JawaPos.com — Maesa, sebuah nama yang kini dikenal dalam kancah sepak bola Surabaya, memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan para pelaut asal Manado.
Klub ini tidak hanya menjadi simbol dari perpaduan etnis dan kebersamaan, tetapi juga telah melahirkan salah satu bintang Persebaya Surabaya era 1990-an, yaitu Dodik Suprayogi.
Kehadirannya dalam Kompetisi Kapal Api Persebaya (KKAP) musim 2017 telah mencerminkan semangat persatuan yang selalu dijaga sejak awal berdirinya.
Maesa berdiri berkat inisiatif para pelaut asal Manado yang bermukim di Surabaya. Meskipun awalnya berbasis komunitas pelaut Minahasa, Maesa berkembang menjadi klub sepak bola dengan etos keterbukaan yang kuat.
Slogan yang dipegang teguh oleh klub ini adalah "Si Tou Timou Tumou Tou", sebuah pepatah Minahasa yang berarti "manusia hidup untuk manusia lain". Ini menggambarkan filosofi hidup para pendiri klub yang ingin menciptakan persatuan dalam keberagaman.
Pada awal perkembangannya, kendati awalnya didirikan para pelaut asal Manado yang berdomisili di Surabaya. Namun, seiring berjalannya waktu, klub ini menjadi wadah bagi pemain dari berbagai latar belakang etnis. Para pemain Maesa berasal dari berbagai etnis, seperti Jawa, Madura, Tionghoa, dan Minahasa sendiri.
Filosofi keterbukaan Maesa tercermin dalam setiap aspek klub ini. Sang pemilik klub, Maurits Benhard Pangkey, menjelaskan bahwa "Si Tou Timou" adalah kalimat yang diambil dari salah satu tokoh penting dari Sulawesi Utara, Sam Ratulangi.
Ratulangi adalah seorang pahlawan nasional dan gubernur pertama Provinsi Sulawesi yang berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Filosofi ini menjadi dasar kuat bagi Maesa untuk terus mengedepankan persatuan melalui olahraga.
"Dengan terbuka, kami juga akan memanusiakan manusia," imbuh pria yang akrab disapa Champ itu dikutip dari koran Jawa Pos edisi 23 Mei 2017.
Partisipasi Maesa di kompetisi sepak bola internal Persebaya, seperti KKAP, menjadi salah satu bukti keberhasilan klub ini dalam mempertahankan eksistensinya.
Meskipun tidak selalu mendominasi kompetisi, Maesa memiliki beberapa prestasi yang patut dibanggakan. Salah satu pencapaian terbaik Maesa adalah menjadi juara di kelas 2 pada masa ketika kompetisi internal Persebaya masih dibagi menjadi kelas utama, kelas 1, dan kelas 2.
Maesa pernah menembus kelas utama dengan status runner-up dari kelas 1. Namun, perjalanan mereka tidak selalu berjalan mulus. Banyak momen, Maesa harus bersaing di kelas 1 dan 2, meskipun hanya beberapa pemain top yang berhasil menembus skuad utama Persebaya. Meskipun begitu, dari rahim Maesa, lahir pemain berbakat yang kemudian mengharumkan nama Persebaya.
Salah satu nama besar yang berhasil dilahirkan oleh Maesa adalah Dodik Suprayogi. Dodik menjadi salah satu produk terbaik klub ini yang berhasil berkostum Persebaya di awal 1990-an.
Meskipun perjalanan Dodik ke Persebaya tidak langsung, karena dia harus bermain di klub lain sebelum akhirnya kembali ke Surabaya, kontribusinya di tim berjuluk Green Force itu tak terlupakan.
Dodik Suprayogi adalah contoh sukses dari pengembangan pemain Maesa yang kemudian berhasil menembus salah satu klub terbesar di Indonesia, Persebaya Surabaya. Bakatnya sebagai pemain sepak bola dilirik oleh Persebaya, dan dia menjadi bagian dari sejarah klub tersebut dalam mencapai kejayaan di era 1990-an.
Tidak hanya dalam hal pemain, Maesa juga memiliki catatan menarik dalam hal pelatih. Klub ini pernah diasuh oleh beberapa nama besar di dunia sepak bola Indonesia. Totok Risantono dan Rustamaji adalah dua pelatih yang pernah menjadi nahkoda Maesa di era sebelumnya. Pada musim 2017, Maesa sempat ditangani oleh Rohadi Santoso untuk berjuang di KKAP.
Sejarah panjang Maesa yang didirikan oleh para pelaut Manado dan berkembang menjadi klub plural yang merangkul berbagai etnis menunjukkan bahwa sepak bola adalah alat yang kuat untuk menyatukan perbedaan. Filosofi "Si Tou Timou Tumou Tou" yang dipegang teguh oleh klub ini mengajarkan bahwa dalam dunia sepak bola, perbedaan bukanlah penghalang, tetapi justru menjadi kekuatan.
Maesa menjadi contoh nyata dari bagaimana klub sepak bola lokal mampu menciptakan harmoni dalam keberagaman. Kehadiran pemain-pemain dari berbagai latar belakang etnis di Maesa menunjukkan bahwa klub ini terbuka untuk siapa saja yang memiliki tekad dan semangat untuk berjuang.
Selain itu, kontribusi Maesa dalam melahirkan pemain bintang seperti Dodik Suprayogi adalah bukti nyata bahwa klub ini tetap relevan dan mampu menghasilkan talenta-talenta berbakat untuk Kota Pahlawan. Hingga kini Maesa terus menjadi bagian penting dari sejarah sepak bola Surabaya dan Indonesia.
Sejarah panjang Maesa tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para pendirinya, tetapi juga bagi seluruh komunitas sepak bola di Surabaya. Klub ini telah membuktikan bahwa semangat persatuan, kerja keras, dan keterbukaan bisa membawa klub ke level yang lebih tinggi.
Keberadaan Maesa hingga saat ini menjadi simbol dari warisan yang terus hidup di tengah-tengah masyarakat Surabaya. Klub ini tidak hanya dikenal sebagai tempat lahirnya pemain berbakat, tetapi juga sebagai tempat di mana semangat "Timou Tumou Tou" terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan filosofi yang kuat dan dedikasi yang tinggi, Maesa terus menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah sepak bola Indonesia, dan warisan para pelaut Manado yang mendirikan klub ini akan terus hidup dalam setiap langkah mereka di lapangan.