← Beranda

Kejadian Dramatis: Tyronne del Pino Kolaps, Dokter Rival Jadi Pahlawan di Laga Persib vs Persebaya

Moch. Rizky Pratama PutraSabtu, 19 Oktober 2024 | 23.39 WIB
Dokter tim Persebaya Surabaya, dr. Ahmad Ridhoi, dianggap pahlawan dalam menangani gelandang Persib Tyronne del Pino. (Persebaya)
 

JawaPos.com — Laga Persib Bandung kontra Persebaya Surabaya pada pekan kedelapan Liga 1 2024/2025 tak hanya diwarnai oleh ketegangan di atas lapangan. Insiden kolapsnya gelandang Persib, Tyronne del Pino, setelah terkena hantaman bola keras, menjadi momen dramatis yang membuat seluruh stadion terdiam.

Pada menit ke-84, kepala Tyronne terkena bola hasil sepakan kencang dari pemain Persebaya Surabaya, Andre Oktaviansyah. Sontak, pemain asal Spanyol itu langsung terjatuh tak sadarkan diri di tengah lapangan, membuat situasi semakin mencekam.

Tak butuh waktu lama, dua pemain Persib yang berada di sekitar Tyronne, Edo Febriansah dan Rachmat Irianto, segera memberikan pertolongan pertama. Keduanya tampak panik, berusaha memastikan kondisi rekannya yang terkapar.

Namun, momen penting datang saat tim medis Persebaya Surabaya, dr. Ahmad Ridhoi, segera merespons situasi tersebut. Meski berasal dari tim lawan, dr. Ahmad Ridhoi langsung berlari ke lapangan untuk memberikan pertolongan kepada Tyronne, tanpa mempedulikan rivalitas yang ada.

Kecepatan dan ketepatan dr. Ahmad Ridhoi dalam menangani situasi darurat ini layak diacungi jempol. Respons cepatnya, bersama tim medis Persib yang ikut mengecek kondisi Tyronne, berhasil mencegah hal yang lebih buruk terjadi.

Setelah dilakukan pemeriksaan singkat di tengah lapangan, Tyronne akhirnya dibawa keluar dan digantikan oleh Adam Alis. Meskipun terlihat masih lemah, kabar baik datang dari pelatih Persib, Bojan Hodak, yang mengatakan Tyronne sudah sadarkan diri dan bisa berkomunikasi dengan baik.

“Jadi saya rasa dia hanya blackout karena bola menghantam wajahnya secara langsung dan mungkin dalam dua-tiga hari dia sudah membaik dan pulih,” jelasnya.

Bojan Hodak menuturkan Tyronne bahkan sempat berkata dirinya baik-baik saja ketika ditandu keluar lapangan. Momen blackout yang dialami Tyronne diperkirakan terjadi karena hantaman bola keras yang langsung mengenai wajahnya, bukan cedera serius lainnya.

Namun, kendati Tyronne sempat pulih kesadarannya, tim dokter Persib tak ingin lengah. Dokter tim Persib, Rafi Ghani, memberikan keterangan lebih lanjut mengenai benturan di bagian pipi dan rahang Tyronne cukup keras sehingga memicu hilangnya kesadaran selama sekitar 30 detik hingga satu menit.

Menurut dr. Rafi, meski kondisi Tyronne sudah stabil, ada rasa nyeri di sekitar otot leher yang terkena dampak benturan. Observasi ketat pun terus dilakukan untuk mengantisipasi gejala-gejala lanjutan seperti sakit kepala atau mual yang bisa muncul setelah insiden ini.

“Benturan di bagian tulang rahang, tulang pipi, dan tulang rahangnya, terus sempat kehilangan kesadaran beberapa detik sekitar 30 detik sampai 1 menit,“ ujar Rafi.

“Tapi setelah itu kesadarannya bagus, sudah seperti biasa, cuman memang pasti ada rasa nyeri di bagian terkena benturan atau trauma,” imbuhnya.

“Memang ada nyeri di bagian otot-otot lehernya. Saat ini saya observasi bilamana ada gejala gejala susulan, misalnya sakit kepala, terus mual, saya akan kontak terus,” jelas Rafi Ghani.

Tak diragukan lagi, peran vital tim medis dalam situasi darurat seperti ini tidak boleh dianggap remeh. Apresiasi besar pantas diberikan kepada dr. Ahmad Ridhoi dari Persebaya Surabaya yang sigap dan profesional dalam membantu Tyronne di momen genting tersebut.

