← Beranda
Dulu Arief Catur Pamungkas, Kini Andre Oktaviansyah yang Lakukan Pelanggaran Keras, Persebaya Surabaya Butuh Psikolog?
Moch. Rizky Pratama PutraMinggu, 15 September 2024 | 17.30 WIB
Andre Oktaviansyah dan pemain muda lainnya di Persebaya Surabaya butuh pendampingan tim psikolog agar lebih tenang menghadapi tekanan di lapangan. (Instagram/@andreoktvn7)

JawaPos.com — Persebaya Surabaya kembali mendapat sorotan setelah insiden terbaru yang melibatkan salah satu pemain mudanya, Andre Oktaviansyah. Dalam pertandingan Liga 1 Indonesia 2024/2025 melawan Persita Tangerang di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Andre tertangkap melakukan tindakan tidak sportif dengan memukul pemain lawan, Badrian Ilham, di menit-menit akhir pertandingan.

Aksi tersebut tentu membuat publik bertanya-tanya, apakah Persebaya Surabaya memerlukan tim psikolog untuk membantu menjaga keseimbangan emosional para pemainnya?

Kejadian yang melibatkan Andre ini tak hanya memicu kontroversi, tetapi juga membuka kembali ingatan tentang insiden serupa yang melibatkan pemain Persebaya Surabaya di musim sebelumnya, yaitu Arief Catur Pamungkas.

Pada Liga 1 Indonesia 2023/2024, Catur melakukan pelanggaran keras terhadap Ady Setiawan, pemain Dewa United, yang menyebabkan Ady tak sadarkan diri. Pelanggaran tersebut terjadi di laga yang berlangsung di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, pada Sabtu (30/9/2023), tepatnya di menit ke-37 ketika keduanya berduel di udara. Akibat sikutan Catur yang mengenai kepala Ady, wasit tak ragu memberikan kartu merah langsung.

Meski kejadian tersebut sempat membuat nama Catur menjadi sorotan negatif, dia berhasil bangkit dan menunjukkan perkembangan positif dalam kariernya musim ini. Namun, insiden yang kini melibatkan Andre Oktaviansyah justru kembali mencoreng citra tim yang dikenal dengan julukan Green Force ini.

Masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-68 menggantikan Gilson Costa, Andre bukannya memberikan kontribusi positif, malah terlibat dalam tindakan tidak sportif dengan memukul pemain Persita pada menit ke-90+9. Wasit yang memeriksa VAR tanpa ragu memberikan kartu merah kepada pemain berjuluk Cobra tersebut.

Beruntung bagi Persebaya Surabaya, tindakan Andre tidak memengaruhi hasil akhir pertandingan. Gol semata wayang Bruno Moreira pada menit ke-11 sudah cukup untuk membawa Persebaya Surabaya meraih tiga poin penuh dari laga tersebut.

Namun, pertanyaan besar yang muncul apakah Persebaya Surabaya membutuhkan bantuan psikolog untuk menjaga stabilitas mental dan emosional para pemain mudanya?

Dalam dunia sepak bola modern, peran psikolog dalam tim tak bisa dianggap sepele. Seringkali, tekanan yang dihadapi para pemain di lapangan bisa memicu reaksi emosional yang berlebihan, terutama dalam situasi krusial seperti di akhir pertandingan.

Psikolog olahraga dapat membantu para pemain mengelola emosi mereka, meningkatkan konsentrasi, serta mengurangi stres yang muncul akibat tekanan pertandingan.

SIA Academy, sebuah akademi sepak bola terkemuka, menekankan pentingnya psikologi dalam olahraga, termasuk sepak bola. Menurut mereka, sepak bola bukan hanya permainan fisik, tetapi juga mental.

Aspek-aspek seperti fokus, perhatian, penghafalan taktik, dan koordinasi sangat bergantung pada kondisi mental pemain. Psikolog dalam tim sepak bola profesional berperan dalam membantu pemain menghadapi tantangan mental, baik dalam pertandingan maupun latihan.

Dalam kasus Andre Oktaviansyah, tindakan emosional yang dilakukannya jelas merupakan sinyal bahwa ada tekanan yang mungkin tidak mampu dikelola dengan baik.

