← Beranda

Nur’alim, Mantan Bek Persija Kenang Kekuatan Macan Kemayoran sebelum Era 2011-an

Taufiq ArdyansyahMinggu, 17 November 2024 | 16.57 WIB
Mantan pemain belakang Timnas dan Persija Jakarta Nur Alim. (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)

Nur’alim pernah menghiasi panggung lapangan hijau di tanah air. Pria yang semasa aktif berposisi sebagai bek itu sudah mengantongi 50 caps di tim nasional Indonesia. Namun, sejak 2011, dia memutuskan untuk gantung sepatu. Apa kesibukannya sekarang? Berikut wawancara Jawa Pos dengan pemain yang akrab disapa Jabrik itu.

Apa kabar, Bang Jabrik?

Alhamdulillah, kabar baik. Sehat walafiat.

Setelah pensiun sebagai pesepak bola, apa kesibukannya, Bang?

Passion saya adalah sepak bola. Jadi, saya tidak bisa jauh dari sepak bola. Sekarang saya melatih pemain-pemain muda yang ada di Asosiasi Kota (Askot) PSSI Bekasi. Kebetulan saya sudah punya lisensi B AFC. Selain itu, saya bisnis gabung sama teman-teman di proyek.

Proyek apa, Bang?

Ada lah hehehehe. Yang pasti, saya bekerja kalau ada proyek. Tapi, saya fokus di kepelatihan.

Sulit nggak berkarier sebagai pelatih?

Apa yang saya alami dulu sebagai pemain dan sekarang sebagai pelatih berbeda sekali. Jadi pelatih ternyata susah. Sebelum melatih, pelatih harus membuat program latihan. Sedangkan dulu waktu masih bermain, saya hanya menerima program latihan. Tinggal ikut arahan.

Apakah ada rencana untuk menjadi pelatih Liga 1?

Ada arah ke sana. Tapi, saya mau memulainya dari bawah. Menanjak pelan-pelan. Nanti ada pengalaman dan evaluasi diri.

Sebagai mantan pemain Persija, apakah Bang Jabrik masih mengikuti perkembangan Persija?

Tentu saja masih. Walau sekarang lebih sering menonton pertandingan Persija di televisi, saya terkadang juga datang ke stadion.

Bagaimana melihat Persija saat ini?

Tiap tahun materinya berbeda. Sebaiknya, manajemen Persija harus mempersempit gap antara pemain inti dan pengganti. Persija ini tim elite. Tapi, sekarang dipandang sebelah mata karena tidak berprestasi.

Bagaimana Persija era Bang Jabrik dulu?

Saya bermain untuk Persija pada periode 1996–2002. Saya pernah meraih gelar juara Liga Indonesia bersama Persija pada 2001. Zaman saya dulu, gap antara pemain inti dan pengganti tidak jauh. Mayoritas pemain berlabel tim nasional Indonesia. Kalau pemain inti diganti, yang masuk menggantikannya adalah pemain timnas.

Apa yang mengakibatkan jauhnya gap antara pemain inti dan pengganti Persija?

Persoalannya ada pada jam terbang. Pemain muda harus diberi kesempatan bermain. Di sisi lain, pemain muda harus bisa mengimbangi pemain senior. Kalau diberikan kesempatan bermain, harus bisa menunjukkan kualitasnya.

Sebagai mantan pemain timnas Indonesia, bagaimana melihat perkembangan timnas saat ini?

Bagus, ya. Materi pemainnya bagus. Meski ada banyak pemain naturalisasi, semua pemainnya memiliki garis keturunan Indonesia. Kehadiran mereka membuat pemain asli berdarah Indonesia harus bekerja keras untuk bersaing. Ini membuat mereka jadi punya mental yang kuat. (fiq/c19/bas)

EDITOR: Ilham Safutra