JawaPos.com - Barcelona kembali pulang dari London dengan kepala tertunduk. Kekalahan 3-0 dari Chelsea di Stamford Bridge bukan hanya memukul mental tim, tapi juga memicu gelombang kritik dari berbagai pihak termasuk dari legenda Liga Primer, Alan Shearer.
The Blues tampil dominan sejak menit pertama, memanfaatkan betul celah besar di lini belakang Barcelona. Gol bunuh diri Jules Kounde membuka keran skor, disusul gol Estevao dan Liam Delap yang memastikan kemenangan telak tuan rumah.
Shearer: Barcelona Bertahan dengan “Cara Gila”
Melansir Daily Mail, melihat bagaimana Chelsea berkali-kali menembus garis pertahanan tinggi Barcelona, Shearer tampak tak percaya. Dalam komentarnya untuk Amazon Prime, ia memberikan evaluasi yang sangat tajam.
"Mereka terus melakukannya berulang kali. Chelsea pantas mendapatkannya. Mereka melakukannya dengan sempurna lagi," ujar Shearer.
Ia melanjutkan dengan kritik yang jauh lebih pedas.
"Saya pernah melihat beberapa jebakan offside selama karier saya, tapi ini benar-benar gila, sungguh," tambahnya.
Bahkan, mantan striker Newcastle itu menggambarkan cara Barcelona bertahan dengan sembrono.
“Seolah-olah ada empat orang bodoh yang berdiri di sana dan berkata 'bagaimana kalian ingin melakukannya, teman-teman?'," ungkapnya.
“Kadang-kadang sulit dipercaya, saya kehilangan kata-kata betapa mudahnya bagi Chelsea untuk lolos dan betapa gilanya mereka terkadang bermain," imbuhnya.
Komentar Shearer mencerminkan kekhawatiran banyak pihak, bahwa lini belakang Barcelona tampak terlalu mudah dipatahkan, terutama ketika menggunakan garis pertahanan super tinggi yang mereka andalkan musim ini.
Garis Pertahanan Tinggi Barcelona Kembali Jadi Sorotan
Barcelona musim ini memang kerap disorot karena strategi agresif mereka. Bukan hanya saat menyerang, tapi juga dalam menekan lawan dengan garis pertahanan yang jauh di depan.
Pendekatan ini memberi keuntungan dalam penguasaan bola, namun bisa menjadi bumerang ketika menghadapi tim cepat dan direktif seperti Chelsea.
Gol-gol yang bersarang di gawang Barça semakin memperkuat perdebatan eksternal tentang taktik tersebut.
Namun, bagi Hansi Flick, tak ada diskusi. Ia sudah berkali-kali menegaskan bahwa ia tidak akan mengubah pendekatannya, karena struktur bermain itulah yang membawa Barcelona kembali bersaing di level tertinggi musim lalu.
Meski strategi ini terbukti efektif dalam banyak kesempatan, laga melawan Chelsea kembali menunjukkan kelemahan klasik, yakni ketika pemain belakang tak kompak atau kalah cepat, jebakan offside berubah menjadi mimpi buruk.
Kini tekanan ada pada Flick dan para pemain belakang untuk membuktikan bahwa taktik ini memang layak dipertahankan, bukan sekadar idealisme yang membahayakan.
Yang jelas, dengan kritik sekeras itu dari sosok sekelas Alan Shearer, Barcelona tidak hanya dituntut bereaksi—mereka harus menemukan solusi nyata. (*)