Banyak pihak yang beranggapan dr. Ahmad Ridhoi layak disebut sebagai ‘Man of The Match’ untuk penanganan sigapnya. Keberanian dan nalurinya sebagai seorang dokter patut menjadi inspirasi bagi dunia sepak bola Indonesia, di mana kesehatan dan keselamatan pemain selalu menjadi prioritas utama.

Sementara itu, meski Persebaya Surabaya harus menelan kekalahan 0-2 dari Persib, insiden ini menunjukkan sisi humanis dari olahraga. Di lapangan, rivalitas antara kedua tim sangatlah sengit, namun di luar itu, keselamatan seorang pemain tetap menjadi yang utama.

Tyronne sendiri dilaporkan akan menjalani observasi lebih lanjut dalam beberapa hari ke depan. Rafi Ghani menegaskan kondisi sang gelandang akan dipantau terus, terutama untuk memastikan tidak ada gejala pasca-benturan yang membahayakan kesehatannya.

Benturan keras seperti yang dialami Tyronne bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja. Gejala lanjutan seperti trauma kepala, vertigo, dan bahkan cedera serius di bagian leher bisa muncul beberapa waktu setelah insiden.

Kehadiran dokter yang kompeten dan tim medis yang responsif menjadi kunci untuk memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak berujung pada hal yang lebih buruk. Dalam sepak bola, momen-momen darurat bisa terjadi kapan saja, dan kesigapan seperti yang ditunjukkan oleh dr. Ahmad Ridhoi adalah contoh yang patut dicontoh.

Laga Persib Bandung melawan Persebaya Surabaya memang berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan tuan rumah. Namun, sorotan terbesar justru tertuju pada insiden kolaps Tyronne dan bagaimana tim medis dari kedua tim bahu-membahu menanganinya dengan profesional.

Bagi Tyronne, insiden ini mungkin hanya menjadi sebuah momen malang di tengah perjalanan kariernya di Liga 1. Namun bagi para pemain dan tim medis, ini adalah pengingat di balik setiap pertandingan yang penuh dengan adrenalin, ada tanggung jawab besar untuk menjaga kesehatan dan keselamatan setiap individu di atas lapangan.

Dr. Ahmad Ridhoi telah menunjukkan bahwa rivalitas bukan halangan untuk melakukan hal yang benar. Di tengah tensi tinggi pertandingan, ia tetap fokus pada tanggung jawabnya sebagai seorang dokter, memastikan Tyronne mendapatkan penanganan terbaik.

Peran penting dokter tim tidak hanya terbatas pada cedera ringan atau perawatan rutin, tetapi juga dalam situasi-situasi darurat yang membutuhkan keputusan cepat dan tepat. Dalam insiden ini, dr. Ahmad Ridhoi dan tim medis dari kedua kubu telah membuktikan mereka selalu siap dalam situasi apapun.

Meskipun Tyronne del Pino tidak dapat melanjutkan pertandingan, ia beruntung karena mendapat penanganan yang cepat dan profesional. Dan bagi dr. Ahmad Ridhoi, kontribusinya di balik layar layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya, bahkan lebih dari sekadar pahlawan lapangan hijau biasa.

Sepak bola mungkin adalah olahraga penuh persaingan, namun insiden ini mengingatkan kita terhadap kemanusiaan dan rasa empati yang tetap ada di atas segalanya. Dr. Ahmad Ridhoi adalah contoh nyata dari itu—seorang profesional yang bekerja tanpa memandang warna jersey, tetapi dengan hati yang tulus untuk menolong sesama.

Bagi para Bonek dan Bobotoh yang menyaksikan laga ini, momen Tyronne kolaps akan selalu menjadi pengingat di balik keseruan dan persaingan, ada sisi humanis yang tak boleh diabaikan. Semoga kejadian ini juga semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan dan kesehatan pemain dalam setiap pertandingan sepak bola.

Tyronne del Pino kini tengah dalam pemulihan, dan kita semua berharap agar ia segera kembali pulih sepenuhnya. Dan bagi dr. Ahmad Ridhoi, apresiasi yang ia dapatkan dari insiden ini sudah pasti akan terus dikenang oleh mereka yang menyaksikan bagaimana ia sigap menyelamatkan seorang pemain lawan di saat krusial.

EDITOR: Edi Yulianto