← Beranda
Liga 1 Dihentikan Mendadak dan Tiket Sudah Dijual, Persebaya Surabaya Hitung Kerugian dan Mempertimbangkan Ganti Rugi
Moch. Rizky Pratama PutraMinggu, 31 Maret 2024 | 18.46 WIB
TREN POSITIF: Aksi Yan Victor ketika menjebol gawang Arema FC di laga Derbi Jatim pekan ke-30 Liga 1 Indonesia. (Persebaya Surabaya)

JawaPos.com — Keputusan tiba-tiba menunda BRI Liga 1 2023/2024 oleh PSSI telah menimbulkan kebingungan dan kerugian bagi klub-klub yang terlibat, termasuk Persebaya Surabaya.

Pada Sabtu malam yang mengejutkan, Komite Eksekutif PSSI mengumumkan penundaan tersebut mulai pekan ke-31, dengan alasan untuk memberikan kesempatan bagi TC Timnas Indonesia U-23 dalam rangka persiapan untuk Piala Asia U-23 2024.

Meskipun keputusan ini tampaknya didasarkan pada agenda penting, dampaknya terasa menyulitkan bagi klub-klub yang telah mempersiapkan pertandingan, termasuk Persebaya Surabaya yang sudah menyiapkan laga kandang pekan ke-31 melawan Dewa United.

Panitia pelaksana (panpel) Persebaya Surabaya telah melakukan persiapan matang untuk pertandingan tersebut, termasuk penjualan tiket dan pengaturan keamanan. Namun, dengan penundaan mendadak ini, mereka menghadapi kerugian besar karena semua persiapan tersebut menjadi sia-sia.

Ketua panpel, Ram Surahman, menyatakan kekagetannya atas keputusan yang merugikan ini dan mengungkapkan pertimbangan untuk mengajukan ganti rugi kepada operator kompetisi, PT Liga Indonesia Baru.

"Panpel masih menghitung kerugian dari pembatalan mendadak ini. Nantinya akan kami laporkan ke manajemen untuk ditimbang apakah perlu mengajukan kerugian ke LIB selaku operator," kata Ram Surahman, Minggu (31/3).

Persebaya Surabaya jelas menjadi salah satu tim yang paling dirugikan oleh keputusan tiba-tiba ini. Mereka adalah satu-satunya tim yang dijadwalkan bertanding di kandang pada Senin (1/4) pukul 20.30 WIB di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, sementara delapan pertandingan lainnya masih akan berlangsung dalam tiga hari berikutnya.

Keputusan ini menimbulkan pertanyaan akan motif di balik penundaan mendadak ini, dengan dugaan bahwa hal tersebut mungkin terkait dengan keinginan untuk mendorong klub-klub untuk melepas pemainnya ke Timnas Indonesia U-23. Namun, hal ini menimbulkan dilema bagi klub, karena mereka tidak diwajibkan untuk melepas pemain mereka untuk turnamen yang bukan merupakan agenda resmi FIFA.

Di sisi lain, pelatih Timnas Indonesia U-23, Shin Tae-yong, diberi target untuk lolos ke babak 8 besar dalam Piala Asia U-23 2024, sebagai syarat untuk memperpanjang kontraknya yang akan habis pada akhir Juni 2024. Tekanan ini menambah kompleksitas situasi, karena klub-klub harus mempertimbangkan kepentingan mereka sendiri sambil juga mempertimbangkan kebutuhan tim nasional.

Penundaan ini juga memengaruhi jadwal kompetisi secara keseluruhan. Dengan hanya empat pekan tersisa dalam jadwal awal Liga 1, penundaan ini mengancam untuk memperpanjang musim hingga Mei 2024, jika tidak lebih. Ini menciptakan ketidakpastian bagi klub dan penggemar tentang bagaimana jadwal sisa kompetisi akan disusun dan berpotensi memengaruhi perencanaan jangka panjang.

Kerugian finansial dan logistik yang diderita oleh klub-klub seperti Persebaya Surabaya sangatlah besar. Persiapan yang telah dilakukan untuk pertandingan-pertandingan tertentu menjadi sia-sia, sementara biaya terkait dengan persiapan tersebut tetap harus ditanggung. Penghasilan dari penjualan tiket juga hilang, tanpa jaminan bahwa penggantian atau kompensasi akan diberikan.

Dalam situasi seperti ini, pertimbangan untuk mengajukan ganti rugi kepada operator kompetisi adalah langkah yang masuk akal bagi klub yang merasa dirugikan. Namun, proses ini tidak selalu mudah dan memerlukan negosiasi yang rumit. Selain itu, dampak psikologis dari penundaan mendadak ini juga tidak boleh diabaikan, baik bagi pemain, staf, maupun penggemar klub.

Keputusan yang diambil oleh PSSI dan PT Liga Indonesia Baru memang bertujuan untuk mendukung pengembangan sepak bola nasional, terutama dalam persiapan untuk turnamen internasional. Namun, harus diakui bahwa keputusan tersebut juga menimbulkan konsekuensi yang signifikan bagi klub-klub dan komunitas sepak bola lokal.

Pengelolaan kompetisi yang lebih hati-hati dan komunikasi yang lebih baik mungkin dapat membantu mengurangi dampak negatif dari keputusan seperti ini di masa depan.

Pada akhirnya, penting bagi semua pihak terkait untuk belajar dari pengalaman ini dan bekerja sama untuk mencari solusi yang adil dan berkelanjutan bagi semua pihak yang terlibat dalam kompetisi sepak bola Indonesia. Semoga, dengan kerja sama yang baik, situasi seperti ini tidak akan terulang di masa depan, dan sepak bola Indonesia dapat terus berkembang dan menjadi lebih baik.

EDITOR: Edi Yulianto