← Beranda

Jadi Korban Pelecehan Seksual Online Bisa Bikin Anak Trauma, Orang Tua Wajib Paham Jenis Cyberbullying Ini

Hildaniar NovitasariSenin, 6 November 2023 | 03.10 WIB
Ilustrasi bullying

JawaPos.com - Sangat miris memang melihat maraknya kasus pelecehan pada anak yang baru-baru ini terjadi. Bagaimana tidak? pelecehan seksual bahkan menjadi kasus kejahatan tertinggi di Indonesia.

Perilaku kriminal seperti ini sudah seharusnya mendapat perhatian lebih dan tidak bisa dipandang remeh, karena menyangkut dampak psikologis yang nantinya dirasakan oleh anak yang menjadi korban.

Pelecehan seksual masuk dalam kategori cyberbullying karena kasus tersebut tidak hanya dilakukan secara langsung, namun pelaku juga biasa melakukannya secara online.

Baca Juga: Miris, Bullying Menjadi Masalah Serius Bagi Satuan Pendidikan, Ketahui Akar Masalah dan Upaya Pencegahannnya

Cyberbullying merupakan perilaku perundungan yang agresif melalui teknologi digital. Biasanya kasus seperti ini sering ditemukan di media sosial, platform chatting, bahkan aplikasi game online.

Contoh perilaku Cyberbullying dalam kasus ini adalah mengirim pesan berbau seksual dan mengancam untuk mengirimkan gambar yang berkaitan dengan pornografi, bahkan pelaku juga tak segan untuk menyebarkan aib-aib korban.

Sosial media kini menjadi faktor utama tingginya kasus pelecehan online pada anak. Hal tersebut disebabkan anak-anak yang memang masih belum bisa memahami penggunaan internet secara baik dan bijak.

Baca Juga: Siswa SD di Tambun Alami Bullying Hingga Kaki Diamputasi. Wali Kelas: Itu Cuma Bercanda, Udah Biasa

Parahnya, Cyberbullying ini meninggalkan jejak digital yang bisa membuat korban semakin tersudutkan. Tak jarang para korban mengalami trauma mendalam saat sudah terjerat kasus pelecehan seksual online seperti ini.

Lalu apakah benar bahwa media sosial bisa memancing perlakuan kekerasan dan pelecehan seksual pada anak?

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) hal tersebut bisa saja terjadi mengingat media sosial bukan hanya berupa tulisan, namun juga bisa menampilkan sebuah gambar, foto, video, dan sebagainya.

Baca Juga: Bocah 12 Tahun, Jadi Sasaran Bullying Teman Sekolahnya di SDN 09 Jatimulya, Korban Sampai harus Diaputasi

Mereka bisa mengakses dengan mudah dan dapat belajar dari media sosial itu. Bahkan, Kominfo sering mendapat laporan terkait web yang menampilkan hal-hal kurang senonoh.

Media sosial memang memiliki dampak positif dan negatif tergantung bagaimana pengguna menggunakan alat tersebut dalam kehidupan sehar-harinya.

Disini peran orang tua lah yang sangat penting untuk mengawasi anak-anak mereka. Komunikasi orang tua dengan anak harus dijalin secara harmonis agar sang anak merasa nyaman berada di rumah dan merasa bebas untuk bercerita.

Orang tua juga bisa memberikan pemahaman dan nilai-nilai kepada anak, seperti misalnya memberitahu anak tentang apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak boleh. kemudian memberi pemahaman terkait apa yang membahayakan dan apa yang tidak membahayakan.

Pola asuh terhadap anak dalam memberikan akses penggunaan gadget turut menjadi sorotan utama dalam kasus ini.

Baca Juga: Bikin Afifah Riyad Babak Belur, Sikap Regi Nazlah Dibongkar Teman SMP, Sering Lakukan Tindak Bullying?

Orang tua berkewajiban untuk terus mengontrol anak dalam menggunakan gadgetnya seperti memfilter tontonan, aplikasi yang digunakan, dan permainan yang sedang dimainkan sang anak ketika memegang gadget.

EDITOR: Nicolaus