← Beranda
Bongkar Blunder Shayne Pattynama di Timnas Indonesia Usai Raih Rating Terburuk saat Garuda Ditundukkan Tiongkok
Moch. Rizky Pratama PutraRabu, 16 Oktober 2024 | 18.43 WIB
Shayne Pattynama jadi sorotan usai performanya yang jauh dari harapan saat Timnas Indonesia digulung Tiongkok 2-1. (Instagram @s.pattynama)

JawaPos.com — Timnas Indonesia kembali harus menelan kekalahan pahit dalam lanjutan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Skuad Garuda kalah 1-2 dari Tiongkok di Qingdao Youth Football Stadium, Selasa (15/10/2024) malam WIB, memperburuk posisi mereka di Grup C.

Dua gol dari Behram Abdulwali dan Zhang Yuning pada babak pertama menghancurkan harapan Indonesia untuk meraih poin. Meskipun Thom Haye sempat memperkecil ketertinggalan lewat gol di menit ke-87, hasil tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan Garuda dari kekalahan.

Pelatih Shin Tae-yong melakukan beberapa perubahan dalam starting line-up jika dibandingkan dengan laga sebelumnya melawan Bahrain. Empat pemain yang tidak menjadi starter di laga Bahrain diberi kesempatan bermain sejak awal, yaitu Asnawi Mangkualam, Witan Sulaeman, Nathan Tjoe-A-On, dan Shayne Pattynama.

Namun, dari empat pemain tersebut, hanya Nathan Tjoe-A-On yang tampil cukup memuaskan. Sebaliknya, Shayne Pattynama tampil jauh dari ekspektasi dan menjadi salah satu pemain yang paling banyak disorot dalam laga ini.

Shayne Pattynama hanya bermain selama 45 menit di babak pertama sebelum ditarik keluar oleh Shin Tae-yong. Keputusan ini diambil karena performa Pattynama yang ceroboh dan berujung pada gol pertama Tiongkok.

Pattynama mencoba menahan bola di dalam area pertahanan Indonesia, tetapi kesalahan tersebut justru membuka celah bagi Behram Abdulwali untuk mencetak gol pada menit ke-21.

Kesalahan ini sangat krusial, terutama di pertandingan sekelas Kualifikasi Piala Dunia, di mana setiap detail kecil bisa menentukan hasil akhir.

Selain kesalahan yang berujung gol, statistik permainan Shayne Pattynama juga tidak terlalu mengesankan. Dalam 45 menit bermain, ia hanya melakukan satu kali sapuan dan kehilangan penguasaan bola sebanyak tujuh kali, jumlah yang terbilang tinggi untuk seorang pemain bertahan.

Dari total 27 sentuhan bola yang dilakukannya, Pattynama hanya mampu mencatatkan 12 operan sukses dari 17 percobaan, dengan akurasi 71 persen. Bahkan, satu kali percobaan umpan silang dan long ball-nya tidak satu pun berhasil mencapai sasaran.

Secara keseluruhan, performa buruk ini tercermin dari rating yang diberikan untuk Pattynama, yaitu 5,7. Angka ini adalah yang terendah dari seluruh pemain Timnas Indonesia yang tampil di laga tersebut, mengindikasikan bahwa kontribusinya jauh di bawah standar yang diharapkan.

Keputusan Shin Tae-yong untuk menarik keluar Shayne Pattynama, bersama dengan Mees Hilgers dan Witan Sulaeman, di awal babak kedua tampaknya menjadi bukti bahwa eksperimen Shin di babak pertama tidak berjalan sesuai harapan.

Masuknya Rizky Ridho, Marselino Ferdinan, dan Thom Haye membuat permainan Indonesia lebih hidup, namun sayangnya hal ini tidak cukup untuk membalikkan keadaan.

Pergantian pemain ini sebenarnya membawa angin segar bagi permainan Timnas Indonesia di babak kedua. Masuknya Thom Haye terbukti membawa dampak positif dengan gol yang ia cetak di menit ke-87, namun waktu yang tersisa sudah terlalu singkat untuk Indonesia mengincar gol penyeimbang.

Shayne Pattynama, yang sebelumnya diharapkan bisa memberikan stabilitas di lini belakang dengan pengalamannya bermain di Eropa, justru tampil jauh dari kata maksimal. Tanggung jawab besar sebagai bek kiri di pertandingan sekelas ini tampaknya membuat Pattynama kesulitan menjaga fokus dan tampil optimal.

Selain kesalahan individu yang berujung gol, Pattynama juga terlihat tidak nyaman dalam transisi dari bertahan ke menyerang. Beberapa kali terlihat, dia terlambat dalam melepaskan umpan dan kurang sigap dalam mengantisipasi serangan balik cepat dari lawan.

Kritik terhadap performa Pattynama semakin deras, mengingat ekspektasi tinggi dari para pendukung Timnas Indonesia. Pattynama seharusnya bisa menjadi salah satu pilar penting di lini belakang, tetapi dalam laga ini ia justru menjadi salah satu titik lemah yang dimanfaatkan oleh Tiongkok.

Penempatan Calvin Verdonk sebagai salah satu dari tiga bek juga menjadi keputusan yang dipertanyakan. Verdonk, yang sebenarnya lebih sering bermain sebagai fullback atau wingback, terlihat beberapa kali kehilangan posisi karena belum terbiasa dengan peran sebagai bek tengah kiri.

Kesalahan positioning ini menjadi salah satu faktor yang membuat pertahanan Indonesia mudah ditembus oleh serangan-serangan direct dari Tiongkok. Shin Tae-yong tampaknya mencoba bereksperimen dengan komposisi tiga bek ini, namun hasilnya jauh dari yang diharapkan.

Setelah pertandingan ini, tentu evaluasi besar-besaran harus dilakukan oleh Shin Tae-yong dan tim pelatih. Performansi buruk Shayne Pattynama hanya menjadi salah satu dari banyak masalah yang muncul di laga ini, mulai dari ketidaktepatan pemilihan pemain hingga kelemahan dalam strategi menghadapi tekanan lawan.

Dengan kekalahan ini, posisi Indonesia di Grup C semakin sulit. Meski peluang lolos masih terbuka, Shin Tae-yong harus segera mencari solusi, terutama dalam mengatasi kelemahan di lini pertahanan.

Shayne Pattynama, dengan pengalamannya di Eropa, tentu diharapkan bisa segera bangkit dan memperbaiki performanya di laga-laga berikutnya. Namun, untuk saat ini, kritik dan evaluasi adalah hal yang tak bisa dihindari setelah penampilannya yang mengecewakan di laga melawan Tiongkok.

Bagi Timnas Indonesia, masih ada kesempatan untuk memperbaiki posisi di pertandingan-pertandingan berikutnya, tetapi untuk mencapai itu, kinerja seluruh pemain, termasuk Shayne Pattynama, harus berada pada level yang jauh lebih baik.

 
EDITOR: Bintang Pradewo