JawaPos.com - Vinicius Junior kembali menjadi starter saat Real Madrid menghadapi Albacete pada Rabu (14/1) malam di ajang Copa del Rey. Namun, laga tersebut kembali diwarnai noda lama yang tak kunjung hilang dari sepak bola Spanyol.
Melansir Defensa Central, di Stadion Carlos Belmonte, winger asal Brasil itu lagi-lagi menjadi sasaran hinaan rasis dari sebagian pendukung tuan rumah.
Meski tidak masuk dalam skuad pertandingan, Thibaut Courtois ikut merasakan amarah yang besar. Kiper utama Real Madrid itu secara terbuka mengecam perilaku para pelaku rasisme lewat media sosial.
Ia menyebut kejadian tersebut sebagai sesuatu yang “memalukan” sekaligus membela rekan setimnya dengan nada yang jelas penuh emosi.
Menjelang laga babak 16 besar Copa del Rey yang berujung pada tersingkirnya Real Madrid, sekelompok suporter Albacete dilaporkan berkumpul di sekitar stadion dan melontarkan nyanyian bernada rasis.
“Kau monyet, Vinicius kau monyet,” teriak mereka, sebuah chant yang sayangnya sudah terlalu sering terdengar di berbagai stadion.
Courtois Membela Vinicius Melawan Para Rasis
Nyanyian-nyanyian semacam ini bukan hal baru, dan justru itulah yang membuat Courtois semakin muak. Melihat potongan video yang beredar di media sosial, kiper asal Belgia itu langsung bereaksi keras melalui Instagram Stories.
“Cukup sudah rasisme! Ini memalukan,” tulis Courtois, menanggapi langsung insiden di Albacete.
La Liga juga ikut angkat suara dan mengecam kejadian tersebut. Dalam pernyataannya, mereka menegaskan: “La Liga mengecam setiap penghinaan rasis. Di dalam dan di luar lapangan, tidak ada tempat untuk para pembenci. Vinícius, La Liga mendukungmu.”
Dukungan juga datang dari agensi Vinicius, Roc Nation Sports. Melalui Instagram, mereka mengirim pesan solidaritas kepada sang pemain: “Kami mendukung Vini Jr. Sepak bola harus berbuat lebih baik.”
Bukan Insiden Tunggal
Apa yang terjadi di Albacete hanyalah satu dari sekian banyak episode kelam yang dialami Vinicius sejak bergabung dengan Real Madrid.
Ia telah berulang kali menjadi korban penghinaan rasis di berbagai stadion besar Spanyol, mulai dari Anoeta, Metropolitano, Mestalla, Son Moix, Vallecas, hingga Montjuic.
Rentetan insiden ini menegaskan bahwa masalah rasisme belum benar-benar terselesaikan. Meski beberapa pelaku telah dijatuhi hukuman dan sebagian suporter dilarang masuk stadion, kasus serupa terus berulang.
Situasi ini seolah menguatkan pernyataan Vinicius di masa lalu, yang sempat memicu kontroversi luas. Ia menilai bahwa rasisme masih menjadi masalah serius dalam sepak bola Spanyol dan belum diberantas sepenuhnya.
“Jika keadaan tidak berubah pada tahun 2030, saya pikir Piala Dunia perlu mengubah lokasi karena para pemain tidak merasa nyaman dan aman bermain di negara di mana mereka mungkin mengalami rasisme.”
“Ini rumit, tetapi saya percaya dan ingin melakukan segala yang saya bisa untuk membuat perubahan karena ada banyak orang di Spanyol, atau bahkan mayoritas, yang tidak rasis, tetapi ada kelompok kecil yang akhirnya memengaruhi citra negara yang begitu menyenangkan untuk ditinggali,” kata Vinicius beberapa tahun lalu.
Kekalahan Real Madrid di Copa del Rey memang menyakitkan. Namun, bagi Vinicius dan rekan-rekannya, luka akibat rasisme terasa jauh lebih dalam. Dan, itulah yang membuat kemarahan Courtois kali ini terdengar begitu keras dan beralasan.