyata banyak orang arab-arab dari Ambon yang secara dialek sama dengan tempat tinggal saya. Jadi tidak merasa jauh atau asing, meski secara iman kita berbeda. Saya harus bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri sebagai pendatang," jelasnya.
Adaptasi itu tidak hanya soal budaya, tetapi juga melibatkan penyesuaian terhadap kebiasaan tim. Yongki bahkan ikut berpuasa saat Ramadan meski memiliki keyakinan yang berbeda dengan rekan-rekannya.
Performa Yongki bersama Assyabaab terus menanjak hingga ia dipercaya menjadi kapten tim. Penampilannya yang konsisten membuatnya dipromosikan ke tim utama Persebaya Surabaya, langkah yang semakin mengukuhkan namanya.
"Pernah ditunjuk sebagai kapten Assyabab saat kompetisi internal Surabaya. Setiap bulan Ramadan saya juga harus menyesuaikan, dan ikut puasa," papar Yongki.
Yongki mengalami puncak kariernya bersama Persebaya Surabaya dalam waktu singkat. Hanya dalam tiga tahun, ia berhasil membawa tim ini menjadi juara ketiga Perserikatan, pencapaian besar yang diikuti dengan debutnya di Stadion Senayan.
Namun, perjalanan Yongki di Persebaya Surabaya sempat terhenti pada musim 1985/1986. Kala itu, mayoritas pemain Persebaya Surabaya diambil dari klub Suryanaga, yang membuatnya harus menunggu hingga musim berikutnya untuk kembali ke tim.
Musim 1987 menjadi momen yang sulit dilupakan oleh Yongki. Ia berhasil membawa Persebaya Surabaya melangkah ke final Perserikatan, meski harus absen karena sakit parah saat melawan PSIS Semarang di partai puncak.
Kegagalan di final melawan PSIS menjadi pelajaran berharga bagi Yongki. Ia menebus kekalahan tersebut dengan membantu Persebaya Surabaya meraih gelar juara pada musim berikutnya, yang menjadi puncak kariernya di klub ini.
"Saya kelelahan, panas tinggi sebelum lawan PSM di semifinal. Saya dipaksa main walau sedang sakit, kami lolos ke final, tapi saya ke rumah sakit. Meski kalah di final dari PSIS, saya menebusnya tahun berikutnya dengan gelar juara," ujar Yongki Kastanya mengenang memori tersebut.
Yongki adalah contoh nyata bagaimana kerja keras dan ketekunan dapat mengubah nasib seseorang. Dari seorang anak muda di Ambon yang bermain bola di lapangan sederhana, ia menjadi bagian dari sejarah besar Persebaya Surabaya.
Kesuksesan Yongki tak hanya menjadi cerita inspiratif bagi para pemain muda, tetapi juga memperkuat hubungan antara Ambon dan Surabaya dalam dunia sepak bola. Hingga kini, namanya tetap dikenang sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Persebaya Surabaya.
Perjalanan karier Yongki Kastanya adalah bukti mimpi besar bisa dicapai dengan tekad yang kuat. Kisahnya akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang Green Force di sepak bola Indonesia.