← Beranda

Legenda Real Madrid Raphael Varane Ungkap Realita Gelap Dunia Sepak Bola, Tekanan Mental di Balik Gemerlap Stadion!

M Shofyan Dwi KurniawanSabtu, 6 Desember 2025 | 00.50 WIB
Raphael Varane. (ig @raphaelvarane)

 

JawaPos.com - Dari luar, dunia sepak bola tampak seperti surga: gemerlap stadion, sorotan media, kontrak besar, dan pujian tanpa henti. Namun seperti yang diungkapkan Raphael Varane, mantan bintang Real Madrid dan juara dunia bersama Prancis, kenyataan di balik layar jauh lebih kompleks bahkan gelap.

Dalam sebuah wawancara terbaru, Varane berbicara blak-blakan mengenai masa-masa berat yang pernah ia alami. Kisahnya menegaskan satu hal: tekanan mental dalam sepak bola elite sering kali lebih berat daripada yang terlihat.

Varane Bahas Isu Kesehatan Mental

Varane datang ke Real Madrid sebagai remaja berusia 18 tahun penuh harapan. Namun perjalanan awalnya ternyata jauh dari kata mulus.

"Setelah tiba di Real Madrid, saya menghadapi masalah pertama. Saya berusia 18 tahun dan belum menjalani masa remaja yang normal. Saya sendirian, berlatih sepanjang waktu dan jarang bermain. Saya merasa impian saya memudar," ungkapnya.

Ia menambahkan bagaimana situasi itu berubah menjadi beban mental yang sangat berat.

"Di lapangan, saya benar-benar fokus. Tapi kemudian, saya tidak ingin pulang. Itu depresi. Saya tidak menikmati apa pun lagi."

Varane bahkan mengakui dirinya merasa bahwa penderitaan psikologis adalah “harga” menjadi pesepakbola top.

"Bagi saya, itulah harga yang harus dibayar. Saya pikir kita harus melalui semua itu untuk sukses. Saya sedang memulai karier dan saya bertanya pada diri sendiri ribuan pertanyaan: 'Apakah saya membuat keputusan yang tepat dengan datang ke sini? Haruskah saya pergi? Haruskah saya membicarakannya?'"

“Saya terjebak dalam kesepian, merasa segalanya hancur,” lanjutnya.

Ironi Piala Dunia: Puncak Karier yang Justru Menjatuhkan

Banyak pemain bermimpi meraih Piala Dunia, namun bagi Varane, kemenangan di Rusia pada 2018 justru memperburuk tekanan mentalnya.

"Periode setelah Piala Dunia 2018 sangat sulit. Anda meraih impian, berada di puncak sepak bola dunia, lalu datanglah masa-masa sulit."

Ia menyebut pandemi COVID-19 sebagai momen yang secara tak terduga membantunya bangkit.

"Saya ingat pandemi membantu saya keluar dari kondisi depresi itu. Saya mampu memproses semua emosi itu dan memulai kembali hidup saya. Sungguh paradoks, karena masa itu sangat sulit bagi banyak orang dalam hal kesehatan mental."

Kalender Sepak Bola yang “Kacau”

Varane juga menyoroti jadwal sepak bola yang semakin padat sebagai salah satu akar masalah bagi para pemain.

"Kalender memang masalah besar. Saya paham ini bisnis, tapi kami kehilangan kualitas sebagai sebuah pertunjukan. Entah kami tidak bermain 100%, atau kami bermain seperti robot."

Menurutnya, padatnya pertandingan tidak hanya meningkatkan risiko cedera fisik, tetapi juga mental.

"Ada lebih banyak cedera fisik dan, tentu saja, dampaknya terhadap kesehatan mental para pemain sangat signifikan. Itu salah satu alasan saya mundur."

"Kalendernya kacau. Saya tidak punya waktu istirahat yang memungkinkan saya pulih secara fisik maupun psikologis."

“Sepak bola tidak seindah kelihatannya”

Menutup ceritanya, Varane memberikan refleksi jujur tentang industri sepak bola saat ini.

"Sepak bola itu seperti masyarakat, dengan semacam dorongan yang tak terkendali. Kita harus selalu berbuat lebih banyak, selalu lebih cepat. Kita butuh istirahat. Bukan karena kita tidak ingin bermain, tetapi karena kita ingin bermain lebih baik."

“Idenya bukan untuk lari dari persaingan, tetapi untuk berada di tempat yang tepat secara mental, karena jika Anda terus melampaui batas, cepat atau lambat sesuatu akan rusak,” pungkasnya.

Varane mungkin sudah meninggalkan Bernabéu bertahun-tahun lalu, tapi pengakuannya menjadi pengingat kuat bahwa di balik trofi dan kejayaan, para pesepakbola adalah manusia yang juga bisa merasa rapuh.

EDITOR: Hendra