Momen ketika Persebaya Surabaya digempur habis-habisan oleh Persita Tangerang mungkin membuat Andre merasa frustrasi, dan sebagai pemain muda, dia belum memiliki pengalaman yang cukup untuk mengelola tekanan semacam itu dengan tenang. Inilah pentingnya pendampingan psikologis bagi pemain muda seperti Andre agar mereka dapat belajar mengendalikan emosi dalam situasi sulit.

Tak hanya itu, psikolog olahraga juga membantu dalam membangun kepercayaan diri pemain. Kepercayaan diri adalah salah satu aspek terpenting dalam performa pemain di lapangan.

Seorang pemain yang merasa nyaman dengan kemampuannya cenderung tampil lebih tenang dan efektif, baik saat bertahan maupun menyerang. Dalam sepak bola profesional, psikolog bertugas untuk memastikan bahwa setiap pemain mampu menjaga fokus mereka di tengah tekanan, serta mampu mengatasi hambatan mental yang muncul.

Banyak contoh di mana tim sepak bola yang didukung oleh psikolog olahraga mampu meraih performa puncak. Misalnya, Real Madrid yang dikenal memiliki mental juara dalam Liga Champions sering kali didukung oleh pendekatan psikologis yang matang, sehingga pemainnya mampu mengatasi tekanan besar di pertandingan-pertandingan krusial. Kondisi psikologis yang stabil dan terkelola dengan baik memungkinkan pemain untuk tampil maksimal dan menjaga konsistensi performa mereka.

Tak hanya fokus pada performa di lapangan, psikolog dalam sepak bola juga berperan dalam membentuk karakter pemain. Di level akar rumput, misalnya, psikolog berupaya mengajarkan nilai-nilai dasar kepada pemain muda, seperti kerja sama tim, empati, rasa hormat, dan toleransi.

Hal ini penting untuk menciptakan pemain sepak bola yang tidak hanya unggul dalam keterampilan, tetapi juga memiliki mental yang kuat dan karakter yang baik.

Persebaya Surabaya sebagai salah satu tim besar di Indonesia tentu memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga perilaku dan performa pemainnya, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Insiden yang melibatkan Andre Oktaviansyah seharusnya menjadi alarm bagi manajemen tim untuk mempertimbangkan pendampingan psikologis bagi para pemain, terutama pemain muda yang masih dalam tahap perkembangan emosional.

Jika Persebaya Surabaya ingin terus berkompetisi di level tertinggi, menjaga keseimbangan fisik dan mental para pemainnya adalah sebuah keharusan. Membangun mental juara tidak hanya tentang berlatih fisik dan taktik, tetapi juga tentang bagaimana para pemain mampu menghadapi tekanan, mengelola emosi, dan tetap fokus dalam situasi krusial.

Kehadiran tim psikolog di dalam klub sepak bola modern bukanlah hal baru. Banyak tim-tim besar di Eropa sudah lama memanfaatkan jasa psikolog untuk membantu para pemain mengelola aspek mental mereka.

Di Indonesia, meski belum terlalu populer, beberapa klub mulai menyadari pentingnya peran ini. Jika Persebaya Surabaya ingin menghindari insiden-insiden serupa di masa mendatang, langkah preventif seperti menghadirkan psikolog dalam tim bisa menjadi solusi jangka panjang yang efektif.

Bagaimanapun, Persebaya Surabaya adalah tim besar dengan sejarah panjang di kancah sepak bola Indonesia. Insiden-insiden yang melibatkan pemain mudanya, baik Arief Catur Pamungkas musim lalu maupun Andre Oktaviansyah musim ini, harus menjadi pelajaran berharga.

Tim manajemen harus bergerak cepat untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh para pemain, termasuk dukungan psikologis, agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Dengan manajemen emosi yang baik, Persebaya Surabaya tak hanya akan meraih prestasi di lapangan, tetapi juga membentuk karakter pemain yang matang dan siap menghadapi tekanan di berbagai kompetisi.

EDITOR: Edi Yulianto