JawaPos.com - Arsenal menutup bursa transfer Januari dengan status pemuncak klasemen Premier League. Namun, di balik posisi menguntungkan tersebut, keputusan The Gunners untuk tidak mendatangkan pemain baru justru menyisakan tanda tanya besar.
Pengalaman musim lalu menjadi pengingat bahwa jendela transfer musim dingin yang sepi bisa berdampak mahal dalam perburuan gelar.
Melansir Football London, Mikel Arteta dan kepala transfer Andrea Berta sebenarnya sudah menyadari sejak lama bahwa penguatan skuad adalah kebutuhan.
Kegagalan meraih gelar musim lalu menjadi alarm keras, bahkan sebelum musim itu benar-benar berakhir. Arteta pun terlihat ingin bergerak lebih awal, bukan sekadar menunggu musim panas.
Situasi serupa sempat terjadi pada periode yang sama tahun lalu. Ketika Arsenal menang telak 5-1 atas Manchester City pada awal Februari, mereka masih tertinggal enam poin dari Liverpool. Meski performa tim terlihat meyakinkan, skuad Arsenal saat itu sangat tipis, terutama di lini depan.
Cedera panjang Gabriel Jesus pada Januari membuat opsi penyerang semakin terbatas. Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli juga belum sepenuhnya pulih, sehingga Kai Havertz praktis tak memiliki banyak pesaing di lini serang.
Arsenal sempat mencoba langkah terakhir dengan memburu Ollie Watkins, tetapi upaya tersebut gagal, sebuah kegagalan yang jelas membuat Arteta frustrasi.
“Kami memiliki niat yang jelas, yaitu selalu ada jendela terbuka untuk mengeksplorasi peluang meningkatkan skuad kami dengan pemain yang dapat memberikan dampak,” ujar Arteta setelah jendela transfer ditutup.
“Kami belum mencapainya, jadi kami kecewa dalam hal itu, tetapi kami juga sangat menyadari bahwa kami hanya ingin mendatangkan pemain-pemain dengan tipe tertentu dan kami harus sangat disiplin dalam hal itu, dan saya pikir kami akan melakukannya.”
Arteta juga menekankan bahwa pendekatan Arsenal bukan soal berjudi, melainkan soal realitas skuad yang ada.
“Ini bukan perjudian, ini kenyataan. Saya pikir kita juga harus menghadapi kenyataan yang kita miliki. Kita memiliki pemain-pemain yang kita miliki, beberapa di antaranya dipinjamkan. Kita belum pernah memiliki skuad sebanyak 35, 40, 45 pemain.”
Ia melanjutkan, “Banyak klub lain memiliki 45 pemain dalam daftar mereka. Kita tidak memiliki jumlah pemain sebanyak itu saat ini. Itulah kenyataan kita. Kita telah melakukan banyak hal dalam beberapa tahun terakhir, dan itulah posisi kita sekarang.”
“Jadi kita juga harus berkembang di sana dan memiliki lebih banyak pemain dari akademi dan pemain yang sudah ada di sini untuk beradaptasi lebih lama. Itu adalah pekerjaan yang permanen dan terus berkembang, dan kita harus selalu waspada.”
Pada akhirnya, tak ada yang benar-benar tahu apakah tambahan satu atau dua pemain di Januari akan cukup untuk mengubah nasib Arsenal musim lalu.
Yang jelas, cedera Havertz saat kamp latihan cuaca hangat semakin memperburuk keadaan. Ia bahkan baru kembali tampil di dua laga terakhir musim tersebut.
Meski Saka dan Martinelli akhirnya kembali, ditambah beberapa gol penting dari penyerang pengganti, jarak poin dengan Liverpool tetap tak terkejar. Arsenal finis di posisi kedua dengan selisih 10 poin, sementara perjalanan mereka di Liga Champions terhenti di semifinal.
Kini, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Arsenal berada dalam posisi yang relatif lebih kuat, baik dari segi klasemen maupun kedalaman skuad.
Namun, seperti biasa dalam perburuan gelar, hanya waktu yang bisa menjawab apakah keputusan untuk menahan diri di bulan Januari akan menjadi langkah bijak atau justru penyesalan di akhir musim.