← Beranda
Pemandangan Langka 27 Tahun Lalu saat Aremania Aman Berjingkrak di Kandang Persebaya Surabaya
Moch. Rizky Pratama PutraJumat, 6 Desember 2024 | 17.03 WIB
Aksi suporter Arema di Gelora 10 Nopember kala itu. (JawaPos)
 

JawaPos.com — Pada 16 November 1997, sebuah pemandangan tak biasa terjadi di Stadion Tambaksari, Surabaya. Puluhan Aremania, suporter Arema Malang, hadir dan bersorak dengan aman di kandang Persebaya Surabaya.

Momen itu menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya suporter lawan hadir di Surabaya dengan identitas jelas tanpa memicu kerusuhan besar. Hal ini semakin spesial karena rivalitas panjang antara Bonek dan Aremania sering kali diwarnai tensi tinggi.

Jawa Pos pada 17 November 1997 menyoroti momen tersebut dalam artikel berjudul "Pemandangan ‘Aneh’ di Tambaksari – Suporter Arema Aman Berjingkrak". Berita itu ditempatkan di pojok kiri bawah halaman khusus olahraga, mencatat bagaimana suasana saat itu jauh lebih damai dari biasanya.

Derbi Jawa Timur itu berakhir dengan skor 0-0, hasil yang sebenarnya kurang memuaskan bagi kedua tim. Namun, sorotan utama bukanlah pertandingan itu sendiri, melainkan sikap arif ribuan Bonek yang memilih menahan diri.

Alih-alih melakukan aksi kekerasan, Bonek hanya melontarkan olok-olok kepada Aremania yang menempati pojok kiri tribun VIP. Panitia pelaksana dari Persebaya Surabaya turut diapresiasi karena menyediakan tempat khusus bagi suporter tamu dan memastikan mereka keluar lebih awal dari stadion.

Pertandingan ini menjadi pembuka Liga Indonesia musim 1997/1998, sebuah musim yang penuh tantangan dan akhirnya berhenti di tengah jalan akibat situasi politik nasional. Meski demikian, momen damai di Tambaksari tetap dikenang sebagai tonggak positif dalam sejarah rivalitas Bonek dan Aremania.

Musim sebelumnya, tepatnya 26 Maret 1996, Persebaya Surabaya membantai Arema dengan skor telak 6-1 di Tambaksari. Namun, dalam laga 1997 ini, striker andalan Persebaya Surabaya, Jacksen F. Tiago, gagal mencetak gol meski mendapatkan empat peluang emas.

“Tuhan tak menghendaki kami menang, ya inilah hasilnya,” kata Jacksen dikutip Jawa Pos edisi 17 November 1997.

Setelah pertandingan di Tambaksari, Persebaya Surabaya mengawali musim dengan kurang baik. Sebagai juara bertahan, mereka hanya meraih hasil imbang 0-0 dalam dua laga awal melawan Arema dan Persiraja Banda Aceh.

Uniknya, kehadiran Aremania di Surabaya ternyata tidak diumumkan secara besar-besaran sebelumnya. Jawa Pos edisi 16 November 1997 hanya membahas kondisi teknis tim dan menyebut Persebaya Surabaya diunggulkan menang tipis meski lini tengah mereka bermasalah.

Keberangkatan Aremania sendiri diatur dengan rapi oleh Komandan Distrik Militer Kota Malang, Letkol Inf Sutrisno, yang juga Ketua Arema saat itu. Mereka berangkat pukul 10 pagi dari Stasiun Kota Baru dengan kawalan ketat petugas keamanan.

Momen tersebut membuktikan bahwa rivalitas sengit dalam sepak bola sebenarnya bisa diredam dengan pengelolaan yang baik. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah situasi damai ini bisa terulang di Malang saat putaran kedua.

Sayangnya, jawaban untuk pertanyaan itu adalah tidak. Ketika Persebaya Surabaya bertandang ke Stadion Gajayana, Malang, pada 12 April 1998, Bonek tidak diperbolehkan hadir.

Ratusan Bonek yang mencoba mendukung tim mereka di Malang dipulangkan dengan sepuluh truk militer ke Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur. Situasi keamanan menjadi alasan utama pelarangan tersebut, mengingat tensi tinggi yang masih membayangi.

Pertandingan di Malang juga berakhir dengan skor 0-0. Meski relatif aman, ada beberapa insiden kecil seperti lemparan batu ke lapangan yang justru mengenai pemain Arema sendiri, Rudy Haryantoko.

Pasca pertandingan, pemain Persebaya Surabaya langsung dievakuasi menggunakan bus milik Kodam V Brawijaya dengan pengawalan ketat satu peleton Yonif 507. Bus mereka tetap menjadi sasaran lemparan batu hingga kaca depannya pecah saat masuk dan keluar stadion.

Kembali ke Tambaksari, momen damai pada 1997 itu kini dikenang sebagai sinyal baik bagi sepak bola Indonesia. Sayangnya, setelah 27 tahun berlalu, kondisi seperti itu masih sulit terwujud kembali.

Pada Derbi Jatim di Liga 1 2024/2025 antara Persebaya Surabaya dan Arema FC yang akan digelar Sabtu, 7 Desember 2024, di Gelora Bung Tomo, suporter tim tamu dilarang hadir. Kebijakan ini merupakan bagian dari aturan PSSI untuk mencegah kericuhan di stadion usai Tragedi Kanjuruhan.

Derbi Jatim memang selalu menjadi pertandingan penuh tensi dengan rivalitas historis yang panjang. Namun, larangan kehadiran suporter lawan membuat momentum damai seperti pada 1997 semakin sulit untuk terulang.

Momen 27 tahun telah berlalu, apa yang terjadi di Tambaksari pada 1997 tetap menjadi pelajaran penting. Rivalitas tak harus selalu berujung pada konflik, dan damai bisa tercipta dengan pengelolaan yang bijak.

Semoga suatu hari nanti, sepak bola Indonesia dapat kembali menyaksikan rivalitas penuh gengsi yang berjalan dalam suasana damai. Momentum bersejarah seperti di Tambaksari 1997 seharusnya menjadi inspirasi untuk masa depan sepak bola Tanah Air.

EDITOR: Edi Yulianto