JawaPos.com — Sepak bola telah menjadi bagian integral dari kehidupan Surabaya, dan di dalamnya ada sejumlah nama yang bersinar sebagai legenda dalam sejarah klub.
Salah satu di antaranya adalah Hadi Ismanto, seorang pemain yang tidak hanya mencetak gol-gol indah, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan bagi Persebaya Surabaya.
Melalui sebuah wawancara mendalam di kanal Youtube Pinggir Lapangan, Hadi Ismanto membagikan kisah hidupnya yang penuh warna, dari awal karier sepak bola hingga prestasi di level nasional.
Lahir pada 1954 di wilayah Sawonggaling, Surabaya, Hadi Ismanto sudah terpapar dengan sepak bola sejak usia dini. Berada dalam lingkungan militer, dia memiliki akses ke klub Indonesia Muda (IM) Surabaya, tempat dia mulai membentuk karier sepak bolanya.
Perjalanan karier Hadi Ismanto dimulai pada 1974, ketika dia bergabung dengan tim junior Persebaya Surabaya yang berkompetisi di Liga Soeratin. Di sini, dia menunjukkan bakatnya yang luar biasa dan membantu timnya meraih peringkat ketiga dalam kompetisi tersebut.
Namun, momen puncak karier Hadi Ismanto terjadi pada 1977. Setelah hampir membela klub asal Sumatra Utara, Pardedetex, Hadi Ismanto kembali ke Surabaya dan membela warna Persebaya Surabaya.
Keputusannya untuk kembali ke tanah kelahirannya membawa dampak besar bagi tim. Pada tahun itu, Persebaya Surabaya berhasil mengakhiri puasa gelar juara selama 25 tahun dengan meraih kemenangan gemilang di Perserikatan 1977. Dalam final melawan Persija Jakarta, Hadi Ismanto menjadi pahlawan dengan mencetak dua gol yang membantu timnya meraih kemenangan 4-3 di Stadion Utama Senayan.
"Skornya 4-3 untuk Persebaya dan saya mencetak dua gol. Luar biasa senang sekali, ditonton 100 ribu orang, sekaligus menunggu akhir puasa gelar juara selama 25 tahun. Setahu kami waktu itu Persebaya terakhir kali juara pada 1952," terang Hadi Ismanto dikutip dari Youtube Pinggir Lapangan.
"Tim kami solid sekali dan sedang bagus-bagusnya. Persiapan matang dan antara pemain sangat istimewa di posisi masing-masing. Muda dan senior bisa menyatu," lanjutnya.
Kemenangan ini tidak hanya menjadi puncak karier Hadi Ismanto, tetapi juga menjadi momen bersejarah bagi Persebaya Surabaya. Dengan kemenangan ini, mereka berhasil mengukir sejarah baru dan mengakhiri puasa gelar juara yang telah berlangsung selama seperempat abad.
Namun, keberhasilan Hadi Ismanto tidak hanya terbatas pada level klub. Dia juga menjadi bagian dari Timnas Indonesia pada tahun-tahun keemasan Persebaya Surabaya. Sebagai seorang yang sudah terbiasa tampil di level internasional, Hadi Ismanto merasa nyaman ketika bermain di final Perserikatan 1977 di Stadion Utama Senayan melawan Persija Jakarta.
Selain sukses di kancah nasional, Hadi Ismanto juga memiliki momen berkesan di level internasional. Salah satu yang paling diingat adalah golnya di SEA Games Kuala Lumpur 1977, yang menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Namun, gol yang paling diingat oleh banyak orang adalah gol spektakulernya dari jarak 35 meter melawan Persija Jakarta dalam turnamen Bang Ali Cup 1978.
"Gol paling berkesan seperti di SEA Games Kuala Lumpur 1977. Kalau paling dikenang lawan Persija di turnamen Bang Ali Cup 1978, gol dari jarak 35 meter. Sebenarnya masih banyak lagi yang lain karena saking seringnya mencetak gol," kenangnya.
Meskipun masa kejayaannya di lapangan telah berlalu, Hadi Ismanto tetap aktif dalam dunia sepak bola setelah pensiun. Dia terlibat dalam berbagai kegiatan, baik sebagai pelatih maupun pengamat, serta memberikan kontribusi berharga bagi perkembangan sepak bola di Indonesia.
Selain itu, Hadi Ismanto juga meniti karier di luar lapangan sepak bola. Setelah pensiun dari karier profesionalnya, dia fokus pada karier di perusahaan minyak dan gas Pertamina. Meskipun tidak lagi aktif di lapangan, dedikasinya terhadap sepak bola tetap kuat, dan dia terus menjadi inspirasi bagi banyak orang dengan kisah suksesnya.
"Setelah itu pensiun main bola dan fokus kerja di Pertamina yang kantornya di Merdeka Timur. Sempat mendapat pendidikan akademi minyak dan gas di Cepu, sekaligus berhenti total untuk sepak bola, demi jenjang karier saya di Pertamina," ungkapnya.
"Untuk jabatan di Pertamina pernah memimpin depot di Maumere Flores (1995-1999), kepala depot Kotabaru (1999-2002), kepala depot di Pontianak (2002-2006), dan pernah di Perak Surabaya. Hingga akhirnya saya pensiun di Pertamina pada 2013," jelas Hadi Ismanto menutup obrolan di Youtube Pinggir Lapangan.
Kisah Hadi Ismanto adalah cerminan dari perjalanan seorang legenda sepak bola yang tidak hanya berhasil di lapangan, tetapi juga dalam kehidupan di luar sepak bola. Dedikasinya terhadap Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia tidak hanya membuatnya menjadi legenda, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola yang hebat.
Dengan segala prestasi dan dedikasi yang dia tunjukkan, Hadi Ismanto tetap menjadi sosok yang dihormati dan diingat oleh para penggemar sepak bola, tidak hanya di Surabaya, tetapi juga di seluruh Indonesia. Sepanjang hidupnya, Hadi Ismanto telah menorehkan sejarah yang tak terlupakan dalam dunia sepak bola Indonesia.