JawaPos.com — Antonio Claudio, atau yang akrab disapa Toyo, adalah sosok yang tidak asing lagi di dunia sepak bola Indonesia. Pria asal Brasil ini telah menjalani perjalanan yang panjang dan penuh prestasi dalam dunia sepak bola Tanah Air.
Namun, sedikit yang tahu bahwa semua bermula dari Ranah Minang, tempat di mana kisah perjalanan Toyo di dunia sepak bola dimulai.
Pada 2021, Bali United resmi mengumumkan bahwa mereka telah memilih Antonio Claudio sebagai asisten pelatih baru mereka, menggantikan posisi Eko Purdjianto yang melanjutkan karier sebagai pelatih kepala Persis Solo.
Dengan pengalaman yang dimilikinya, Toyo ditugaskan untuk mendampingi pelatih kepala, Stefano ‘Teco’ Cugurra.
Nama lengkap: Antonio Claudio de Jesus Oliveira
Tanggal lahir: 16 April 1973 (usia 50 tahun)
Tempat lahir: Brasil
Tinggi: 1,80 m (5 kaki 11 inci)
Posisi: Bek
Karier senior:
2001−2004: Persija Jakarta
2005: Semen Padang
2006: Persija Jakarta
2007: Persib Bandung
2007−2009: Persibom Bolaang Mongondow
2009−2010: Semen Padang
2010−2011: Persih Tembilahan
2011−2013: Chiangrai United
2014: Villa 2000
Karier kepelatihan:
2018–2019: Asisten pelatih di Persija Jakarta
2020: Asisten pelatih di Borneo
2021–sekarang: Asisten pelatih di Bali United
Namun, kisah Toyo tidak bisa dipisahkan dari sepak bola Sumatra Barat, khususnya Semen Padang dan PSP Padang. Meskipun telah berkiprah di berbagai klub di Indonesia, seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan banyak lagi, petualangannya dimulai dari Ranah Minang.
Pada 1994, Antonio Claudio memulai karier sepak bolanya di Indonesia dengan bergabung bersama Semen Padang. Ini adalah langkah awal yang membawa Toyo ke dalam dunia sepak bola Indonesia. Kemudian, dia juga memperkuat PSP Padang selama tiga musim berikutnya.
Keberhasilan Toyo di lapangan membuatnya menjadi pemain asing pertama yang mendapat julukan keramat "tonggak tuo". Sebagai seorang center bek yang tangguh dan kukuh, Toyo seperti tonggak tua Rumah Gadang, memberikan pondasi yang kuat bagi timnya.
Salah satu momen bersejarah dalam karier Toyo adalah ketika dia menjadi kapten Semen Padang ketika tim tersebut pertama kali berhasil masuk ke Liga Super Indonesia pada 2010. Namun, prestasi terbesarnya adalah ketika dia meraih gelar juara Liga Indonesia bersama Persija Jakarta pada musim 2000/2001. Sebagai kapten tim Macan Kemayoran, Toyo menjadi legenda bagi klub tersebut.
Kini, setelah mengakhiri karier bermainnya, Antonio Claudio fokus pada dunia kepelatihan. Bali United menjadi tempat di mana Toyo mengaplikasikan ilmu dan pengalamannya dalam membimbing para pemain. Namun, meskipun telah melanglang buana di dunia sepak bola, Toyo tidak pernah melupakan asal-usulnya di Ranah Minang.
Perjalanan panjang Toyo dalam sepak bola Indonesia tidak hanya ditandai dengan kesuksesannya sebagai pemain, tetapi juga sebagai seorang mualaf. Pada 2000, Toyo memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Fakhruz Zaman. Keputusan ini diambilnya dengan kesadaran penuh dan mendapatkan dukungan dari keluarganya.
Setelah memeluk Islam, Toyo merasa nyaman menjalani kehidupannya bersama keluarganya di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-harinya, Toyo juga aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial di komunitasnya.
Dengan segala pengalaman dan prestasi yang dimilikinya, Antonio ‘Toyo’ Claudio tetap menjadi salah satu sosok yang dihormati dan diapresiasi dalam dunia sepak bola Indonesia. Kisah perjalanannya dari Ranah Minang hingga legenda bersama Semen Padang dan klub-klub lainnya akan selalu dikenang dan diinspirasi oleh banyak orang.