JawaPos.com — Baru-baru ini, Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) mengumumkan bahwa proses naturalisasi pemain asal Belanda, Mats Deijl, tidak dapat dilanjutkan. Alasannya, regulasi FIFA menyatakan bahwa Deijl tidak memenuhi syarat kelayakan naturalisasi karena darah keturunannya terlalu jauh.
Mats Deijl adalah pemain klub Go Ahead Eagles di Belanda, dan FAM sempat mengklaim bahwa Deijl memiliki darah keturunan Malaysia. Mereka menyebut bahwa dia memiliki keturunan Malaysia dari nenek moyangnya, namun ini tidak sesuai dengan aturan FIFA.
Dalam regulasi FIFA, seorang pemain bisa dinaturalisasi jika memiliki darah keturunan paling jauh dari kakek atau neneknya. Namun, dalam kasus Mats Deijl, darah keturunannya berasal dari buyutnya, yang membuat proses naturalisasi ini tidak valid.
FAM menjelaskan dalam pernyataan resminya bahwa mereka telah menerima konfirmasi dari FIFA terkait hal ini. "FIFA memastikan bahwa Mats Deijl tidak memenuhi persyaratan untuk bergabung dengan skuad Harimau Malaya," bunyi pernyataan resmi dari FAM.
Menariknya, dalam rilis resmi tersebut terungkap bahwa nenek dari ibu Mats Deijl lahir di Singapura pada 1893. Hal ini memicu kontroversi di kalangan netizen, terutama dari Singapura.
Seorang netizen Singapura dengan akun X @yhanRMCF mengekspresikan kekecewaannya atas klaim tersebut. "NENEK MOYANGNYA LAHIR DI SINGAPURA LOL. Berhentilah mencoba mengklaim segalanya," tulisnya.
Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari netizen lainnya, baik dari Singapura maupun Indonesia. Banyak yang sepakat bahwa Malaysia sering mengklaim sesuatu yang bukan miliknya.
Netizen Indonesia juga turut berkomentar, memperkuat argumen bahwa Malaysia kerap mengklaim budaya atau warisan dari negara lain. "Mereka memang sering mengklaim segalanya," tulis akun X @razqisatulagi.
Tidak sedikit pula netizen yang mengingatkan bahwa Malaysia sudah sering terlibat dalam kontroversi terkait klaim budaya, termasuk soal warisan budaya Indonesia. "Orang Singapore generally apakah tahu kalau Malays suka claim budaya Indonesia Bang???" tambah akun X @v1ncnz.
Kasus ini memunculkan perdebatan panjang mengenai identitas nasional dan sejarah wilayah. Pada saat nenek Mats Deijl lahir, Singapura masih menjadi bagian dari Malaysia, sebelum akhirnya menjadi negara yang berdaulat pada 1965.
Banyak yang mempertanyakan apakah klaim Malaysia terhadap Mats Deijl valid mengingat status Singapura saat itu. Namun, berdasarkan aturan FIFA, hal ini tetap tidak mengubah fakta bahwa Deijl tidak memenuhi syarat untuk dinaturalisasi oleh Malaysia.
Kontroversi semacam ini bukan pertama kali terjadi di Asia Tenggara, terutama di bidang sepak bola. Proses naturalisasi pemain keturunan kerap menjadi topik hangat di berbagai negara, termasuk Malaysia, Indonesia, dan Singapura.
Malaysia sendiri sudah beberapa kali mencoba menaturalisasi pemain asing yang memiliki hubungan darah dengan negara tersebut. Namun, dalam beberapa kasus, proses tersebut terbentur oleh regulasi yang ketat dari FIFA.
Kasus Mats Deijl ini memperlihatkan bagaimana pentingnya memahami batasan dalam klaim naturalisasi. Terlepas dari hubungan darahnya dengan Malaysia, aturan FIFA menjadi penghalang utama bagi pemain berusia 27 tahun tersebut untuk memperkuat Harimau Malaya.
Di sisi lain, netizen Singapura merasa klaim Malaysia terhadap Mats Deijl tidak relevan, mengingat nenek moyangnya lahir di Singapura. Mereka melihat ini sebagai bagian dari pola klaim Malaysia terhadap sesuatu yang bukan milik mereka.
Kritik terhadap Malaysia soal klaim semacam ini bukanlah hal baru. Sebelumnya, negara tersebut juga mendapat sorotan karena dianggap sering mengklaim warisan budaya dari negara tetangga seperti Indonesia.
Sebagai contoh, tarian tradisional, makanan, dan seni budaya dari Indonesia kerap diklaim oleh Malaysia sebagai bagian dari warisan mereka. Ini menambah panjang daftar perseteruan budaya antara kedua negara yang bertetangga ini.
Di tengah panasnya perdebatan ini, banyak yang berharap agar negara-negara di Asia Tenggara bisa lebih menghormati satu sama lain. Meski demikian, kasus Mats Deijl ini kembali menegaskan bahwa sejarah dan identitas bisa menjadi isu sensitif di kawasan ini.
Federasi Sepak Bola Malaysia sendiri sudah mencoba untuk menjelaskan bahwa mereka hanya mengikuti proses berdasarkan dokumentasi yang tersedia. Mereka tidak bermaksud untuk memicu kontroversi, tetapi sekadar ingin memperkuat tim nasionalnya.
Namun, bagi netizen Singapura, klaim ini tetap memancing reaksi emosional. Mereka menilai bahwa Malaysia harus lebih selektif dan berhenti mengklaim sesuatu yang tidak sepenuhnya milik mereka.
Mats Deijl sendiri belum memberikan tanggapan terkait kontroversi ini. Namun, perdebatan di dunia maya terus bergulir, terutama di platform media sosial seperti X (sebelumnya Twitter).
Bagi penggemar sepak bola di Asia Tenggara, kasus ini juga menyoroti betapa ketatnya aturan FIFA dalam hal naturalisasi pemain. Meski memiliki hubungan darah dengan suatu negara, hal tersebut tidak serta-merta menjamin seorang pemain bisa dinaturalisasi.
Kini, dengan kegagalan proses naturalisasi ini, masa depan Mats Deijl di tim nasional Malaysia tampaknya sudah berakhir. Malaysia harus mencari cara lain untuk memperkuat skuad Harimau Malaya tanpa kehadiran pemain yang mereka harapkan bisa menjadi andalan.
Sementara itu, netizen terus berdebat di media sosial, mempertanyakan apakah klaim Malaysia terhadap Mats Deijl benar-benar valid atau hanya upaya untuk mendapatkan keuntungan di lapangan.
Kasus ini sekaligus menjadi pelajaran bagi negara-negara lain yang ingin menaturalisasi pemain asing. Regulasi yang ketat dari FIFA tidak bisa diabaikan, dan setiap proses harus dilakukan dengan teliti agar tidak menimbulkan kontroversi seperti ini.
Pada akhirnya, kejadian ini menambah panjang daftar perdebatan mengenai identitas dan klaim nasional di kawasan Asia Tenggara. Dan, bagi Mats Deijl, perjalanan karier internasionalnya mungkin harus menemukan jalur lain setelah kegagalan proses naturalisasi ini.
Bagi netizen Singapura dan Indonesia, kasus ini kembali mengingatkan betapa pentingnya menjaga identitas nasional dan tidak mudah menyerahkannya kepada pihak lain. "Berhentilah mencoba mengklaim segalanya," kata mereka, menutup perdebatan yang tampaknya masih akan terus berlangsung.