JawaPos.com — Kejadian mengejutkan terjadi pada pertandingan final leg kedua Liga 2 2023/2024 antara Semen Padang dan PSBS Biak di Stadion Haji Agus Salim, Padang, Sabtu, (9/3). Situasi itu telah membawa dampak serius bagi tim tuan rumah.
Suporter Semen Padang menyalakan flare yang mengakibatkan suasana stadion menjadi tidak kondusif, bahkan pertandingan terpaksa dihentikan sementara waktu.
Menit-menit akhir pertandingan menjadi mencekam ketika flare tiba-tiba jatuh di lapangan, dipadukan dengan asap yang menyelimuti stadion. Pemain dari kedua tim terpaksa menunggu dalam keadaan tidak nyaman, namun situasinya semakin memburuk ketika sejumlah penonton masuk ke lapangan. Akibatnya, pertandingan pun terhenti untuk jangka waktu yang lebih lama.
Semen Padang, selain harus menerima kekalahan dan kegagalan meraih gelar juara, kini menghadapi ancaman sanksi berat dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Seperti yang pernah dialami oleh Persib Bandung pada 2018, ketika mereka terkena sanksi karena penyalaan flare oleh suporter, Semen Padang juga berpotensi mengalami denda yang besar. Persib dijatuhi denda sebesar Rp200 juta atas pelanggaran tersebut.
Tidak hanya itu, sanksi lebih berat lagi bisa menimpa Semen Padang, yaitu kemungkinan menggelar pertandingan tanpa adanya dukungan dari suporter. Hal ini telah terjadi pada Persib Bandung setelah mereka terkena sanksi serupa akibat insiden dengan suporter saat melawan PSIS Semarang.
Kepala tim Semen Padang, Ahmad Haris, mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi tersebut. "Kami sangat menyesalkan perilaku beberapa suporter yang tidak bertanggung jawab. Ini bukan hanya merugikan tim, tapi juga mencoreng nama baik klub," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komdis PSSI, Ahmad Widianto, menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan penyelidikan terhadap insiden tersebut. "Kami akan menindak tegas siapapun yang terlibat dalam pelanggaran aturan, termasuk klub dan suporter," katanya.
Reaksi netizen terhadap insiden ini juga tidak kalah pedas. Mereka mengecam perilaku suporter yang merugikan tim kesayangan mereka. "Ini tindakan yang sangat tidak sportif. Suporter harusnya mendukung tim dengan cara yang positif, bukan malah membuat kerusuhan," komentar seorang netizen.
Situasi ini menjadi pelajaran berharga bagi Semen Padang dan klub-klub lainnya untuk lebih ketat dalam mengawasi perilaku suporter mereka. Dukungan suporter memang penting, namun harus diiringi dengan perilaku yang sportif dan tidak merugikan.
Dengan demikian, Semen Padang kini berada dalam situasi yang menantang, harus menghadapi potensi sanksi berat dan merumuskan langkah-langkah untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.